Lima Tahun Pengungsi Sinabung Jalani Ramadan dan Lebaran

Kamis, 18 Juni 2015 | 20:59 WIB
AS
B
Penulis: Arnold H Sianturi | Editor: B1
Sejumlah warga pengungsi Gunung Sinabung beristirahat di posko pengungsian sementara di Kaban Kabanjahe, Karo, Sumatra Utara, 3 Juni 2015. Antara/Zabur Karuru
Sejumlah warga pengungsi Gunung Sinabung beristirahat di posko pengungsian sementara di Kaban Kabanjahe, Karo, Sumatra Utara, 3 Juni 2015. Antara/Zabur Karuru

Karo - Pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), ternyata sudah lima tahun menjalani ibadah puasa Bulan Ramadan, dan merayakan Lebaran di tengah pengungsian. 

"Jika dikatakan hari raya sepertinya kurang tepat. Perayaan itu hanya karena jatuh tanggal sesuai yang ditetapkan pemerintah," ujar seorang pengungsi, Ati (50) kepada SP di pos penampungan Jambur Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rayat, Kamis (18/6) malam.

Dia mengatakan, ibadah puasa di bulan Ramadan tetap mereka laksanakan. Kegiatan sahur secara bersamaan. Pengungsi bergotong - royong mempersiapkan dan memasak menu hidangan yang dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB.

"Jika malam kami melakukan sholat tarawih bersama di masjid yang dekat dengan penampungan. Ada ratusan pengungsi di sini yang beragama Islam. Kami semua secara bersama memanjatkan doa supaya musibah Gunung Sinabung ini cepat berakhir," katanya.

Menurut dia, tidak ada hidangan spesial untuk menu berbuka puasa maupun saat melaksanakan sahur. Pengungsi mengonsumsi makanan biasa berupa hidangan nasi dan ikan, yang biasa dimakan selama mengungsi. Pengungsi juga tidak memikirkan persiapan untuk menghadapi Lebaran nanti.

"Tidak ada lagi kebahagiaan di sini. Semua sudah habis. Lahan pertanian sudah tidak berfungsi, pendapatan untuk kebutuhan sehari - hari, pun tidak ada. Yang ada, hanya berharap ada bantuan dari dermawan. Pengungsi yang beragama Kristen pun sudah lima tahun merayakan Natal dan Tahun Baru di pengungsian," sebutnya.

Elisa Tarigan (40), pengungsi lainnya pun menambahkan, kehidupan selama berada di tengah pengungsian selama Bulan Ramadan, sangat memprihatinkan. Saat udara dingin menusuk kulit bahkan sampai ke tulang, pengungsi secara bersama - sama harus mempersiapkan menu sahur untuk berpuasa.

"Udara dingin memang tidak menghambat pengungsi di sini untuk melaksanakan ibadah puasa," jelasnya.

Ditambahkan, banyak kendala yang dihadapi pengungsi saat melaksanakan ibadah di Bulan Ramadan. Kebutuhan air bersih yang diperlukan sebelum melakukan sholat masih belum memadai. Selain itu, pengungsi juga membutuhkan sajadah untuk sholat.

"Harapan kami, pemerintah tidak membiarkan pengungsi di sini kelaparan. Kalau masalah keperluan ibadah puasa maupun lainnya, bukan menjadi penghalang bagi pengungsi melaksanakan ibadah. Kami sudah pasrah dan menerima dengan keadaan ini," sebutnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon