Amartha Buka Peluang Investasi P2P Lending
Kamis, 14 Desember 2017 | 18:28 WIB
Jakarta - Layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) begitu pesat, baik secara global, regional, hingga nasional. Industri fintech dinilai memiliki peluang untuk membawa perubahan ke dalam keseluruhan industri keuangan global termasuk di Indonesia. Salah satu pilihan produk investasi yang sedang berkembang pesat saat ini adalah investasi dengan konsep Peer-To-Peer (P2P) micro lending.
PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) sebagai pelopor platform P2P micro lending di Indonesia menawarkan peluang bagi investor yang ingin memberikan akses permodalan, untuk terhubung dengan pengusaha mikro di pedesaan yang membutuhkan pendanaan.
Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked, dengan para investor yang ingin menambah aset investasi di sektor yang lebih menguntungkan dan tentunya bernilai sosial.
"Keunikan lain terletak pada pengusaha mikro atau Mitra Amartha, yang seluruhnya adalah perempuan. Kini, lebih dari 70.000 perempuan pelaku usaha mikro di pelosok Indonesia telah menikmati layanan kami, dengan total dana yang didistribusikan lebih dari US$ 15 juta atau sekitar Rp 200 miliar," kata Andi Taufan, di Jakarta, Kamis (14/12).
Selama 7 tahun berdiri, lanjut Andi Taufan, Amartha berhasil mempertahankan tingkat gagal bayar yang sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh salah satu manajemen risiko yang juga unik, yaitu dengan menerapkan group lending system (pinjaman kelompok) yang memiliki mekanisme tanggung renteng, dimana setiap peminjam akan dikelompokkan ke dalam satu kumpulan yang disebut Majelis.
"Kelompok ini terdiri dari 15 sampai 25 orang peminjam yang tinggal berdekatan. Dengan sistem ini, setiap anggota bertanggung jawab untuk melakukan tanggung renteng atau menanggung risiko secara kelompok, apabila salah satu anggota mengalami kredit macet," jelasnya.
Anggota Dewan Komisaris Amartha dan juga Managing Partner Lynx Asia Partners, Djamal Attamimi, menambahkan, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mayoritas sebesar 49 juta UMKM dinilai masih unbanked dan membutuhkan akses permodalan. Melalui layanan fintech P2P micro lending inilah, para pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang unbanked bisa mendapatkan akses keuangan berupa pinjaman dari investor.
"Jadi, jelas layanan ini juga membuka kesempatan bagi kita untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Inilah mengapa, perusahaan P2P micro lending seperti Amartha terlihat begitu menarik. Apalagi dengan pengalaman Amartha di dunia keuangan dan keunikan mereka dalam mengelola dan mengembangkan bisnis di level bawah. Amartha sungguh dapat menjadi jenis aset (asset class) investasi baru yang potensial," kata Djamal.
Lebih lanjut, Djamal mengatakan, selain menawarkan profit yang menarik, lebih tinggi dari layanan konvensional lain yang sudah ada, Amartha juga mengupayakan agar para investor dapat merasakan transparansi dalam berinvestasi. Amartha, kata dia, mengembangkan sistem skor kredit berdasarkan pendekatan psikometri untuk menilai kelayakan calon peminjam dan mengetahui riwayat pinjaman mereka.
"Skor kredit ini dapat dilihat oleh Investor, sehingga mereka dapat memilih secara langsung calon peminjam yang akan didanai sesuai profil usaha dan mempertimbangkan risiko yang diambil. Selain itu, informasi angsuran juga dapat dipantau secara online dan imbal hasil yang tersedia bisa ditarik dengan mudah," pungkas Djamal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




