Sarundajang: Sulut Kehilangan Pendeta Pengajar Pluralisme

Senin, 28 Desember 2015 | 18:03 WIB
NL
WP
Penulis: Novy Lumanauw | Editor: WBP
President and Chairman Editorial Board BeritaSatu Media Holdings, Dr. Sinyo H. Sarundajang, Ms.i memberikan sambutan dalam acara Inagurasi Pimpinan Baru Lippo Group di Hotel Aryaduta, Jakarta, 15 Desember 2015.
President and Chairman Editorial Board BeritaSatu Media Holdings, Dr. Sinyo H. Sarundajang, Ms.i memberikan sambutan dalam acara Inagurasi Pimpinan Baru Lippo Group di Hotel Aryaduta, Jakarta, 15 Desember 2015. (Beritasatu.com/Danung Arifin)

Jakarta –Senior Adviser Beritasatu Media Holdings yang juga mantan gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Sinyo Harry Sarundajang menyatakan duka cita mendalam atas meninggalnya Pendeta Prof Dr Wilhelmus Absalom Roeroe.

Sarundajang mengaku, Sulawesi Utara kehilangan seorang pendeta sekaligus pengajar, budayawan, dan penganjur pluralisme andalan.

"Kita betul-betul merasa kehilangan seorang pendeta, pemimpin, pengajar, dan penganjur pluralisme. Saya menyatakan dukacita mendalam. Pendeta Roeroe adalah budayawan Minahasa yang sangat merakyat. Di lingkungan gereja dia adalah seorang Oikumenis," kata Sarundajang saat dihubungi di Manado, Senin (28/12).

Sarundajang mengatakan, Pendeta Roeroe yang pernah menjabat ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) periode 1970-1990 dan 1995-2000 adalah figur yang sangat dicintai rakyat Sulawesi Utara, khususnya Minahasa. Sebagai pemimpin gereja terbesar di Minahasa, Pendeta Roeroe sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan antarumat beragama dan martabat orang Minahasa.

"Saya harus akui selama kepemimpinan Pendeta Roeroe sebagai ketua Sinode GMIM, sentuhan martabat orang Minahasa sangat kental. Almarhum semasa hidupnya tidak memilah-milah gereja. Semua kalangan dirangkul untuk mewujudkan kebersamaan dalam perbedaan," katanya.

Semasa hidupnya, Pendeta Willy Roeroe pernah menjabat ketua Sinode GMIM, periode 1979-1990 dan 1995-2000. Dia juga tercatat sebagai ketua Dewan Gereja-gereja Indonesia dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (DGI/PGI) selama dua periode, yaitu 1980-1984 dan 1984-1989. Selanjutnya, pada periode 1989-1994 dipercayakan sebagai wakil sekretaris Majelis Pertimbangan Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon