13 Pemicu Stres Pada Anak

Rabu, 13 Juni 2012 | 20:24 WIB
WF
BA
Penulis: WebMD/Nadia Felicia | Editor: B1
Ilustrasi ibu dan anak jalan kaki.
Ilustrasi ibu dan anak jalan kaki. (Corbis/Visualphotos)
Waktu untuk berinteraksi dengan lam, menjaga struktur jadwal, dan komunikasi adalah beberapa hal yang patut diperhatikan orangtua pada kehidupan anak.

Anak-anak dalam masa pertumbuhan memang seharusnya merasa nyaman dan riang untuk bisa bertumbuh serta belajar banyak hal. Sayangnya, hal-hal itu bisa terhambat bila ia merasa stres atau tertekan.

Tekanan-tekanan mental dan stres bisa menyebabkan anak-anak depresi dan membahayakan perkembangan optimalnya.

Berikut ini beberapa hal yang bisa memicu stres pada anak:

Tidak cukup waktu istirahat
Perhatikan jadwal si kecil. Setelah sekolah, apa yang ia lakukan? Cukupkah waktunya untuk beristirahat dan mengambil napas untuk mengurai lelah?

Studi menunjukkan, stres kronis pada anak bisa mengakibatkan penumpukan kortisol, hormon yang bisa meningkatkan nafsu makan dan membuat anak cenderung makan berlebihan. Stres juga bisa memicu pelarian kepada makanan.

Cara terbaik untuk menghadapi kondisi semacam ini adalah untuk mengajar anak memanfaatkan waktu untuk bersantai di sela-sela kesibukannya. Baca majalah, duduk dan berbincang santai, atau berjalan kaki untuk menenangkan diri, apa pun yang bisa membuat otak dan tubuh beristirahat sejenak akan sangat membantu.

Kurang tidur
Waktu tidur yang kurang bisa mengakibatkan anak merasa kelelahan dan mudah marah. Kurang tidur juga bisa mengakibatkan metabolisme rendah serta peningkatan nafsu makan, membuat anak cenderung menjadikan makanan sebagai pelarian, dan umumnya malah mengkonsumsi makanan-makanan tidak sehat, juga malas beraktivitas.

Untuk mengajak anak tidur di waktu yang seharusnya buatlah rutinitas yang membuat anak lebih nyaman. Contoh, membaca buku, pastikan anak tidur di jam yang sama setiap hari.

Sebagai panduan, waktu tidur yang dibutuhkan anak per usianya:
Usia 6 tahun dan lebih muda: 11-13 jam
Usia sekolah: 10-11 jam
Remaja: 8-10 jam
Dewasa: sekitar 8 jam

Masalah uang
Tak hanya orangtua yang merasakan stres akibat uang. Anak-anak juga bisa merasakan tekanan akibat masalah uang. Bisa jadi karena mereka merasa tidak bisa membeli barang-barang yang menjadi tren di kalangan teman sebayanya. Tetapi kadang pula karena si anak merasa ada masalah saja.

Biasakan untuk membuka komunikasi yang nyaman dengan anak dan lebih terbuka mengenai hal-hal di sekitar rumah. Misal, bila Anda dan keluarga biasa pergi berlibur setiap libur sekolah namun tahun ini keuangan tidak memungkinkan, katakan sejujurnya. Contoh, "Tahun ini kita tidak bisa liburan keluar kota. Tapi kita bisa bikin acara seru di rumah saja."

Orangtua yang bertengkar
Saat orangtua bertengkar, anak-anak akan merasa tegang. Ini yang dirasa anak-anak di bawah usia 10 tahun yang mengandalkan keadaan di rumah sebagai dasar keamanan dan kenyamanan dirinya.

Bila secara tak sengaja si kecil mendengar perdebatan atau pertengkaran Anda dan pasangan, cobalah untuk bicara kepadanya mengenai hal itu. Anda bisa mengungkap padanya bahwa setiap orang dewasa pada suatu titik bila berbeda pendapat bisa saja berdebat. Tetapi yang lebih penting untuk diungkap kepada anak adalah orangtuanya mendapatkan solusi dari perdebatan itu.

Orangtua yang stres
Ketika anak melihat orangtuanya stres, mereka akan belajar untuk merespon tekanan dengan cara yang sama. Mereka akan meniru segala hal yang dilakukan orangtuanya. Mereka akan meniru kebiasaan orangtuanya begadang, makan di jalan, atau mudah tersulut amarah atas segala hal.

Tunjukkan pada anak bagaimana Anda menghadapi stres dengan cara yang sehat. Perlihatkan bagaimana Anda juga akan mengambil waktu untuk beristirahat dan merawat diri meski keadaan penuh tekanan.

Teman-teman
Ketika anak mulai duduk di bangku kelas 3-4 SD, mereka akan mulai menilai diri dan membandingkan diri dengan teman-temannya. Perasaan yang sakit atau di-bully oleh teman-temannya bisa membuat anak mencari pelarian, dan biasanya mereka akan mencari ketenangan dalam makanan tak sehat.

Bila komunikasi dengan anak terjalin lancar, perhatikan keluhan-keluhannya. Bila ada keluhan tentang teman-temannya yang membuat ia merasa kesal atau sakit hati, biasanya untuk mendengarkannya agar Anda tetap tahu perkembangan rasa sakitnya. Bila sudah mulai terlihat rasa rendah diri pada anak atau sedih terus menerus, menarik diri dari kehidupan sosial, bicarakan dengan pihak-pihak yang tahu apa yang harus dilakukan. Contoh; pihak sekolah, psikolog, atau siapa pun.

Sekolah
Saat ini kehidupan penuh dengan kompetisi. Bahkan anak kecil pun khawatir tidak bisa bersaing di antara teman-teman sekelasnya atau saat pelajaran tertentu.

Bantu anak untuk mencari aktivitas-aktivitas yang bagus ia lakukan atau senangi, dan berikan dukungan untuk ia terus mempelajarinya. Ajak ia untuk membiasakan diri untuk giat memperdalam hal itu. Berikan perayaan kecil untuk kesuksesan-kesuksesan yang berhasil ia raih. Untuk urusan tugas sekolah, bantu ia untuk lebih rapi, seperti menciptakan daftar mingguan dan mencatat tugas-tugas yang sudah berhasil diselesaikan.

Kebosanan
Anak-anak butuh struktur untuk diikuti serta stimulasi untuk melatih otak. Jadi, waktu kosong setelah sekolah akan membuat mereka gelisah. Bila tidak ada hal yang mereka sukai untuk lakukan, mereka bisa lari atau malah melakukan hal-hal tertentu yang tidak bermanfaat sama sekali, seperti makan makanan junk food atau terlalu lama menoton televisi, main video games, atau menonton televisi.

Sebaiknya susun rencana atau program kegiatan fisik rutin usai sekolah untuk anak, atau kegiatan ekstrakurikuler harian supaya kebutuhannya akan struktur maupun kegiatan fisiknya bisa terpenuhi secara sehat.

Makanan tidak teratur
Melewatkan jam makan besar dengan camilan bisa membuat anak-anak sulit menjaga keseimbangan energi per harinya. Hal ini bisa berakibat buruk bagi kesehatan anak.

Buatlah jadwal makan besar yang rutin tiga kali per hari (sarapan, makan siang, makan malam), serta dua waktu camilan. Sebagai tambahan, waktu makan bersama keluarga beberapa kali per hari bisa meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan anak.

Perubahan dari rutinitas
Anak yang berusia di bawah 6 tahun belum bisa bicara mengenai stres yang ia rasakan. Mereka hanya bisa menunjukkan lewat tingkah polah saat merasa ada yang tidak beres. Perubahan dalam rutinitas, misal; pindah sekolah, pindah lingkungan tempat tinggal, pekerjaan baru bagi ayah atau ibu, bisa mengubah dunia si anak yang bisa membuat tekanan tambahan bagi keluarga pula.

Meski masih ada perubahan pada hidup keluarga, biasakan untuk tetap menjalankan ritual yang sama, seperti jam makan, waktu mendongeng, jalan kaki di sore hari, dan lainnya. Anak akan merasa lebih tenang dan nyaman bila ada rutinitas yang bisa mereka andalkan.

Terlalu banyak waktu di depan monitor
Menonton televisi atau bermain games bisa terlihat seperti waktu istirahat, tetapi terlalu lama menatap monitor tidak semenenangkan seperti membaca buku atau bicara dengan orang lain. Plus, terlalu banyak menatap monitor cenderung membuat seorang ingin mengemil.

Tetapkan kesepakatan dengan anak untuk hanya menonton televisi maksimal 2 jam per hari. Jangan biasakan menaruh camilan di depan televisi. Televisi membuat orang cenderung tidak memerhatikan porsi makanan yang diasup sambil menonton, juga mengurangi waktu berkomunikasi antara keluarga.

Multitasking
Anak remaja bisa terlihat bahagia dan tenang saat mengirimkan pesan singkat kepada teman-temannya sambil mendengarkan musik, sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, tanpa disadari, multitasking atau mengerjakan berbagai aktivitas dalam waktu bersamaan bisa membuat anak-anak stres.

Coba ajarkan anak untuk berkonsentrasi mengerjakan sesuatu dan fokus menyelesaikan satu per satu aktivitas yang ingin ia kerjakan.

Terlalu lama di dalam rumah
Anak dan orang dewasa akan merasa nyaman bila bisa berinteraksi dengan alam yang indah dan nyaman. Satu studi bahkan menunjukkan, pasien di rumah sakit akan merasa lebih nyaman bila bisa menatap pohon rindang dan sehat dari kamarnya.

Jika memungkinkan, ajaklah si anak untuk jalan kaki menikmati udara segar di taman atau sekitar lokasi tempat tinggal. Bila tidak bisa di sekitar rumah, Anda bisa mengakali keadaan. Misal, saat akan menjemput si kecil, parkir mobil agak jauh dari sekolahnya, jadi saat si anak sudah keluar dari sekolah, Anda dan dia bisa berjalan kaki bersama menuju mobil.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon