Pemuda Garda Terdepan dalam Membela Pancasila

Minggu, 7 Mei 2017 | 17:35 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono memberikan keterangan seusai acara Dialog Kebangsaan Ikatan Pemuda Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IPAL) Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu, 6 Mei 2017.?
Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono memberikan keterangan seusai acara Dialog Kebangsaan Ikatan Pemuda Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IPAL) Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu, 6 Mei 2017.? (Istimewa/Asni Ovier/Istimewa)

Jakarta - Peran pemuda dalam menjaga dan mengamalkan Pancasila sangat penting. Pembuda seharusnya berada di garda terdepan dalam menjaga Pancasila, terutama terhadap rongrongan kelompok-kelompok yang ingin mengubah dasar dan bentuk negara.

Hal itu dikatakan S‎taf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono di Jakarta, Minggu (7/5). Diaz menekankan pentingnya peran pemuda untuk melindungi karakter bangsa dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Nilai-nilai Pancasila, kebhinnekaan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ujarnya, harus dipertahankan di tengah derasnya paham-paham dan kelompok-kelompok yang ingin mengubah dasar negara dan falsafah kebangsaan tersebut.

Hal yang ditegaskan Diaz ketika menjadi pembicara kunci dalam acara "Dialog Kebangsaan" yang diselanggarakan Ikatan Pemuda Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IPAL) Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu (6/5).‎ Acara IPAL dihadiri ratusan mahasiswa, pemuda dari berbagai elemen organisasi kemasyarakatan, dan unsur-unsur Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

"‎Pemuda saat ini merupakan salah satu garda terdepan bangsa untuk menjaga keutuhan NKRI. Oleh karena itu dibutuhkan para pemuda yang memiliki karakter yang teguh untuk terus merawat keutuhan dan kedaulatan bangsa dari ancaman paham radikal, anti-NKRI dan kelompok-kelompok yang alergi terhadap Pancasila," kata Diaz.

Ditegaskan, pemuda h‎endaknya mulai fokus memperjuangkan kualitas, tidak hanya kuantitas, dalam mengisi demokrasi Indonesia yang sudah hampir 20  tahun bergulir pasca-Reformasi. Diaz yang juga alumnus Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada 2013 mengungkapkan, bangsa Indonesia sudah seharusnya mulai berpikir lebih dalam tentang esensi demokrasi atau substantive democracy.

Rakyat Indonesia, khususnya kaum muda, jangan hanya berkutat dengan prosedur-prosedur demokrasi atau procedural democracy. Dengan demikian, pemuda dapat menggunakan demokrasi sebagai instrumen untuk mewujudkan tujuan-tujuan bangsa, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Diingatkan Diaz, pemuda berperan penting dalam perubahan sejarah bangsa. Sebagai contoh, Jendral Sudirman menjadi Panglima Besar saat berusia 29 tahun, sementara Sultan Hasanuddin mulai bertahta di Gowa pada umur 22 tahun. Peran pemuda di masa depan pun akan tetap besar, mengingat Indonesia akan menikmati bonus demografi sampai tahun 2030.

"Hal itu semestinya menjadi potensi besar‎, bukan bencana. Pemuda yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membentengi NKRI, bukan malah yang merusaknya," katanya.

Ketua Umum IPAL Muklis Ramlan mengungkapkan, tujuan dialog itu adalah untuk memantapkan nilai-nilai kebangsaan dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi secara global. Sekretaris Jendral IPAL Angga Busra Lesmana menambahkan, acara itu juga sekaligus untuk mengukuhkan kepengurusan Dewan Pengurus Daerah IPAL Sulawesi Selatan.

IPAL adalah wadah berhimpunnya alumni Lemhannas yang mengikuti pendidikan nonreguler Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan (Taplai) di Jakarta. IPAL dibentuk berdasarkan Keputusan Deputi Taplai Gubernur Lemhannas dan berbadan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menkumham pada 2015.

Para alumni Taplai yang mencapai 13.000 orang dan tersebar di seluruh provinsi Indonesia diharapkan akan terus memberikan kontribusi nyata untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon