Fox International Channels, Fox, National Geographic, Cam Walker

Jenis Tayangan yang Disukai Pemirsa Indonesia Mulai Berubah

Senin, 7 April 2014 | 18:25 WIB
NF
B
Penulis: Nadia Felicia | Editor: B1
Kiri ke kanan: Moris Rusmanto (Director Ad Sales and Promotion FOX International Channels Indonesia), Tiara Sugiono (Sr. Marketing Executive), Cam Walker (VP,Territory Head of FOX International Channels Indonesia).
Kiri ke kanan: Moris Rusmanto (Director Ad Sales and Promotion FOX International Channels Indonesia), Tiara Sugiono (Sr. Marketing Executive), Cam Walker (VP,Territory Head of FOX International Channels Indonesia). (Fox International Channels )

Bali - Sejak hadir di Indonesia pada tahun 2011, penyedia tayangan berbayar Fox International Channels (FIC) melihat pertumbuhan dan dinamika tayangan televisi di Indonesia. Menurutnya, saat ini jenis tayangan kesukaan pemirsa Indonesia mulai mengalami perubahan dan mencari tayangan alternatif. Hal ini berarti menjadi lahan potensial untuk tayangan televisi berbayar.

Saat ini, kata Cam Walker, VP Territory Head FIC Indonesia, penetrasi tayangan televisi berlangganan di Indonesia baru delapan persen dari total jumlah pemilik televisi. Namun, saat ini ada banyak operator yang akan masuk dan menayangkan saluran-saluran televisi berbayar. Ini menunjukkan ada peningkatan jumlah permintaan akan penyedia tayangan televisi berbayar.

"Permintaan akan tayangan televisi berbayar ini menunjukkan, pemirsa Indonesia mengharapkan tayangan yang berbeda. Lewat perkembangan teknologi, akses informasi, meningkatnya kelas menengah, lebih banyak uang yang bisa dihabiskan, kian menunjukkan pemirsa di Indonesia tak lagi ingin menyaksikan tipe program yang sama berulang-ulang," kata Walker, di Bali, Sabtu (5/4).

Hasil penelusuran FIC, imbuh Walker, menunjukkan, saat ini salah satu merek saluran yang paling dinilai tinggi (valued brands, bukan merek yang paling tinggi rating) oleh masyarakat Indonesia adalah National Geographic -merek yang juga berada di bawah FIC.

"Ini membuat saya bangga, karena ini berarti penonton Indonesia saat ini menyenangi seni, sejarah, budaya, teknologi, angkasa, sains, petualangan, dan hal-hal lainnya yang ada di dalam National Geographic. Ini adalah merek ikonik. Banyak yang suka. Kami rasa kehadiran FIC beserta tayangan-tayangannya telah menantang bentuk tayangan saluran televisi swasta nasional, meski memang masih dengan cara yang kecil. Kami paham, saluran televisi nasional masih sangat dominan," jelas Walker.

Ditambahkan lelaki yang pernah membantu berdirinya Star TV (kini bernama Star World setelah dibeli Rupert Murdoch) di Indonesia pada tahun 1994 itu, ia melihat perubahan kebiasaan menonton masyarakat Indonesia.

"Saya melihat adanya perubahan kebiasaan menonton dan ini adalah perubahan besar. Makin banyak orang Indonesia yang mulai meninggalkan tayangan jenis variety program (program hiburan). Kami ingin menjadi bagian dari pergerakan itu. Namun, pay tv (tayangan televisi berlangganan) masih harus terus bertumbuh untuk membantu pergerakan itu," katanya.

Dilanjutkan Walker, terkait National Geographic, pihaknya berencana bekerja sama dengan saluran televisi nasional untuk mendistribusikan tayangan-tayangan dari merek tersebut.

"Bahkan, mungkin ke depannya akan bekerja sama untuk memproduksi sendiri tayangan-tayangan National Geographic yang berkaitan dengan lokal untuk ditayangkan lebih dulu di saluran televisi nasional sebelum diputar di saluran berlangganan kami. Demikian pula untuk program yang kami buat sendiri, seperti 'Cosmos', bila disukai masyarakat, bukan tak mungkin untuk menyaksikan serial itu di saluran televisi nasional sebelum ditayangkan saluran berlangganan kami," katanya.

Menurut Walker, saat ini produsen tayangan televisi berlangganan sedang berevolusi. "Saat ini ada 14 platform televisi berlangganan di Indonesia. Tiga pemain terbesarnya adalah First Media, TelkomVision, dan Indovision. Akan ada lagi yang masuk. Perkembangan ini bisa memberi dampak positif dan negatif. Tetapi kami harus menciptakan persaingan yang sehat," katanya.

Untuk menghadapi persaingan tersebut, jelas Walker, dibutuhkan strategi-strategi tertentu. Pihaknya memilih melakukan strategi yang ia namakan "localization". Yakni, memberikan kenyamanan eksklusivitas bagi pasar Indonesia, memberi tayangan yang sesuai kesukaan masyarakat, serta memberi sentuhan-sentuhan khusus lokal, dan lainnya.

"Intinya tentang pasar Indonesia, bukan sekadar mengimpor tayangan dari luar negeri. Tetapi juga mencari tahu serta memenuhi keinginan pasar, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Namun, saat ini kami merasa sedang ada di posisi yang bagus," jelas Walker.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon