Menyusuri Kemaro, Pagoda Sembilan dan Pohon Cinta di Bumi Sriwijaya
Rabu, 26 Februari 2014 | 22:25 WIBSalah satu obyek wisata yang terdapat di delta sungai Musi , Palembang adalah pulau Kemaro. Sekitar 15 hingga 20 menit, para pengunjung bisa bertandang ke pulau yang letaknya sekitar enam kilometer dari jembatan Ampera ini dengan menggunakan kapal atau juga perahu motor. Menuju pulau, para pengunjung akan melewati pabrik pupuk Sriwijaya dan kapal besar tua yang disandarkan di sungai bernama Soemantri Brodjonegoro.
Pulau Kemaro paling ramai dikunjungi biasanya pada saat perayaan Cap Go Meh setelah tahun baru Imlek. Bahkan pengunjungnya pada hari Cap Go Meh bisa ribuan orang dari kota-kota di Indonesia maupun dari luar negeri.
"Banyak yang datang bahkan dari Asia maupun Amerika untuk beribadah," kata Burhan yang menjadi pengurus klenteng dan tempat ibadah pulau Kemaro.
Burhan (45) mengatakan, ayahnya dulu mengurus pulau Kemaro. Dia lahir di sana dan lalu meneruskan tugas tersebut.
Di pulau ini ada beberapa obyek yang menarik. Yang pertama klenteng Soei Goeat Kiong yang di dalamnya juga terdapat makam Tan Bun An yakni pangeran Cina dan Siti Fatimah, putri kerajaan Sriwijaya yang dinikahinya.
Menurut legenda, pulau ini ini dibentuk setelah pangeran Cina Tan Bun An kecewa mengenai mas kawin sembilan guci emas. Putri Sriwijaya sang istri pun turut menceburkan diri. Di pulau ini mereka dikuburkan dan dijadikan tempat untuk mengingat cinta keduanya.
Selain itu adapula pagoda berlantai sembilan yang didominasi warna kuning dan merah dan merad muda. Di sebelahnya terdapat patung Budha Culai berwarna keemasan dengan mimik sedang tertawa.
Ada pula tak jauh dari pagoda, pohon sejenis beringin hutan yang diberi nama pohon cinta. Konon, pasangan yang menorehkan namanya di pohon akan berjodoh. Namun saat ini pohon itu sengaja dipagari untuk menjaga agar pohon yang dianggap peninggalan legenda itu tidak rusak.
Gratis namun Kurang Terpelihara
Dari luas sekitar 146 hektar, hanya enam hektar yang digunakan untuk tempat ibadah. Setiap hari siapapun boleh datang ke pulau ini. Menurut Burhan, orang-orang boleh datang bersembahyang. Untuk masuk ke pulau, termasuk kompleks klenteng serta pagoda tidak menggunakan tiket masuk, bebas biaya.
Namun selain saat perayaan Cap Go Meh pulau ini memang relatif akan sepi. Warung-warung kecil yang dibuat berjejer hanya satu dua yang buka. Warung-warung itu akan dibuka pada saat tahun baru Imlek dan Cap Go Meh.
Hutabarat (47) salah satu pedagang kelapa muda yang buka saat Beritasatu.com mengunjungi tempat itu mengatakan, mereka tidak selalu berjualan karena tempat itu memang sepi pada hari-hari biasa.
"Ke Kemaro ya duduk-duduk saja, minum air kepala muda," kata Hutabarat yang saat itu baru akan membuka warungnya menjelang tengah hari.
Bisa dikatakan pulau ini memang kurang terurus. Biaya operasional pemeliharaan klenteng dan pagoda juga hanya berasal dari yayasan yang menyokongnya. Tidak ada dari pemerintah setempat.
Salah satu fasilitas yang sangat kurang layak adalah toilet pengunjung yang minim air. Padahal jika disokong pemerintah, selayaknya pulau Kemaro yag mulai dikenal ini bisa lebih terpelihara. Niscaya daya tarik obyek yang terletak di Sumatera Selatan ini akan makin menggaet para calon wisatawan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




