Arbi Sanit Sebut Kampanye Terbuka Cenderung Hura-hura
Rabu, 27 Maret 2019 | 16:42 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pakar politik dari Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit, menilai, kampanye terbuka tak banyak mempengaruhi pilihan dalam Pemilu Pilpres dan Pileg. Kampanye terbuka cenderung untuk hura-hura karena tak mungkin bisa memengaruhi pemilih dalam waktu yang singkat.
"Tentu ada pengaruhnya tidak tetapi tidak sebesar yang diharapkan. Kampanye terbuka lebih dominan hura-huranya, sementara daya tariknya tidak ada," ujar Arbi Sanit di Jakarta, Rabu (27/3/2019).
Janji-janji calon presiden (Capres) sejak dari pemilu zaman orde baru tetap sama. Namun, masyarakat Indonesia tetap banyak yang belum keluar dari kemiskinannya.
Selama ini, kata Arbi, janji caleg dan capres akan hilang ditelan bumi setelah perhelatan demokrasi 5 tahunan selesai. Masyarakat hanya sebagai objek di saat-saat menjelang Pemilu.
"Kalau kampanye terbuka seperti bisa saja orang datang ke lokasi kampanye untuk duit Rp 100.000 hingga Rp 200.000 atau sembako. Namun, di tempat pemungutan suara belum tentu memilih calon itu," jelas Arbi Sanit.
Arbi Sanit menyebut jumlah Golput sejak zaman orde baru hingga sekarang tetap masih tinggi. Angka golput itu seolah tidak berubah dari pemilu 40 tahun lalu.
"Kalau golput sama dengan pemilu puluhan tahun lalu, artinya ini kan kampanye terbuka tak terlalu berpengaruh? Rakyat sudah tahu kinerja parpol ini, caleg ini dan capres itu," jelas Arbi Sanit.
Arbi Sanit menambahkan, politisi sekarang mirip dengan lembaga survei yang memuat kesimpulan. "Kalau angka tinggi menang, kalau rendah kalah. Pertanyaanya apakah itu diikuti oleh trust (kepercayaaan)?" tandas Arbi Sanit.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




