2016, Terjadi 230 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Bengkulu

Selasa, 29 November 2016 | 08:12 WIB
U
YD
Penulis: Usmin | Editor: YUD
Setop kekerasan terhadap anak dan perempuan.
Setop kekerasan terhadap anak dan perempuan. (Antara)

Bengkulu - Selama 2016 (Januari-November), telah terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu. Kasus sebanyak ini terjadi di sejumlah kabupaten dan kota di daerah ini.

"Selama 11 bulan terakhir di Bengkulu, telah terjadi 230 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Beberapa kasus di antaranya sempat bergulir ke pengadilan," kata Wakil Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, di Bengkulu, Selasa (29/11).

Ia mengatakan, dari 230 kasus kekekerasan terhadap perempuan dan anak itu, 22 persen di antaranya menyangkut kekerasan seksual yang dialami kaum perempuan.

Bahkan, kasus kekerasan seksual yang terjadi tersebut, sempat menghilangkan nyawa korban, seperti kasus pemerkosaan terhadap Yuyun, siswa SMP Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, beberapa waktu lalu.

Namun, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Bengkulu, kebanyakan tidak diproses secara hukum karena pelaku dan korban memiliki hubungan dekat, seperti suami istri.

Kekerasan terhadap perempuan tersebut, pada umumnya karena faktor ekonomi, dan ada juga disebabkan aksi kejahatan. Kekerasan perempuan karena faktor ekonomi dilakukan orang dekat, seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), katanya.

Untuk mengantisipasi terjadinya kasus kekerasan perempuan karena faktor ekonomi di Bengkulu, maka pemberdayaan terhadap perempuan, seperti dalam bidang ekonomi terus ditingkatkan melalui pelatihan wirausahaan, dan peningkatan ekonomi dengan pelaku usaha perempuan rumah tangga, sehingga penghasilan keluarga meningkat.

Dengan demikian, kekerasan terhadap perempuan karena faktor ekonomi dapat dihindari. "Kita terus memberikan sosialisasi melalui SKPD menekankan pentingnya perempuan dalam kehidupan di masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Cahaya Perempuan Women's Crisis Center (WCC) Bengkulu, Teti Sumari mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan belakangan cendrung meningkat, khususnya dialami oleh perempuan dalam rumah tangga karena faktor ekonomi.

Hal senada diungkapkan Direktur Yayasan Pupa Bengkulu, Susi Handayani. Ia mengatakan, selama 2016, telah terjadi kekerasan terhadap perempuan di Bengkulu, sebanyak 222 kasus.

"Kasus kekerasan terhadap perempuan ini terus meningkat setiap tahunnya. Selama 2016 saja, di Bengkulu telah terjadi 222 kasus. Hal ini harus menjadi semua pihak, termasuk pemerintah daerah, sehingga kasus kekerasan tidak meningkat ke depan," ujarnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon