Asian Games dan Nasionalisme

Minggu, 2 September 2018 | 17:28 WIB
PM
B
Penulis: Paulus Mujiran | Editor: B1
Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata di Semarang. (Sumber: youtube)
Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata di Semarang. (Sumber: youtube)

Tahun 2018 ini menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia karena selain menjadi tahun politik juga menjadi tuan rumah perhelatan olah raga internasional bangsa-bangsa se-Asia bernama Asian Games. Tentulah ini sangat membanggakan karena menjadi promosi Indonesia kepada dunia internasional. Baik keramahtamahan, kuliner, rasa persahabatan, hingga keragaman budaya dapat dikampanyekan kepada para tetamu yang datang ke negeri ini.

Kita juga mendapat hiburan istimewa berupa tontonan para juara. Meski ikut sport jantung namun ada rasa bangga ikut merasakan denyut pertandingan antarbangsa. Ini seperti menjadi katarsis sosial di tengah caci maki dan hiruk pikuk politik yang seperti tidak pernah usai. Kita merasa bahwa ajang Asian Games menjadi sumber pembelajaran yang menyenangkan.

Tanpa ada sekat kebangsaan. Tiada sekat suku, semua membaur jadi satu. Dan Jakarta-Palembang menjadi saksi kemajemukan bangsa menjadi satu.

Meski persiapan terbilang pendek dan terburu-buru (bahasa Jawa: kemrungsung) pada kenyataan kita mampu menyuguhkan tontonan yang membanggakan. Peristiwa pembukaan mengundang decak kagum karena dikemas secara modern dan canggih.

Begitu juga perolehan medali yang luar biasa melampaui target menunjukkan kinerja yang pantas diacungi jempol. Meski sempat ada drama tak sedap dengan penutupan kali item untuk mengusir bau busuk, kenyataan para atlet tidak mengeluh soal gangguan bau busuk.

Momentum olah raga memang memberikan sumbangan besar bagi terciptanya rasa persaudaraan dan solidaritas sebagai bangsa Asia. Bagi Indonesia setidaknya momentum Asian Games memberikan sumbangan nan amat berharga. Pertama, olah raga merupakan aktivitas yang tidak membedakan sekat karena suku, agama, ras, golongan dan budaya, semua melebur dalam aktivitas yang sama dengan menjunjung sportivitas yang tinggi.

Semenjak dulu fungsi olah raga baik pada saat perang maupun damai menjadi alat pemersatu. Dengan olah raga, bangsa-bangsa di dunia tidak mengenal lagi perbedaan. Ini semua karena olah raga tidak mengenal agama dan aliran politik. Meski olah raga sepakbola yang maju di negera Eropa tidak pernah para penonton dari Tanah Air memandang bahwa yang bermain beragama yang berbeda.

Dalam olah raga hanya sportivitas yang tinggi yang dijunjung dan dihargai. Oleh karena itu pada momentum semacam ini menjadi ajang yang tepat untuk mengembangkan perasaan satu Tanah Air satu bangsa dan satu bahasa sebagai Indonesia.

Ada perasaan ikut bangga ketika atlet Indonesia yang berasal dari suku dan agama yang beragam dikalungi medali. Apalagi pada saat mereka menyanyikan Lagu Indonesia Raya karena mendapatkan medali emas. Dari kostum yang dikenakan mereka bahkan berjilbab namun terdapat rasa seperasaan bahwa mereka adalah anak bangsa ini yang berjuang untuk mengharumkan bangsa.

Kedua, melalui aktivitas Asian Games kita tanamkan semangat dan jiwa nasionalisme kebangsaan. Di era yang amat terbuka karena globalisasi dan meluasnya jaringan internet, ancaman persatuan dan kesatuan nasional kian nyata. Hanya melalui persebaran informasi melalui media internet berupa informasi palsu, bohong, menyesatkan persatuan dan kesatuan bangsa bisa hancur.

Banyak bangsa terjerumus kerena perang saudara dan perbedaan pendapat yang tajam karena diadu domba oleh bangsa sendiri. Nasionalisme adalah semangat mencintai bangsa sendiri secara normal. Normal maksudnya mencintai bangsa tidak secara berlebihan dan dengan cara-cara yang wajar.

Kita dapat belajar dari para atlet Indonesia yang berjuang dalam event Asian Games. Mereka sangat termotivasi menyingsingkan lengan dan baju untuk mengharumkan nama baik bangsa. Mereka menyumbang emas, perak dan perunggu dan kini menjadi pembicaraan seantero Tanah Air berkat prestasi mereka.

Tanpa nasionalisme dan keinginan berprestasi mustahil mereka mau melakukan pemusatan latihan dengan berpisah dari keluarga, melakukan pertandingan dengan tekat kuat mengalahkan bangsa lain demi medali yang mengharumkan bangsa. Prestasi para atlet ini pantas kita hargai. Mereka adalah modelmodel kepahlawanan masa kini.

Kejuangan mereka tidak kalah dengan para pahlawan karena mampu mengangkat moral bangsa ini dari kekalahan dan keterpurukan. Betapa tidak, kekalahan demi kekalahan yang merundung bangsa ini pada masa lalu menjadi sumber ejekan dan hinaan bangsa-bangsa lain. Namun dengan prestasi yang gemilang ini kita merasa moral bangsa sudah diangkat.

Kita merasa bangga dengan para atlet. Mereka sudah memberi contoh dengan perjuangan yang tidak mengenal lelah, terbukti prestasi berhasil diraih. Di tengah bangsa yang suka dengan penyinyiran ini ketika harga diri bangsa justru direndahkan oleh sesama anak bangsa, belajarlah dari para atlet.

Ketiga, nasionalisme dan persatuan kesatuan bangsa adalah harta karun bagi bangsa ini yang tidak ternilai harganya. Modal persatuan dan kesatuan yang sudah dirintis dan diperjuangkan oleh para pahlawan pada masa lalu adalah modal berharga yang harus terus diperjuangkan dan dijaga.

Janganlah hanya karena perbedaan kepentingan politik lantas merusak sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Asian Games adalah contoh ketika bangsa-bangsa di dunia khususnya Asia bertanding dalam spor tivitas dan tanggung jawab yang tinggi. Perjuangan mereka layak kita contoh. Kita dapat belajar selama ini demi meraih kekuasaan baik presiden, wakil rakyat, gubernur, bupati, walikota bahkan kepala desa, mereka lakukan dengan memecah belah bangsa.

Mereka lupa bahwa membangun persatuan dan kesatuan dari Sabang sampai Merauke bukanlah persoalan yang mudah Pendek kata event Asian Games telah membantu bangsa ini merenungkan kembali hakikat nasionalisme.

Perasaa bahwa kita dari rumpun yang sama bangsa Indonesia. Perbedaan karena kepentingan pilihan dan afiliasi politik tentu tak boleh memecah belah persatuan. Justru dengan cara seperti ini kita dikuatkan sebagai bangsa yang makin mencintai negeri sendiri.

Paulus Mujiran, Pengamat sosial, Ketua Bidang Organisasi LKKS Provinsi Jawa Tengah



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon