Hermawan Kertajaya: Semua Prodi Harus Miliki Semangat Entrepreneur
Jumat, 29 Januari 2016 | 23:21 WIB
Cikarang - Pendiri perusahan konsultan marketing Markplus, Hermawan Kertajaya, mengatakan, perguruan tinggi harus menjadikan entrepreneur dan marketing sebagai mata kuliah umum kampus yang harus diajarkan di semua program studi (prodi), karena saat ini, pembelajaran marketing dan entrepreneur hanya diajarkan di fakultas ekonomi.
Dia menjelaskan, kedua mata pelajaran tersebut wajib diajarkan pada setiap prodi agar mahasiswa dapat memiliki strategi yang baik untuk bersaing dengan kompetitornya ketika terjun ke lapangan kerja.
"Banyak perguruan tinggi yang tidak mengajarkan marketing dan entrepreneur, padahal apapun jurusannya akan bersaing di dunia kerja dan itu membutuhkan strategi. Misalkan fakultas hukum, ketika di dunia kerja tentu akan bersiang dengan orang lain dan apakah kita bersaing atau tidak tergantung bagaimana kampus mengajarkan strategi," kata dia pada Seminar PresUniver’s Life" from Campus to Work to WoW di Kampus President University, Cikarang, Bekasi, Jumat (29/1).
Konsultan Perbankan Indonesia ini menambahkan, persaingan akan semakin tinggi dengan adanya internet karena sistem online tidak terbatas Karenanya, lanjut Hermawan, semakin diperlukan pelajaran marketing dan entrepreneur apapun jurusannya.
"Apalagi, dalam mengadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menekankan daya siang. Baik produk maupun orang atau sumber daya manusia(SDM). Sementara itu, untuk mewujudkannya tentu butuh strategi," kata Hermawan.
Dia menjelaskan, marketing merupakan strategi untuk bersiang maka perlu dipelajari agar tidak tertinggal dari negara lain. "Meskipun seseorang menjadi insinyur, belum tentu dapat bersaing di era MEA jika ilmu yang dipakainya hanya dari guru-guru dan tidak mengetahui strategi apa yang perlu dilakukannya," jelasnya.
Pakar pemasaran ini menjelaskan, pentingnya kedua pelajaran ini untuk menciptakan daya saing, karena dengan strategi yang baik maka akan dapat bersiang dengan kompetitor di segala bidang. "Contohnya, marketing bidang politik, gubernur, walikota, bupati, tentu memiliki kompetitornya maka butuh strategi untuk bersaing, jika ngawur-ngawur investor tidak akan mau menanamkan modal," kata dia.
Hermawan menegaskan, untuk dapat bersiang, harus memiliki semangat (spirit), dan dapat melihat peluang untuk mencapai visi dan misi sesuai dengan strategi yang disiapkan untuk menanamkan kepercayaan pelanggan. Entrepreneur dan marketing, papar dia, merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda.
"Jadi, harus diajarkan beriringan. Sebab, entrepreneur tidak bisa berjalan dengan baik jika tidak memahami marketing," jelas dia.
Menurutnya, yang terjadi saat ini banyak kalangan beranggapan bahwa marketing dan entrepreneur sama. Padahal, kata Hermawan, seorang entrepreneur tidak dapat menjalankan bisnis dengan baik jika tidak memahami marketing.
"Marketing itu strategi, sehingga banyak sering keliru mengartikan jika seorang entrepreneur selalu mengerti marketing, pada kenyataan tidak demikian," tuturnya.
Sementara itu, Rektor President University, Chandra Setiawan, mengatakan, saat ini entrepreneur telah dijadikan mata kuliah univeristas sehingga semua jurusan yang ada wajib belajar entrepreneur.
"Ke depannya, kami sedang melakukan revisi kurikulum untuk memasukan marketing sebagai mata kuliah agar dapat menghasilkan manusia Indonesia yang berkarakter dan berdaya saing," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




