Daniel dan Iwet Sebarkan Nasionalisme Lewat Bisnis
Jumat, 7 Agustus 2015 | 17:20 WIB
Jakarta - Daniel Mananta dan Iwet Ramadhan, artis sekaligus pengusaha, menyatakan bahwa bisnis bukan sekedar keuntungan dan uang, melainkan idealisme dan dampak positif terhadap masyarakat banyak.
"Dulu setelah kuliah tujuh tahun di Australia, balik ke Indonesia, asli kangen banget sama Indonesia. Tapi agak kaget, karena kayaknya anak muda Indonesia kurang banget nasionalismenya," tutur Daniel, Jumat (7/8), pada Ideafest 2015 di Jakarta Convention Center (JCC).
Lebih lanjut Daniel mengakui, ia cukup memiliki public influence karena kariernya sebagai artis. Hal ini, yang memperkuat keinginannya untuk membuat brand sendiri bernama 'Damn! I Love Indonesia'.
"Gue bisa bawa misi melestarikan nasionalisme lewat brand ini. Gue cukup senang karena banyak orang bangga saat pakai kaos ini, dan kepanjangannya juga belajar bangga sama Indonesia," tambah Daniel. Ia menambahkan, kebanggannya bertambah ketika brand-nya digunakan oleh beberapa artis internasional seperti Adam Levine dan Jay Park.
Hal serupa dinyatakan pula oleh Iwet Ramadhan, pemilik TIKprive. "Ini semua berawal dari kecintaan dan riset gue terhadap batik. Dulu waktu batik diklaim Malaysia, kita pusing setengah mati. Tapi pas gue tanya ke anak-anak muda, apa sih batik dan apa jenisnya, mereka tidak tahu. Gue curiga, itu (batik) dicuri karena memang kita yang kurang peduli kebudayaan kita sendiri," kata Iwet.
Hal tersebut yang kemudian mendasari Iwet untuk terjun dalam bisnis di bidang batik.
"Awalnya bikin TIKshirt, kaos saja, tapi sekarang sudah berkembang jadi produk lain seperti kemeja. Tapi pada saat TIKshirt itu, gue menyebarkan misi kebudayaan ini lewat penjelasan singkat soal jenis motif batik yang di sablon di kaos itu, sedikit saja di bagian belakang, tapi informatif," tambah Iwet.
Iwet pun tak memungkiri, ia sempat khawatir untuk bersaing di pasar karena biaya produknya tergolong mahal. Ditambah lagi, kata dia, sudah ada teknologi dari Tiongkok yang bisa mencetak batik cepat dan murah.
"Untung gue orangnya gengsi, kalau sudah mulai haruslah selesai. Gue tetap bertahan karena gue yakin orang Indonesia akan support. Sebenarnya banyak tawaran pameran di luar (negeri), tapi gue pikir, gue harus selamatin dulu kebudayaan Indonesia di negeri gue sendiri," kata Iwet kepada Beritasatu.com.
Daniel kembali menambahkan, ketika pengusaha sudah mengetahui apa yang ingin dicapai, mengerti ilmunya, dan konsisten terhadap kualitas, bisnis tentu akan mencapai kesuksesan.
"Gini, kita punya konsep meningkatkan nasionalisme, ini adalah impact yang kita ingin capai. Ketika semua orang sadar bahwa impact ini baik, dengan sendirinya orang akan support kita. Kita sebagai pengusaha pun harus bisa menjaga kepercayaan pasar lewat kualitas, begitu seterusnya," kata Daniel.
Baik Daniel maupun Iwet tidak memungkiri, banyak sekali anggapan kesuksesan kariernya di bidang kewirausahaan merupakan aji mumpung dari karier di dunia hiburan.
"Ya memang, ketika brand kita dipakai artis yang followersnya jutaan, pasti pasar gue juga makin meningkat. Tapi bukan itu point-nya, gue juga belajar terus dan makin meningkatkan visi-misi dan kualitas. Itu sebenarnya yang membuat Damn! I Love Indonesia terus menanjak," timpal Daniel.
Iwet pun menyatakan, usahanya murni berdasarkan kecintaan pada Indonesia. Ia bahkan menghabiskan seluruh tabungannya untuk membangun TIKprive.
"Yang gue pikirkan selain profit, yaitu gimana cara batik tetap ada di Indonesia dan orang Indonesia tetap membuat batik. Gue nggak terlalu mikirin pasar bisnis gue gimana saat ini, asal orang Indonesia cinta batik, gue bakal mati tenang," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




