Mereka Pergi Setelah Selesai Mengawal Demokrasi
Rabu, 24 April 2019 | 14:25 WIB
Medan, Beritasatu.com - Pesta demokrasi di Tanah Air, 17 April 2019 kemarin, merupakan hari yang sulit terlupakan bagi Sri Erwina Lubis. Saat itu, wanita berusia 40 tahun ini, masih melihat suaminya, Zulkifli Salamuddin (45), sangat bersemangat untuk menjalankan tugas, sebagai bagian dari penyelenggara pemilu.
Suami tercinta itu masih dilihat meninggalkan rumahnya di Jl Karya Jaya Gang Eka Dame, Kecamatan Medan Johor. Zulkifli bergegas pergi ke tempat pemungutan suara (TPS) 43, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Zulkifli adalah petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).
"Mulai pagi sampai pagi hari, saat pemilu sedang dilaksanakan sampai dengan proses penghitungan suara, suami saya tidak pulang ke rumah. Pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB, dia pulang. Suami bilang, pulang lama karena ada selisih suara penghitungan suara," ujar Erwina Lubis, baru-baru ini.
Saat itu, kata ibu beranak tiga tersebut, Zulkifli sudah mengeluhkan kurang enak badan. Namun, itu semua tidak mengurungkan niatnya untuk pergi menghadiri undangan hajatan keluarga. Setibanya di rumah, Zulkifli kembali mandi untuk menyegarkan tubuhnya, kemudian berbaring di tempat tidur.
"Tiba-tiba rasa sakit menyerang bagian dadanya. Suami saya kesulitan bernafas. Tubuhnya terlihat mulai kaku. Kami langsung melarikannya ke Rumah Sakit Mitra Sejati Jl AH Nasution. Pihak medis langsung memompa jantungnya. Jantungnya kembali memperlihatkan aktivitas," katanya.
Erwina pun senang dan bernafas lega. Dia tidak lupa mengucapkan kata alhamdulillah. Tidak lama kemudian, Erwina dipanggil dokter ke dalam ruangan. Erwina langsung syok dan terdiam. Kemudian, Erwina menangis sejadi- jadinya. Ternyata, dokter menyampaikan suaminya tidak bisa tertolong lagi.
"Almarhum meninggal akibat kelelahan. Semasa hidupnya, dia tidak memiliki riwayat penyakit. Almarhum merupakan suami yang menyayangi keluarga. Kami semua sangat terpukul, dan sampai saat ini, masih tidak menyangka, jika bapaknya anak-anak tersebut, sudah tiada," imbuhnya sambil terisak.
Ketua KPU Medan Agusyah Ramadhani Damanik mengaku ikut terpukul begitu mendengar informasi duka tersebut. Sebab, Zulkifli merupakan pejuang demokrasi yang ikut bekerja keras dalam menyukseskan pemilu, 17 April 2019.
"Kita semua sangat sedih mendapat kabar Zulkifli meninggal dunia. Zulkifli salah satu pejuang kami. Tentu kami berharap pada keluarga yang ditinggalkan bisa tabah menghadapi ujian dari Allah SWT. Kita sama-sama berdoa semoga almarhum diterima disisi Allah SWT. Perjuangannya ini saya kira sangat berarti karena dia meninggal untuk memperjuangkan kepentingan bangsa. Ini bakal jadi catatan sejarah bahwa dia sebagai pahlawan demokrasi," sebutnya.
Musibah petugas KPPS meninggal dunia setelah menyelesaikan tugasnya mengawal demokrasi ini juga terjadi di Kelurahan Pulo Padang, Rantau Utara, Labuhanbatu. Petugas KPPS yang menghembuskan nafas diduga akibat kelelahan itu adalah Eva Arnaz (35). Saat pemilu kemarin, Eva bertugas di TPS 21.
"Eva Arnaz jatuh sakit setelah selesai pemungutan suara. Dia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari karena kondisi kesehatannya menurun drastis. Kami juga merasa kehilangan saat mendapat kabar bahwa Eva Arnaz meninggal dunia, Sabtu (20/4/2019). Sore harinya, ibu dua anak itu dimakamkan," ujar Komisioner KPU Labuhanbatu, Zafar Sidiq Pohan.
Menurutnya, Eva Arnaz memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi saat mengawal pesta demokrasi itu. Mulai dari pelaksanaan pencoblosan sampai dengan proses penghitungan suara, Eva Arnaz tetap semangat dalam menjalankan tugasnya.
"Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga keluarganya kuat dan tabah merelakan kepergian Eva Arnaz. Almarhumah merupakan pahlawan demokrasi. Kepergiannya menjadi catatan sejarah di negeri ini," sebutnya.
Di Kabupaten Dairi, seorang polisi pun meninggal dunia setelah mengawal pemungutan suara di Tiga Baru Kecamatan Pegagan Hilir. Polisi itu adalah Aiptu Jonter Siringoringo. Anggota Reskrim Polres Dairi itu pun sudah dikebumikan keluarga di Samosir, Sabtu (20/4).
Jonter meninggal dunia, Kamis (18/4/2019), setelah sempat mendapat perawatan sekitar dua jam di RSUD Sidikalang. Jonter dirawat karena mengeluh sesak napas pascamengamankan pemungutan suara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




