Ingin Kalahkan ARB, Calon Ketum Golkar Jangan Lebih dari 2 Kandidat

Selasa, 25 November 2014 | 10:15 WIB
HS
B
Penulis: Hotman Siregar | Editor: B1
Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (kanan) memukul gong didampingi, Akbar Tanjung, Idrus Marham dan Nurdin Halid saat pembukaan Rapimnas Partai Golkar ke VII di Yogyakarta, Selasa (18/11).
Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (kanan) memukul gong didampingi, Akbar Tanjung, Idrus Marham dan Nurdin Halid saat pembukaan Rapimnas Partai Golkar ke VII di Yogyakarta, Selasa (18/11). (Antara/Regina Safri)

Jakarta - Peneliti dari Lembaga Survei Riset Lingkaran Stategis (Rilis) Arman Salam mengatakan, tokoh muda dan senior Golkar yang ingin maju sebagai ketua umum harus bersatu melawan Aburizal Bakrie (ARB).

Tanpa adanya persatuan di antara kader yang ingin perubahan di partai Golkar maka munas Golkar hanya sekedar pengesahan ARB sebagai ketua umum.

Menurut Arman, ada tiga hal penting yang harus dilakukan kader pro-perubahan di Golkar. Pertama, persatuan di antara kader yang ingin ada perubahan. Kedua, komitmen dan ketiga komitmen memberikan dana bagi pengurus partai di daerah.

"Jangan sampai calon ketum lebih dari dua orang. Kalau lebih dari dua orang, ARB dipastikan akan menang dalam pertarungan dan kembali memimpin Golkar," ujar Arman pada SP di Jakarta, Selasa (25/11).

Terkait dengan lokasi Munas, Bali dinilai Arman cukup representatif dibanding Bandung dan Surabaya. Secara geografis Munas IX Partai Golkar seharusnya dilaksanakan di wilayah Indonesia Timur.

"Kalau dilaksanakan di Indonesia Bagian Timur ada kemungkinan ketakutan ARB akan mudah dikalahkan. Munas 2009 diadakan di wilayah Barat Indonesia yakni Riau dan Munas 2004 di Jawa. Makanya dipilih Bali agar aura kemenangannnya tetap ada ada bahkan kuat," katanya.

Sebelumnya, Ketua Departemen Eksekutif dan Yudikatif DPP Partai Golkar Lamhot Sinaga mengaku khawatir dengan penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) IX Partai Golkar yang dijadwalkan diselenggarakan di Bali pada 30 November hingga 3 Desember 2014.

Hal itu dikarenakan penyelenggaraan kali ini dinilai sangat berbeda dengan munas-munas sebelumnya.

"Munas IX kali ini sarat pelanggaran AD/ART partai. Kenapa dikatakan sarat pelanggaran karena penentuan tempat dan waktu pelaksanaan berubah-ubah," ujar Lamhot.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon