Banyuwangi Usung Sport Tourism Lewat Tour de Ijen 2013

Jumat, 1 November 2013 | 21:11 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Panorama Pantai Pulau Merah yang menjadi salah satu rute Banyuwangi Tour de Ijen 2013
Panorama Pantai Pulau Merah yang menjadi salah satu rute Banyuwangi Tour de Ijen 2013 (Istimewa)

Banyuwangi - Perhelatan wisata olahraga (sport tourism) mulai menjadi andalan untuk menggenjot sektor pariwisata. Salah satunya, seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur.

Setelah sukses menggelar International Surfing Competition di Pantai Pulau Merah pada bulan Mei yang lalu, daerah berjuluk The Sunrise of Java ini akan menggelar International Banyuwangi Tour de Ijen (BTDI) pada 2-5 November 2013, yang diikuti ratusan pembalap dari 15 tim luar negeri dan 6 tim dalam negeri.

"Tour de Ijen merupakan upaya kami dalam menggelorakan wisata minat khusus (special interest tourism), khususnya sport tourism dengan mengeksplorasi keindahan panorama alam di Banyuwangi. Kami ingi memompa industri pariwisata melalui olahraga," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Jumat (1/11).

Lebih lanjut Anas mengatakan, BTDI menjadikan olahraga sebagai pintu untuk mengembangkan sektor pariwisata. Dalam ajang ini, para pembalap akan berlomba menaklukkan rute sepanjang 606 kilometer yang melintasi kawasan agraris nan subur, Pantai Pulau Merah dengan panorama dan ombak menawan, perkebunan dengan aroma kopi nan harum, hingga kawasan Kawah Ijen yang terkenal dengan api birunya (blue fire) yang abadi.

"Kami ingin menunjukkan kepada dunia, Banyuwangi punya destinasi wisata dan sumberdaya alam yang luar biasa. Lewat BTDI, diharapkan muncul efek pemasaran yang baik untuk mengajak wisatawan berkunjung ke Banyuwangi," tambah Anas.

Saat kali pertama digelar tahun lalu, lanjut Anas, BTDI sukses menjadi pusat perhatian karena mempunyai rute yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik dan terekstrem di Asia untuk tanjakan balap sepeda.

"Setelah kami menyelenggarakan Tour de Ijen kali pertama tahun lalu, kunjungan wisatawan ke Kawah Ijen meningkat pesat karena para wisatawan akhirnya tahu dari BTDI bahwa infrastruktur ke Kawah Ijen sudah sangat bagus," kata dia.

Anas memaparkan, potensi wisata olahraga di Indonesia perlu terus dioptimalkan mengingat negeri ini punya potensi luar biasa untuk memadukan konsep wisata dan olahraga yang bisa mendonorkan banyak dampak positif untuk kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat.

"Pariwisata sampai saat ini masih menjadi salah satu industri yang bisa mendatangkan keuntungan finansial secara cepat dan efisien. Berbagai varian pariwisata perlu terus dikembangkan, salah satunya sport tourism," tuturnya.

Secara luas, jelasnya, wisata olahraga bisa diartikan sebagai jenis perjalanan untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, baik untuk sekadar rekreasi dengan menonton kegiatan olahraga atau mengunjungi situs olahraga seperti stadion maupun untuk ikut berlaga dalam perlombaan atau kompetisi.

Menurut Anas, sport tourism mempunyai ceruk pasar tersendiri yang cukup potensial, mengingat daya tarik ajang olahraga cukup efektif untuk menyita perhatian publik. Bahkan, di sejumlah negara lain, sport tourism mampu menjadi sarana efektif untuk mengatrol sektor pariwisata.

"Di sejumlah negara maju, bahkan juga sudah ada universitas dengan pusat studi yang fokus pada pengembangan sport tourism. Australia bahkan sampai merasa perlu untuk merancang National Sports Tourism Strategy pada 1999," tutur Anas.

Indonesia sendiri kini mulai rutin menghelat berbagai ajang sport tourism, seperti pelaksanaan Jakarta Marathon, kompetisi selancar, berbagai ajang golf internasional, hingga Audax.

"Negeri ini punya potensi yang sangat besar untuk bisa mengembangkan sport tourism secara optimal," tambah Anas.

Dalam kesempatan terpisah, Race Director BTDI Jamal mengatakan, semua persiapan ajang balap sepeda ini sudah memasuki tahap final 100 persen.

BTDI, menurut Jamal yang merupakan pihak dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI), akan menjadi ikon Indonesia selain Tour de Singkarak.

Jamal yang merupakan warga Malaysia menyatakan, BTDI adalah lomba dengan rute terbaik untuk tanjakan balap sepeda di Asia, mengalahkan Tour de Langkawi di Malaysia.

"Di BTDI pula, tim Jerman dan Denmark mau berpartisipasi kali pertama di Indonesia. Sebelumnya tim Jerman dan Denmark tidak pernah berpartisipasi dalam ajang balap sepeda di Indonesia," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon