Akankah Perdamaian di Semenanjung Korea Terealisasi?
Kamis, 26 April 2018 | 18:11 WIB
Seoul - Korea Utara dan Korea Selatan, yang secara teknis masih dalam status perang sejak 1953, akan mengadakan pertemuan bersejarah. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un akan bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada hari Jumat 27 April 2018 di Panmunjom, sebuah desa yang berada di perbatasan Korut dan Korsel.
Banyak pihak berharap pertemuan nanti akan menjembatani proses perdamaian antara kedua negara, terlebih karena beberapa hari menjelang pertemuan, Korut mengatakan telah melucuti program nuklirnya dan fokus ke meningkatkan perekonomian. Pertemuan tersebut rencananya akan dilanjutkan dengan pertemuan Kim Jong-un dengan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan bulan Mei-Juni nanti.
"Pertemuan Korut dan Korsel ibarat langkah pertama dalam catur. Langkah pertama menentukan langkah-langkah berikutnya. Atmosfir dan ekspektasi akan pertemuan bersejarah ini akan menentukan langkah berikutnya, pertemuan Kim-Trump," kata Mintaro Oba, mantan diplomat AS pengamat kebijakan Korut kepada Guardian.
Menurut Jenny Town, pengamat AS-Korea dari Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Korut sudah menunjukkan keseriusannya dengan melucuti program nuklir. Kim Jong-un tampaknya merasa aman karena program nuklirnya dianggap sudah mampu "menakuti" serangan penjajah dan memiliki daya tawar dalam proses negosiasi.
Korut juga tampak tulus mengulurkan niat damai melalui pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin yang dilaksanakan di Pyeongchang, Korsel. Februari lalu. Kim mengizinkan atlet Korut untuk berkompetisi di Korsel. Olimpiade Musim Dingin ini bisa dilihat sebagai awal menghangatnya hubungan dua Korea, setelah sebelumnya Korut terkena sanksi PBB atas uji coba nuklirnya.
Korsel ingin gencatan senjata dengan Korut ditingkatkan menjadi perjanjian damai formal, dengan syarat Korut melakukan denuklirisasi. Bagi Kim, pertemuan nanti bisa melonggarkan sanksi ekonomi PBB dan meyakinkan dunia, bahwa Korut beritikad baik.
Menurut Town, denuklirisasi Korut bisa dipahami berbeda oleh Korut dengan pemahaman dunia internasional. Bagi Korut, denuklirisasi bisa dipahamai sebagai proses yang memakan waktu puluhan tahun.
"Penting bagi Korut untuk membangun hubungan baik dengan AS dalam jangka panjang karena AS sering mengingkari perjanjian internasional. Jadi, Korut tidak akan mudah percaya dengan janji manis AS, Korut ingin membangun kepercayaan secara bertahap," kata Town.
Kim juga menyadari bahwa melucuti kekuatan militer bisa menimbulkan pemberontakan dan membuat negaranya rentan akan invasi dari Eropa dan AS kalau pemberontakan terjadi. Hal ini seperti yang terjadi terhadap pemimpin Libya Muammar Gaddafi.
Jika perjanjian damai tidak tercapai, paling tidak pertemuan nanti bisa menjadi awal membangun kepercayaan dan itikad baik antara Korut dan Korsel. Setidaknya pertemuan nanti menghasilkan sesi foto bersejarah, jika tidak mencapai kesepakatan damai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




