Rekaman Percakapan Presiden Brasil Dibuka ke Publik
Kamis, 17 Maret 2016 | 23:14 WIB
Brasilia – Aksi protes pecah di Brasil setelah rekaman percakapan telepon antara Presiden Dilma Rousseff dan pendahulunya, Luiz Inácio Lula da Silva diumumkan ke publik. Berdasarkan hasil penyadapan telepon kemudian diketahui bahwa alasan pengangkatan Lula dalam kabinetnya supaya terhindar dari penahanan akibat kasus korupsi.
Di sisi lain, Presiden Rousseff sendiri masih berjuang untuk lepas dari upaya pemakzulan atau impeachment, resesi tajam, dan kejatuhan akibat merebaknya skandal korupsi di raksasa perusahaan minyak negara, Petrobras.
Rousseff sendiri diketahui telah mengangkat Lula sebagai kepala staf pemerintah, pada Rabu (16/3), dengan harapan kecakapannya dalam berpolitik dapat menyelamatkan pemerintahannya.
Namun beberapa jam setelah pengangkatan Lula, Hakim Federal Sergio Moro, yang memimpin penyelidikan skandal Petrobras, segera memerintahkan membuka rekaman percakapan telepon yang disadap oleh polisi untuk menunjukkan adanya motif-motif yang lebih gelap.
Kasus ini diawali saat Rousseff menghubung Lula melalui telepon untuk memberitahu bahwa dirinya akan menyampaikan keputusan resmi pencalonan Lula sebagai kepala staf, supaya jabatan itu dapat dimanfaatkan "jika diperlukan."
Alhasil, kutipan percakapan semakin menegaskan bahwa pencalonan Lula untuk jabatan kepala staf dimaksudkan menyelamatkannya dari kemungkinan tertangkap akibat jeratan korupsi.
Para menteri kabinet pun hanya bisa berupaya melakukan sesuatu, sebelum Mahkamah Agung di Brasil dan kekebalan menteri sekarang akan melindungi Lula dari tuntutan pengadilan pidana.
Lula sendiri membantah keras terlibat dalam skandal itu. Namun dari hasil penyelidikan disebutkan persekongkolan antara perusahaan konstruksi dengan para eksekutif Petrobras – perusahaan raksasa minyak milik negara – telah merugikan negara sebesar US$ 2 miliar, di mana uang itu digunakan untuk menyuap para politisi dan pihak-pihak yang terlibat dalam persekongkolan.
Sementara itu, kantor kepresidenan Rousseff menyebutkan pembicaraan melalui telepon hanya membahas masalah prosedural.
Tuntut Presiden Mundur
Rekaman percakapan yang dibuka kepada publik ini pun menimbulkan kegemparan di Kongres, di mana para anggota parlemen oposisi yang marah meneriakkan kata-kata "Mundur! Mundur!"
Sekitar dua ribu orang juga secara spontan berkumpul di ibukota Brasil, untuk menuntut Lula dan Rousseff mundur.
"Bukannya mmberikan penjelasan dan memikul tanggung jawab, mantan Presiden Lula lebih memilih untuk melarikan diri lewat pintu belakang," ujar Antonio Imbassahy, anggota parlemen sekaligus ketua majelis rendah untuk partai oposisi PMDB.
Dia menambahkan ini adalah pengakuan bersalah dan tamparan bagi masyarakat. "Dengan mengangkat dia, Presiden Dilma telah menjadi kaki tangannya. Bab terakhir dalam kisah ini akan berujung pada pemakzulannya," kata dia
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




