Microsoft: Malware Habiskan US$ 25 Miliar Dana Konsumen

Rabu, 19 Maret 2014 | 16:31 WIB
HI
FH
Penulis: Hafiz Sezario Indra | Editor: FER
Legal Affairs Director Microsoft Indonesia, Reza Topobroto saat memaparkan hasil studi di Jakarta, Rabu (19/3)
Legal Affairs Director Microsoft Indonesia, Reza Topobroto saat memaparkan hasil studi di Jakarta, Rabu (19/3) (Beritasatu.com/Hafiz Sezario)

Jakarta - Microsoft memaparkan hasil studi bertajuk "The Link Between Pirated Software and Cybersecurity Breaches" di Kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3). Studi ini merupakan bagian dari kampanye "Play It Safe" yang bertujuan untuk menciptakan kesadaran yang lebih besar terhadap hubungan antara malware dan pembajakan.

Legal Affairs Director Microsoft Indonesia, Reza Topobroto mengatakan kelalaian keamanan di dunia maya dewasa ini dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dan mengakibatkan kerugian yang besar.

"Termotivasi oleh uang, mereka telah menemukan cara baru untuk membobol jaringan komputer sehingga mereka dapat mengambil apapun yang mereka inginkan. Seperti identitas Anda, password Anda, dan uang Anda. Itu sebabnya di Microsoft Cybercrime Center, kami fokus pada mengakhiri tindakan berbahaya ini untuk menyimpan data pribadi dan keuangan yang aman, sekaligus mengurangi insentif keuangan bagi para pelaku kejahatan," ujarnya.

Studi ini merupakan hasil kerjasama antara Microsoft dengan International Data Center (IDC) dan National University of Singapore (NUS). Sebelumnya, di tahun lalu, IDC juga melakukan penelitian serupa dengan judul "The Dangerous World of Counterfeit and Pirated Software". Studi yang dilakukan oleh Microsoft tahun ini merupakan perpanjangan dari studi tahun lalu.

Reza menjelaskan, perusahaan di seluruh dunia diperkirakan akan menghabiskan setidaknya US$ 500 miliar pada 2014 untuk menangani masalah yang disebabkan oleh malware yang sengaja dimasukkan pada software bajakan.

Reza menambahkan, konsumen global diperkirakan menghabiskan US$ 25 miliar dan membuang waktu sebanyak 1,2 miliar jam tahun ini karena ancaman keamanan dan perbaikan komputer yang mahal akibat malware pada software bajakan.

Studi ini meneliti 1.700 konsumen, pekerja information technology, chief information officers, dan pejabat pemerintah di Brazil, China, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Meksiko, Polandia, Rusia, Singapura, Ukraina, Inggris, dan Amerika Serikat. Sedangkan 203 komputer yang dianalisa diperoleh dari Brazil, China, India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Korea Selatan, Thailand, Turki, Ukraina, dan Amerika Serikat.

Reza menambahkan, "Agar komputer terhindar dari malware, konsumen disarankan untuk membeli perangkat komputer dari toko dan distributor yang terpercaya," tutupnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon