Pengamat: Jokowi Tanggapi Kritik Prabowo, Bukan Serang Personal

Rabu, 20 Februari 2019 | 21:11 WIB
RW
WM
Penulis: Robertus Wardi | Editor: WM
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019. (SP/Joanito De Saojoao/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat komunikasi politik Arif Susanto mengemukakan, tidak ada serangan pribadi atau personal dari Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) kepada Capres Prabowo Subianto pada debat kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2) lalu. Apa yang disampaikan Jokowi hanya menanggapi kritik Prabowo tentang kebijakan pembagian lahan yang dilakukan selama ini.

"‎Pertama, orang dapat memahami bahwa pernyataan tersebut tidak lebih daripada tanggapan balik Jokowi atas tanggapan Prabowo sebelumnya. Kedua, contoh tentang penguasaan ekstensif lahan itu kontekstual dengan hal yang diperdebatkan. Ketiga, dari pernyataan tersebut, Jokowi tidak memperpanjang persoalan untuk menjadikan Prabowo sebagai bulan-bulanan," kata Arif di Jakarta, Rabu (20/2) malam.

Arif menjelaskan, suatu pernyataan dapat disebut sebagai serangan personal jika hal itu mendegradasi martabat seseorang dan tidak relevan dengan pokok bahasan. Jika Jokowi tampil lebih ofensif dibandingkan biasanya, dan itu mengejutkan bagi lawan, hal itu lebih menunjukkan keberhasilan strategi retorika dibandingkan serangan personal, sejauh pernyataannya berbasis fakta.

Sebagai perbandingan, pada debat 2014, Hatta Rajasa menegaskan visi menjunjung tinggi HAM dan Prabowo menyatakan arah kepemimpinannya. Bertolak dari kedua pernyataan, Jusuf Kalla kemudian menanyakan tentang rancangan kebijakan mereka untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu.

"Pertanyaan ini ofensif dan kontekstual, tetapi bukan merupakan serangan personal," jelas Arif yang juga analis politik pada Exposit Strategic ini.

Menurutnya, sangat‎ normal bahwa dalam suatu debat elektoral terjadi saling serang argumentasi. Batasannya adalah bahwa argumen itu harus berlandaskan data faktual dan tidak merendahkan harga diri lawan. Termasuk merendahkan, misalnya menghina karakter fisik atau menggunjingkan masalah pribadi.

"Selebihnya, debat memang menuntut kemampuan untuk mendeskripsikan keunggulan program, kritis terhadap proposal lawan, dan bertahan dari serangan atau bantahan lawan,"  katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon