Port Said
Tidak Ada WNI Korban Kerusuhan Sepakbola Mesir
Kamis, 2 Februari 2012 | 18:41 WIB
Jumlah WNI di Mesir sekitar 5000 orang
Warga negara Indonesia (WNI) terhindar dari kerusuhan sepakbola di Port Said, Mesir, pada hari Rabu yang menelan puluhan korban jiwa.
"Tidak ada WNI yang tinggal di Port Said, dan sejauh ini belum ada laporan warga kita menjadi korban," kata Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Kairo, Muhammad Abdullah di Kairo.
Sementara itu, Atase Pertahanan KBRI Kairo, Kolonel Laut (P) Teguh R. Teguh Isgunanto, mengatakan, KBRI memantau perkembangan di Port Said, namun sejauh ini tidak ada WNI yang menjadi korban kerusuhan tersebut.
Jumlah WNI di Mesir berkisar 5.000 orang, umumnya mahasiswa yang bermukim di ibu kota Kairo dan beberapa kota provinsi lain di antaranya Tanta, Zakazik, Mansourah, dan Damanhur.
Kendati demikian, Abdullah dan Teguh mengimbau semua WNI untuk selalu waspada terkait keamanan yang belum stabil.
Ketidakstabilan di Mesir ini terasa sejak tumbangnya rejim pimpinan Presiden Hosni Mubarak pada awal tahun lalu.
Aksi penodongan dan perampokan marak terjadi, seringkali sasarannya adalah orang asing.
Sementara itu, Koordinator ambulans Rumah Sakit Port Said, Dr Mohamed Sultan mencatat sedikitnya 74 orang tewas dan sekitar 800 orang cedera akibat saling lempar antar supporter.
Kerusuhan berdarah itu bermula saat pertandingan antara tuan rumah, Al Masri, kesebelasan Al Ahly, dengan skor 3-1.
Para korban tersebut tewas akibat terkena lemparan batu dan terinjak masa di stadion yang terletak di kota pelabuhan paling utara Terusan Suez itu.
Pesawat dan helikopter militer dikerahkan untuk mengangkut tim Al Ahly, kesebelasan paling favorit Mesir yang bermarkas di ibu kota Kairo.
Perdana Menteri Mesir Gamal Al Ganzouri menyebut kerusuhan berdarah itu sebagai tragedi nasional paling menyedihkan.
Katua Parlemen Mesir, Saad Katatni pada Kamis menggelar sidang darurat untuk membahas tragedi itu.
Warga negara Indonesia (WNI) terhindar dari kerusuhan sepakbola di Port Said, Mesir, pada hari Rabu yang menelan puluhan korban jiwa.
"Tidak ada WNI yang tinggal di Port Said, dan sejauh ini belum ada laporan warga kita menjadi korban," kata Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Kairo, Muhammad Abdullah di Kairo.
Sementara itu, Atase Pertahanan KBRI Kairo, Kolonel Laut (P) Teguh R. Teguh Isgunanto, mengatakan, KBRI memantau perkembangan di Port Said, namun sejauh ini tidak ada WNI yang menjadi korban kerusuhan tersebut.
Jumlah WNI di Mesir berkisar 5.000 orang, umumnya mahasiswa yang bermukim di ibu kota Kairo dan beberapa kota provinsi lain di antaranya Tanta, Zakazik, Mansourah, dan Damanhur.
Kendati demikian, Abdullah dan Teguh mengimbau semua WNI untuk selalu waspada terkait keamanan yang belum stabil.
Ketidakstabilan di Mesir ini terasa sejak tumbangnya rejim pimpinan Presiden Hosni Mubarak pada awal tahun lalu.
Aksi penodongan dan perampokan marak terjadi, seringkali sasarannya adalah orang asing.
Sementara itu, Koordinator ambulans Rumah Sakit Port Said, Dr Mohamed Sultan mencatat sedikitnya 74 orang tewas dan sekitar 800 orang cedera akibat saling lempar antar supporter.
Kerusuhan berdarah itu bermula saat pertandingan antara tuan rumah, Al Masri, kesebelasan Al Ahly, dengan skor 3-1.
Para korban tersebut tewas akibat terkena lemparan batu dan terinjak masa di stadion yang terletak di kota pelabuhan paling utara Terusan Suez itu.
Pesawat dan helikopter militer dikerahkan untuk mengangkut tim Al Ahly, kesebelasan paling favorit Mesir yang bermarkas di ibu kota Kairo.
Perdana Menteri Mesir Gamal Al Ganzouri menyebut kerusuhan berdarah itu sebagai tragedi nasional paling menyedihkan.
Katua Parlemen Mesir, Saad Katatni pada Kamis menggelar sidang darurat untuk membahas tragedi itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




