Elite Politik Sedang Alami Krisis Nasionalisme
Minggu, 18 Agustus 2013 | 16:36 WIB
Jakarta - Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 68 pada Sabtu (17/8) dirasa kurang meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sepinya perayaan itu dinilai karena masyarakat justru hidup dalam keprihatinan sementara para elite malah lebih fokus mempersiapkan diri menjelang pemilihan umum.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito, mengatakan kurang meriahnya perayaan kemerdekaan bukan berarti semangat nasionalisme masyarakat berkurang.
"Saya melihat dalam sudut pandang masyarakat yang sekarang sedang prihatin melihat kesenjangan sosial semakin lebar. Ini bukan berarti rakyat krisis nasionalisme. Ini cara rakyat menunjukkan keprihatinan. Artinya mereka sadar bahwa mereka belum merdeka seratus persen," kata Ari yang dihubungi Minggu, (18/8).
Menurut Arie, justru dari sisi politik, elite yang terkesan mengabaikan perayaan kemerdekaan dan lebih sibuk mengurus pemilu dan jabatan.
"Artinya elite politik kita bermental parokial, lebih mementingkan kepentingan kelompok. Dari sudut pandang ini makanya krisis nasionalisme justru ada di kalangan elite politik. Mereka lebih baik membeli bendera partai daripada bendera bangsa sendiri, dari sisi itu mereka tercermin bahwa makin eksklusifnya parpol berlomba-lomba," tuturnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa cerminan penguasa juga tampak bahwa semakin banyak para elite politik tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Ini penjajahan baru oleh para koruptor memakan sendiri daging rakyatnya, dua kenyataan ironis inilah yang sekarang terjadi," ucapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




