Diaspora Milan Inisiasi Gerakan Cinta NKRI

Kamis, 30 Mei 2019 | 19:46 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Dari kiri ke kanan: Wakil Sekjen DPP Partai Nasdem Hermawi Taslim, moderator Maria Ardianingtyas, dan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro yang juga Alumnus Lemhannas PPSA XXI saat diskusi tentang kebangsaan di Milan, Italia, Rabu, 29 Mei 2019 waktu setempat atau Kamis, 30 Mei 2019 WIB.
Dari kiri ke kanan: Wakil Sekjen DPP Partai Nasdem Hermawi Taslim, moderator Maria Ardianingtyas, dan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro yang juga Alumnus Lemhannas PPSA XXI saat diskusi tentang kebangsaan di Milan, Italia, Rabu, 29 Mei 2019 waktu setempat atau Kamis, 30 Mei 2019 WIB. (Istimewa)

Milan, Beritasatu.com - Diaspora Milan, yakni masyarakat Indonesia yang tinggal di Milan, Italia, menginisiasi Gerakan Cinta NKRI. Gerakan ini bertujuan mendorong masyarakat diaspora untuk secara aktif memperhatikan dan sekaligus terlibat dalam penguatan ikatan NKRI yang berlandaskan Pancasila di dalam negeri.

NKRI yang berlandaskan Pancasila dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika dan yang terwujud dalam UUD 1945 harus diyakini sebagai warisan yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia, terutama bagi generasi sekarang dan generasi-generasi mendatang. Hanya dengan memegang teguh Pancasila yang berBhinneka Tunggal Ika, NKRI akan terus ada.

Inisiasi Gerakan Cinta NKRI dalam diaspora ini merupakan kesimpulan yang tumbuh dalam diskusi kebangsaan di Cafe A Tavola Milan, Rabu (29/5/2019) waktu setempat atau Kamis (30/5/2019) WIB. Diskusi tersebut dihadiri oleh Wakil Sekjen DPP Partai Nasdem, Hermawi Taslim, dan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro, yang juga Alumnus Lemhannas–PPSA XXI dan dipandu oleh moderator Maria Ardianingtyas.

Menurut Hermawi Taslim, bangsa Indonesia di mana pun berada mempunyai hubungan batin yang erat dengan tanah airnya. Masyarakat diaspora mempunyai kewajiban menjaga Pancasila agar terus hidup dan tidak diganti oleh nilai-nilai lain yang berasal dari luar negeri, apalagi yang bertentangan dengan Pancasila.

"Pilpres adalah bagian dan tahapan yg harus dilewati dalam demokrasi. Namun, jika pilpres membuat yang dekat menjadi jauh, ada konflik karena ada perbedaan pilihan politik, adalah tanggung jawab kita bersama untuk memulihkannya. Biarlah Mahkamah Konstitusi menangani sengketa hasil pemilu itu dan aparat penegak hukum menyelesaikan dugaan pelanggaran hukum lainnya," ujar Hermawi Taslim

Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI itu mengatakan, kita tidak perlu menambah persoalan, misalnya dengan ikut-ikutan mengadukan orang lain yang diduga melakukan pelanggaran hukum terkait pemilu. "Kita bangun kembali persaudaraan serta persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa. WNI di luar negeri bisa melakukan penguatan terus terhadap NKRI, baik melalui kehidupan sehari-hari maupun cara lain," ujar Hermawi.

Hermawi Taslim menegaskan pentingnya masing-masing masyarakat diaspora juga menjalankan fungsi diplomasi bagi negara dan bangsa. Sebaliknya, para pejabat terkait perlu memberi perhatian lebih kepada masyarakat diaspora.

Sementara, Putut Prabantoro menegaskan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Jika bangsa lain ingin menguasai Indonesia, persatuan Indonesia yang harus dihancurkan terlebih dulu. Bangsa Indonesia dapat melihat Pilpres 2019 berdampak pada sila ketiga tersebut. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bangsa Jndonesia, termasuk masyarakat diaspora Indonesia untuk menginisiasi "Cinta Tanah Air".

"Oleh Pancasila, kita sudah diajari pola komunikasi yg harusnya terjadi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hikmat kebijaksanaan dalam sila keempat sebenarnya merupakan pola komunikasi yang seharusnya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini dilatarbelakangi oleh manjemuknya bangsa Indonesia," ujar Putut Prabantoro, yang juga Ketua Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (Iska) bidang Komunikasi Politik.

Ditambahkan lebih lanjut oleh Putut Prabantoro, kesalahan dalam komunikasi yg tidak sesuai dengan sila keempat adalah memunculkan politik identitas, yang berlatarbelakang pada pilihan politik, kepentingan pribadi, dan kepentingan kelompok. Itu akan melemahkan dan bukan tidak mungkin memghancurkan sila ketiga.

Oleh karena itu, Forum Diaspora Milan yang antara lain dihadiri oleh Ketut Niken Aprilia (Konsultan Bisnis), Rieska Wulandari (wartawan), Janet Lim (Ketua PPI Milan), dan Mohammad Rumi Djalil (pengusaha) mengusulkan, masyarakat diaspora Indonesia mengambil peran aktif untuk memperkuat ikatan NKKRI. Caranya adalah terus menerus dan tanpa mengenal lelah menyuarakan toleransi dan keberagama, gotong royong, Indonesia yang indah dan masyarakatnya yang ramah.

Sementara itu Tatik Mulyani dan Yuth Marzuki, WNI yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Italia, mengungkapkan, tidak mudah untuk mempertahankan kecintaan kepada Indonesia, khususnya kepada anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan campur, berbeda bangsa. Apalagi, tak ada kepastian masa depan yang lebih baik di Indonesia, sementara di negara lain mereka mendapatkan jaminan sosial yang lebih baik dan nyata. Tak sedikit anak-anak hasil perkawinan berbeda bangsa itu tak memilih jadi WNI.

Walaupun bukan WNI, atau disebut setengah warga Indonesia, papar Tatik, mereka tetap mencintai Indonesia. Bahkan, tidak sedikit yang tetap mengabarkan keindahan Indonesia, tidak hanya kekayaan alamnya, tetapi juga relasi antarwarga Indonesia. Lebih baik setengah Indonesia, tetapi tetap ikut menjaga persatuan dan kesatuan, menjaga NKRI.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon