Umat Kristiani Hadiri Ibadah Malam Natal di GBIP SIloam

Kamis, 24 Desember 2015 | 20:16 WIB
NL
WP
Penulis: Novy Lumanauw | Editor: WBP
Pengamanan Gereja jelang Natal.
Pengamanan Gereja jelang Natal. (Antara/Indriarto Eko Suwarso)

Jakarta - Ratusan anggota jemaat memadati ruang ibadah untuk mengikuti ibadah malam Natal Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) "Siloam" DKI Jakarta, pada Rabu (24/12). Ibadah malam Natal yang dipimpin Pendeta Ananda Septoni Pasaribu MTh, juga dimeriahkan puji-pujian yang dibawakan PS Gita Siloam, PS Jemaat Sektor I, Sektor II, dan Sektor III.

Pendeta Ananda dalam khotbahnya yang terambil dalam Kitab Injil Lukas 1: 4‎6-56 mengajak umat kristiani untuk selalu bersyukur di tengah berbagai dinamika yang terjadi saat ini.

Dia mengatakan, berbagai masalah, ancaman, dan tantangan yang dihadapi umat kristiani jangan sampai mengubah suka cita. Dikatakannya, figur Maria yang merupakan Ibu Yesus menjadi contoh konkret, ketekunan seorang anak manusia dalam menjalankan amanat yang diberikan Allah. Meskipun harus menghadapi berbagai risiko, Maria tiada hentinya bersyukur memuliakan Tuhan.

"Ketika Maria mengatakan, jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bersukacita, pasti ada sesuatu yang dirasakannya. Maria mendapatkan keselamatan dari Allah," katanya.

Pendeta Ananda mengatakan, Maria sangat memahami apa yang dihadapinya. Tetapi dia tidak khawatir untuk menjalankan sebuah misi besar, yaitu Maria akan mengandung dan melahirkan bayi Yesus. "Dengan segala sesuatu yang dijalaninya, Maria memuji kemuliaan Allah, meskipun harus menghadapi berbagai risiko. Ketakutan Maria akhirnya berubah menjadi sukacita," katanya.

Dia men‎gatakan, saat diberikan tugas mulia oleh Allah, sama sekali tidak ada kesombongan dalam diri Maria. "Kita harus tetap rendah hati, meskipun mendapat kepercayaan, promosi jabatan, maupun kelebihan materi. Jangan sombong. Justru kita mengikuti teladan Maria yang secara penuh menyerahkan diri secara utuh kepada Tuhan," kata Pendeta Ananda.

Dia mengatakan, berkaca dari teladan Maria, sebenarnya perayaan Natal identik dengan dua kata, yaitu kegelisahan dan pembaruan.

Pendeta Ananda mengatakan, kegelisahan itu muncul seiring terjadinya berbagai aksi teror disaat umat kristiani merayakan hari Natal. "Bagaimana tidak gelisah, pada malam Natal kerap terjadi aksi terorisme. Umat menjadi gelisah setiap kali merayakan Natal," kata Pendeta Ananda.

Dia mengatakan, menjelang perayaan Natal, dunia digemparkan oleh serangkaian aksi teroris di Paris (Prancis) dan San Bernardino (Amerika Serikat). Di Paris, sedikitnya 130 orang tewas dan di San Bernardino sebanyak 14 nyawa manusia melayang akibat serangan teroris Negara Islam (Islamic State). "Kita tidak boleh takut, ‎Tuhan pasti menuntun dan memberkati kita," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon