Nestle dan FKUI Luncurkan Aplikasi Pendeteksi Alergi
Kamis, 17 April 2014 | 00:44 WIB
Jakarta - Bertepatan dengan World Allergy Week yang berlangsung pada 7-13 April 2014, Nestle Nutrition Institute (NNI) menggandeng Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), untuk meluncurkan Allergy Risk Tracker dan melakukan studi untuk mempelajari pengaruh penyakit alergi terhadap sisi ekonomi masyarakat Indonesia.
Aplikasi Allergy Risk Tracker (ART) merupakan sebuah alat pendeteksi alergi sederhana yang dapat digunakan untuk mengetahui risiko alergi pada seseorang dan cara menguranginya.
Aplikasi ART ini memberikan informasi tentang gejala umum alergi, seperti kulit gatal-gatal, ruam kulit, bersin, sesak napas, mata gatal dan berair.
Aplikasi ini juga membantu mengidentifikasi peringkat risiko alergi seseorang, apakah rendah, sedang atau tinggi, serta cara untuk mengurangi risikonya.
Enaknya lagi, aplikasi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum, dan dapat diakses melalui aplikasi www.sadaralergi.com.
"Meningkatnya prevalensi alergi di dunia mendorong Indonesia ikut melakukan studi yang mempelajari korelasi pengobatan alergi terhadap kondisi finansial," kata DR. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), peneliti Health Economics dari Unit Kesatuan Kerja Alergi-Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (UKK Alergi-Imunologi IDAI) dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com di Jakarfta, Rabu (16/4).
Menurut Dr. dr. Astrid Widajati Sulistomo, MPH, SpOk. dari Departemen IKK FKUI, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk kesehatan terus meningkat di dunia, termasuk di Indonesia.
Secara khusus, kata dr. Astrid, NNI mempelajari studi yang telah dilakukan dinegara - negara lain dan terbukti adanya korelasi pencegahan alergi terhadap kondisi finansial dari skala kecil yaitu keluarga, hingga skala besar yaitu negara.
Studi Health Economics di Indonesia diprakarsai oleh NNI bersama dr. Astrid dari Departemen IKK FKUI dan dr.Zakiudin dari UKK Alergi - Inumologi IDAI.
Studi ini membandingkan biaya pengobatan termasuk biaya medis yang berhubungan dengan alergi seperti biaya konsultasi, obat-obatan dan laboratorium yang akan dikeluarkan, dengan biaya yang dikeluarkan apabila pencegahan penyakit alergi dapat dilakukan.
"Studi menunjukkan bahwa biaya pencegahan dini akan mengurangi biaya kesehatan dimasa yang akan datang," kata dr.Astrid.
Hasil studi tersebut yang nantinya akan terangkum dalam Health Economics Journal 2014 ini akan diumumkan pada Agustus 2014. Studi yang dilakukan NNI di Swiss yang memiliki populasi 7 juta jiwa, menunjukan bahwa upaya pencegahan alergi mampu mengurangi beban ekonomi negara hingga CHF 2.016.660, atau setara dengan Rp 26 miliar pertahun.
Studi serupa juga telah dilakukan di negara - negara lain seperti Belanda, Denmark, Perancis, dan Spanyol. Salah satu negara Asia yang telah melakukan studi serupa adalah Thailand. Dengan dasar itu, saat ini Indonesia juga sedang melakukan penelitian serupa untuk melihat pengaruh pencegahan alergi terhadap beban ekonomi.
Dalam kesempatan yang sama, Michelle Maria Pietzak, M.D, Nutrition Advisory Board Nestle Nutrition Institute, mengatakan, prevalensi alergi terus meningkat di dunia dan semakin menjadi beban baik dari segi kesehatan, kualitas hidup keluarga sampai segi ekonomi.
Perjalanan alergi berlangsung alami namun dari waktu ke waktu menunjukkan manifestasi yang menguat terhadap manusia. "Riwayat alergi sering kali dimulai dengan dermatitis atopik yang diawali dengan munculnya ruam merah," kata Michelle.
Berkaitan dengan hal tersebut, dr.Zakiudin menambahkan, studi mengenai perjalanan alamiah alergi atau dalam istiah kedokteran disebut "Allergy March" menunjukkan bahwa 4 dari 10 anak yang mengalami alergi (dermatitis atopik), akan mengalami asma dan atau rinitis alergi di kemudian hari.
"Selain itu, sebanyak 30% dari kasus dermatitisatopik pada bayi disebabkan oleh alergi susu sapi. Dengan demikian pencegahan primer harus dilakukan sedini mungkin," katanya.
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan makanan terbaik bagi anak dari usia 0-6 bulan karena ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan anak. Namun, bila ASI tidak dapat diberikan atas indikasi medis, penggunaan formula 100% whey terhidrolisis parsial dapat membantu menurunkan risiko dermatitis atopik.
Menurut penelitian klinis, Studi GINI (German Infant Nutritional Intervention) tahun 2011 yang sudah ditindaklanjuti selama 10 tahun membuktikan bahwa formula 100% whey terhidrolisisparsial dapat membantu menurunkan risiko alergi dibandingkan dengan formula susu sapi standar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




