Transpatriot Terintegrasi dengan Angkutan Massal Lain
Rabu, 20 Desember 2017 | 10:39 WIB
Bekasi - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi memastikan keberadaan bus Transpatriot akan terintegrasi dengan moda transportasi massal lainnya. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan moda angkutan baru ini.
"Bus Transpatriot memang didesain untuk mengatasi kemacetan di Kota Bekasi, salah satunya solusinya adalah mengajak masyarakat menggunakan kendaraan umum dan meninggalkan kendaraan pribadinya," ujar Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi, Johan Budi Gunawan, Rabu (20/12).
Dia menjelaskan, pelebaran jalan di Kota Bekasi tidak sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan sehingga untuk mengatasi kemacetan di wilayahnya diperlukan terobosan baru dalam bidang transportasi massal.
"Kami tidak dapat mengimbangi pertambahan jumlah kendaraan dengan diiringi pelebaran jalan mesti ada terobosan di bidang transportasi. Salah satunya dengan bus Transpatriot ini. Harapan kami, masyarakat dapat beralih menggunakan transportasi massal yang aman, nyaman serta terjangkau menggunakan Transpatriot ini," tuturnya.
Selain itu, kata dia, solusi yang telah dilakukan oleh Dishub untuk mengurai kemacetan di Kota Bekasi adalah menerapkan rekayasa manajemen lalu lintas yang baik. "Lalu, dengan sistem informasi lalu lintas yang baik. Seorang pengendara harus tahu, dari titik A menuju ke titik B, apakah lalu lintas padat atau macet, kalau terjadi kepadatan pengendara tersebut mencari alternatif jalan yang lain. Seperti aplikasi Waze, ke depan akan kita buat seperti itu," imbuhnya.
Dengan kehadiran Transpatriot, ujar Johan, sebagai upaya agar masyarakat untuk pindah menggunakan moda transportasi massal. "Dengan tarif yang berkisar Rp 3.500, kami ajak masyarakat untuk pindah dan beralih menggunakan Transpatriot ini," katanya.
Dengan menggunakan Transpatriot masyarakat sudah dapat berpergian ke pusat perbelanjaan, apartemen, bus Transjakarta, Transjabodetabek, terminal, stasiun, light rail transit (LRT).
"Transpatriot ini adalah salah satu feeder bus untuk stasiun kereta api, LRT, Tranjakarta, Transjabodetabek," katanya.
Terkait tiket Transpatriot, sambung dia, masih menunggu kajian ekonominya baru ditetapkan oleh Pemkot Bekasi. "Kami masih menunggu kajian ekonominya, sebentar lagi ditetapkan tarifnya. Kami berharap, tarif antara Rp 3.500 hingga Rp 5.000 sudah termasuk subsidi pemerintah daerah," bebernya.
Apabila dibandingkan dengan bus feeder (bus pengumpan) seperti di Perumahan Kemang Pratama, Summarecon Bekasi dan perumahan besar lainnya, menggunakan tarif berkisar Rp 15.000 per penumpang dengan rute Bekasi-Jakarta. "Namun dengan tarif Rp 3.500, masyarakat sudah bisa menggunakan semua moda transportasi. Ini yang kita harapkan," imbuhnya.
Warga berharap, kehadiran Transpatriot ini dapat bermanfaat dan diminati para pengguna. "Kita lihat ke depan, mudah-mudahan Transpatriot dapat menarik minat masyarakt untuk beralih menggunakan kendaraan umum dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Lagi pula, sosialisasinya belum banyak masyarakat yang tahu adanya bus Transpatriot ini," ujar salah warga Bekasi Timur, Erik.
Ojek Online Tambah Kepadatan
Berdasarkan catatan Dishub Kota Bekasi, setiap hari ada pertambahan jumlah pengemudi ojek online (daring) di Kota Bekasi. Saat ini, jumlah pengemudi daring yang berasal dari Kota Bekasi sudah mencapai 3.000 pengendara yang tersebar di 12 kecamatan.
"Setiap hari ada sekitar 500 kendaraan roda dua atau ojek online di Kota Bekasi tapi mereka bukan berasal dari Kota Bekasi. Kebanyakan dari Kabupaten Bekasi, Jakarta, Depok, dan sebagainya. Bisa dibayangkan, volume kendaraan di jalan raya semakin padat dengan kehadiran mereka," ujarnya.
Saat ini, kata Johan, sudah diterbitkan Peraturan Wali Kota (Perwal) Kota Bekasi Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pengaturan Ojek Online.
Perwal tersebut mengatur, lokasi-lokasi yang dilarang sebagai tempat mangkal ojek online seperti Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, dilarang mangkal di bahu jalan, trotoar. Namun, pemerintah daerah telah menetapkan titik-titik mangkal ojek online seperti di Stasiun Bekasi, sekitar Stadion Patriot Candrabhaga, Metropolitan Mal, Giant Mega City Bekasi.
"Kami tidak menolak keberadaan ojek online, hanya mengatur titik-titik yang diperbolehkan untuk mangkal dan titik yang dilarang mangkal," imbuhnya.
Dengan kondisi seperti ini, ujar dia, diperlukan adanya upaya pemerintah daerah untuk menghadirkan moda transportasi yang aman, nyaman dan dapat menarik minat masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum. "Transpatriot ini impian kita telah terwujud, memang masih banyak pembenahan dari transportasi baru ini," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




