Pengungsi Sinabung Alami Stres dan Hipertensi

Sabtu, 28 Mei 2016 | 09:14 WIB
AS
B
Penulis: Arnold H Sianturi | Editor: B1

Karo- Pengungsi korban bencana erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), banyak yang mengalami stres dan hipertensi akibat meningkatnya aktivitas gunung merapi tersebut.

"Berbagai penyakit itu muncul karena banyak berpikir dan tidak sanggup lagi mengeluarkan biaya sekolah lanjutan anak - anaknya akibat bencana," ujar seorang pengungsi, Semangat Ginting (45), Jumat (27/5) malam.

Ginting mengatakan, kehidupan pengungsi korban erupsi gunung merapi tersebut sangat memprihatinkan. Apalagi, pengungsi hanya makan lauk nasi dan sayur setiap harinya. Mereka tetap makan tiga kali dalam sehari.

"Ekonomi pengungsi yang mayoritas sebagai petani dan beternak itu benar - benar hancur akibat bencana itu. Apalagi, erupsi Gunung Sinabung sudah berjalan selama enam tahun, terhitung sejak tahun 2010 lalu," katanya.

Menurutnya, gangguan psikologis itu membuat pengungsi banyak yang memberanikan diri untuk kembali ke desa tempat tinggalnya tersebut. Pengungsi mengaku lebih nyaman pulang ke rumah daripada tinggal berlama - lama di pengungsian.

"Kalau kembali ke desa bisa mengurus dan membersihkan tanaman di ladang. Sebagian hasil tanaman dapat dipetik dan dijual ke pasar. Uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan," kata pengungsi lainnya, Herman Tarigan (50).

Herman mengungkapkan, ada ribuan hektare lahan pertanian yang mengalami kerusakan akibat erupsi gunung tersebut. Kerugian pengungsi yang mayoritas hidup dari pengelolaan lahan pertanian itu, jika ditotal mencapai miliaran rupiah.

Sementara itu, aparat TNI dan kepolisian diminta melakukan penjagaan di setiap jalur tikus yang bisa digunakan pengungsi sebagai jalan alternatif untuk memasuki desa, bagian dari kawasan zona berbahaya atas erupsi Gunung Sinabung.

"Kebiasaan orang Karo itu adalah bekerja. Mereka tidak betah jika hanya duduk - duduk di pengungsian. Tidak bekerja justru bisa membuat tubuhnya terasa sakit," ujar seorang tokoh masyarakat di Karo, Jonathan Sembiring (45).

Jonathan mengatakan, kebiasaan terus bekerja dengan bertani itu membuat pengungsi selalu menggunakan jalan alternatif untuk kembali ke desa. Mereka memasuki daerah larangan secara sembunyi bila aparat lemah melakukan pengawasan di setiap pintu masuk menuju setiap desa.

"Jika jalur tikus itu tidak dijaga selama 24 jam maka dapat dipastikan akan membuat pengungsi untuk kembali ke kampung halamannya. Kemarin, saya melihat ada beberapa orang pengungsi yang memasuki zona berbahaya. Mereka kelihatan tidak takut," katanya.

Menurutnya, pengungsi kembali ke desa karena faktor kebutuhan. Mereka yang hidup serba kekurangan di lokasi pengungsian mengambil jalan pintas untuk memasuki desa dengan memetik tanaman yang bisa dipanen. Hasil pertanian itu kemudian dijual pengungsi itu ke pasar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon