Ahli: Anemia Ganggu Tumbuh Kembang Anak
Selasa, 8 Agustus 2017 | 17:59 WIB
Jakarta - Ketua Satuan Tugas Anemia Defisiensi Besi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr Murti Andriastuti Sp.A(K) menyebutkan efek jangka panjang kekurangan zat besi atau anemia dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak-anak.
"Efek jangka panjang dari kekurangan zat besi dengan atau tanpa anemia pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, kekebalan tubuh, dan perkembangan otak dimana fungsi kognitif menurun sesuai dengan derajat anemia," kata Murti melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (8/8).
Semua ini, menurut dia, tentunya tergantung dari tingkat anemia yang dideritanya. Anemia dapat disembuhkan, tetapi dampaknya tidak dapat dirubah lagi.
"Saya pikir masalah ini sangat relevan karena negara-negara di Asia berhadapan dengan masalah Anemia, tetapi belum dijadikan prioritas. Sepertinya para dokter lebih berkonsentrasi pada penyakit menular dan degeneratif lainnya," ujar dia.
Chief of Medical Officer Consumer Health-Head of Global Medical Science Department Hans Griek mengatakan apabila Anemia defisiensi besi tidak diobati, maka dapat mempengaruhi kualitas dan harapan hidup secara signifikan.
Menurut dia, Anemia Defisiensi Besi (ADB) telah bertahun-tahun menjadi penyebab utama disabilitas pada anak-anak dan remaja. ADB juga dapat menyebabkan penurunan kinerja, gangguan fungsi kognitif, dan kelelahan jangka panjang.
Prevalensi Anemia masih menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat global dengan jumlah penderita yang mencapai hingga 2,3 miliar diperkirakan 50 persennya disebabkan oleh ADB.
Asia Tenggara dan Afrika terus tercatat memiliki prevalensi anemia tertinggi terhitung 85 persen dari para penderita anemia adalah para wanita dan anak-anak.
Ketua Kesehatan Anak Global (Global Child Health) dari Hospital for Sick Children Toronto Prof Zulfiqar Ahmed Bhutta menekankan statistik yang mengejutkan tentang anemia dan prevalensinya di Asia. Berdasarkan peta pola distribusi anemia pada bayi dan anak-anak dari perkiraan terbaru cukup terlihat jelas bahwa sebagian besar wilayah di dunia yang terkena dampak Anemia adalah Asia Selatan, Asia Tengah Selatan, Asia Tenggara dan Afrika.
"Secara numerik, jika Anda melihat data wanita usia subur antara 15 dan 49 tahun, angkanya sedikit lebih dramatis. Di Asia Tenggara, ada 202 juta wanita yang terkena anemia sedangkan di Pasifik Barat, ada sekitar 100 juta jiwa, 41,8 persen ibu hamil dan kurang lebih 600 juta anak sekolah dasar dan anak usia sekolah di seluruh dunia adalah penderita anemia dimana hampir 60 persen kasus ibu hamil dan sekitar 50 persen dari kasus anak-anak disebabkan oleh kurangnya zat besi," lanjutnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




