Ryan Tirta Yudhistira
Dari Karier hingga Hobi Kuliner
Kamis, 5 Desember 2013 | 11:39 WIB
Setelah melanglang buana bekerja di Australia, Singapura, dan Belanda, Ryan Tirta Yudhistira akhirnya kembali ke Tanah Air. Director Marketing Management Lighting Commercial PT Philips Indonesia ini pun bercerita tentang perjalanan karier hingga hobinya pada selera asal, yakni kuliner Nusantara.
Ryan berkisah, perjalanan kariernya dimulai ketika melanjutkan studi sarjanan strata dua (S2) di Australia. Kemudian, dia bergabung dengan perusahaan multinasional yang berbasis di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, yakni Procter and Gamble (P&G) Australia sekitar tahun 2005. Masih di P&G, kemudian, Ryan ditugaskan di Singapura hampir delapan tahun untuk menangani produk konsumsi (consumer goods).
Setelah itu, dia memutuskan pindah ke perusahaan multinasional elektronik yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda, dengan penempatan masih di Singapura. Ryan langsung menangani bagian regional. "Waktu itu, saya bukan di bagian lighting, melainkan di consumer lifestyle sampai 2011. Kemudian, tahun 2012, saya sempat dipindahkan ke Belanda, dan selanjutnya dipindah ke Indonesia," ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.
Walaupun sudah menduduki posisi direktur, dia mengaku kariernya di Philips masih berpeluang naik lagi. Bukan hanya skala lokal di Indonesia, Ryan berpeluang menduduki posisi hingga CEO, yang memimpin Philips secara global. Hal itu memungkinkan karena tempatnya bekerja merupakan perusahaan multinasional dan karyawannya harus siap ditugaskan di mana pun. Philips saat ini memiliki sekitar 85.000 karyawan di seluruh dunia.
Menurut Ryan, potensi sumber daya menusia Indonesia tidak kalah berkualitas dibanding orang asing. Dia melihat ketika masih kuliah di Australia, mahasiswa asal Asia dan Indonesia mendominasi dalam pemeringkatan nilai akademis. Hanya saja, kekurangannya orang Indonesia cenderung pemalu dan kurang berani berdebat atau melontarkan gagasan secara terbuka. Hal itu pun terbawa hingga ketika bekerja, sehingga kurang sukses dalam karier.
"Orang yang mau sukses di perusahaan multinasional tidak boleh berpikir akan kalah duluan. Yang juga terpenting, lakukan tugas dengan baik, sehingga tidak di cap tong kosong yang nyaring bunyinya. Sesudah menguasai pekerjaan, jangan takut untuk mengungkapkan argumentasi," katanya membagi resep sukses berkarier.
Ryan melanjutkan, kunci sukses dalam berkarier juga ditentukan oleh persepsi atasan. Seseorang mungkin bisa melakukan pekerjaan terbaik di perusahaan, tetapi jika tidak dilihat oleh atasan, kariernya tidak pernah naik. "Persepsi memang sangat penting. Jadi tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetap apakah orang lain menerima pekerjaan kita," ucapnya.
Setelah bekerja belasan tahun di luar negeri, dia pun mengaku cukup terkesan dengan kemajuan yang telah dicapai Indonesia. Sejumlah penyesuaian pun harus dilakukan, terutama dengan kebiasaan di Tanah Air. "Ketika saya kembali juga sudah muncul banyak tren yang baru, harus menyesuaikan lagi, kalau tidak nanti tertinggal," katanya.
Sementara itu, di waktu luang, Ryan memiliki dua hobi yang paling disukai, yakni berolahraga tenis dan berburu kuliner. Dia sangat suka dengan olahraga tenis, sehingga ketika masih kuliah sempat mengikuti beberapa kompetisi. Tetapi semenjak bekerja, dia lebih menyalurkan hobinya itu dengan tujuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
Terkait kuliner, Ryan mengaku sangat suka dengan masakan asli Indonesia. "Belum ada makanan yang lebih enak di mana pun, selain di Indonesia. Di Belanda juga banyak restoran Indonesia, tapi rasanya tetap saja berbeda," imbuhnya.
Pasar Lampu
Dia menyampaikan, industri penerangan memiliki teknologi yang tidak ada habisnya. Terkini, hadir teknologi lampu yang menggunakan dioda (Light-Emitting Diode/LED) yang masih terbilang baru di Indonesia. Philips pun telah mengenalkan produknya yang bisa bertahan selama 15 tahun.
Kehadiran LED memiliki prospek yang bagus di tahun-tahun mendatang. Teknologi pada lampu ini semula hanya diterapkan di televisi dan masih terbilang mahal dan sulit dibuat terang. Lampu berteknologi LED di Indonesia sekarang baru memegang 10-15 persen pasar lampu. Namun, pertumbuhan pasarnya diyakini mencapai tiga kali lipat pada 2016.
"Lampu LED sekarang harganya makin terjangkau dan kami juga melakukan edukasi di beberapa kota. Kota terang hemat energi menjadi program kami dengan menerangi ikon kota dengan lampu LED," ujar Ryan.
Dia pun mengakui, lampu Philips saat ini yang termahal di pasaran. Namun, hal tersebut tidak menghalanginya menjadi pemimpin pasar lampu di Tanah Air. "Ini salah satu bukti bahwa orang datang ke toko bukan cuma mencari yang paling murah, tetapi merek yang bagus. Brand image ini perlu dibentuk, ini merupakan salah satu tantangan," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




