Iman Kristiani Belum Menjadi Keunggulan bagi Orang Flores

Minggu, 1 November 2015 | 12:32 WIB
RW
AB
Penulis: Robertus Wardi | Editor: AB
Yayasan Alumni Seminari St. Yoh Berkmans Mataloko Flores bekerjasama dengan Veritas Dharma Satya dan Harian Suara Pembaruan menyelenggarakan acara diskusi bertajuk Masihkah Flores Disebut Nusa Iman? dan bedah buku karangan Kapten Tasuku Sato berjudul I Remember Flores di BeritaSatu Plaza, Jakarta, 31 Oktober 2015. Acara ini dihadiri oleh Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu, Anggota DPR RI Johnny G. Plate, Mantan Anggota DPR RI Jan Riberu, Diplomat Aloysius Lele Madja.
Yayasan Alumni Seminari St. Yoh Berkmans Mataloko Flores bekerjasama dengan Veritas Dharma Satya dan Harian Suara Pembaruan menyelenggarakan acara diskusi bertajuk Masihkah Flores Disebut Nusa Iman? dan bedah buku karangan Kapten Tasuku Sato berjudul I Remember Flores di BeritaSatu Plaza, Jakarta, 31 Oktober 2015. Acara ini dihadiri oleh Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu, Anggota DPR RI Johnny G. Plate, Mantan Anggota DPR RI Jan Riberu, Diplomat Aloysius Lele Madja. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Jakarta - Pulau Flores adalah salah pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mayoritas penduduknya merupakan penganut agama Kristen-Katolik. Ajaran Katolik sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Sayang, iman Katolik itu belum menjadi keunggulan bagi masyarakat Flores. Iman Katolik belum dijadikan alas, landasan, dan sebagai modal daya saing dalam masyarakat.

"Orang Flores belum menjadikan iman Kristiani sebagai keunggulan. Padahal ajaran-ajaran Kristiani itu sangat baik, luhur dan membumi," kata Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu dalam focus group discussion (FGD) di BeritaSatu Plaza, Jakarta, Sabtu (31/10). FGD juga sekaligus untuk peluncuran buku berjudul Aku Terkenang Flores (I Remember Flores) yang ditulis oleh mantan pemimpin militer Jepang di Flores Kapten Tasuku Sato.

FGD diselenggarakan atas kerja sama koran Suara Pembaruan dengan Yayasan Alumni Seminari St Yoh Berkhmans Mataloko, Flores (Alsemat) dan PT Veritas Dharma Satya. Hadir dalam FGD di antaranya, mantan anggota DPR dari Partai Golkar Yan Riberu, Sekretaris Fraksi Partai Nasdem di DPR Jhony Plate, Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Frans Teguh, sesepuh sekaligus mantan pesepakbola Flores Anton Tifaona, pengarang lagu populer di kalangan Flores Bale Nagi, Yan Jangun dan masyarakat diaspora dari Flores yang berada di Jabodetabek.

Menurut Primus, prinsip umum manusia adalah aksi yang digerakkan oleh pikiran. Pikiran dipengaruhi oleh kepercayaan. Kepercayaan diturunkan dari nilai.

Bagi orang Flores, nilai itu ada pada iman Katolik. Iman Kristiani yang paling dasar adalah soal cinta kasih. Disebutkan, kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Kasih juga tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, serta tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Dari nilai itu kemudian diturunkan menjadi nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kesabaran, kesetiaan, tanggung jawab, komitmen, dan transparansi. Kemudian ada nilai-nilai keberanian, toleransi, hormat kepada sesama, kerendahan hati dan kepedulian.
Dalam hal mencapai prestasi, ada ajaran atau nilai-nilai seperti kerajinan, ketekunan, kesabaran, kejujuran dan kesetiaan. Kemudian ada nilai tanggung jawab, kedisiplinan, iktikad baik, komitmen, toleransi, kerja sama, hormat kepada sesama dan kerendahan hati.

Sementara itu, dalam prinsip-prinsip GCG (good corporate governance), ada ajaran tentang nilai akuntabilitas, tanggung jawab, keterbukaan, kemandirian dan kesetaraan.

"Nilai-nilai ini belum dipakai sebagai modal daya saing. Masih sebatas ajaran yang belum teraktualisasi," tutur Primus.

Menurutnya, iman Kristiani masih sebatas ritual atau ibadat bagi orang Flores. Padahal yang diperlukan tidak hanya sampai di situ. Iman Kristiani harus menjadi ciri khas, kekhususan dan keunggulan bagi orang Flores.

Primus yakin dengan menjadikan iman Kristiani sebagai modal unggul, orang Flores bisa meningkatkan daya saing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sependapat dengan Primus, Yan Riberu mengemukakan orang Flores baru memakai iman Kristian sebatas ritual. Mereka belum menerapkan secara baik, entah dalam tutur kata maupun dalam tindakan.

"Iman tidak hanya ibadah. Iman harus tampil dalam tutur bicara, perilaku dan pola hidup," kata Yan.

Dia mengutip pernyataan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta, Frans Magnis Suseno yang mengatakan yang Katolik itu Pulau Flores, sementara masyarakatnya belum mempraktikan dengan baik dan benar ajaran Katolik tersebut.

Dia sependapat dengan Magnis bahwa pola pikir, tindakan dan perilaku orang Flores belum mencerminkan iman Katolik.
Dia menegaskan tantangan orang Flores ke depan adalah menjadikan iman Katolik itu sesuai antara kata dan perbuatan.

Sebagai contoh dalam masalah korupsi, jika orang Flores benar-benar mendasarkan diri pada ajaran Katolik dan dijalankan secara taat, seharusnya praktik korupsi tidak terjadi di sana. Tetapi faktanya, praktik korupsi merajalela.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon