Masih Ada 185 Warga Pasuruan yang Tertahan di Papua
Rabu, 2 Oktober 2019 | 16:11 WIB
Malang, Beritasatu.com - Sebanyak 120 pengungsi asal Jawa Timur yan terdampak aksi kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, asal Jawa Timur (Jatim) dijadwalkan tiba dengan pesawat angkut personel TNI, Hercules C-130 di Bandara Abdulrachman (Abd) Saleh, Rabu (2/10/2019) siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka menyusul pengungsi kloter pertama sebelumnya yang membawa pulang 40 jiwa yang dipulangkan dengan pesawat sejenis di Bandara Achmad Yani, Semarang dan kemudian diteruskan dengan perjalanan darat transit di Surabaya. Atas peran serta Pemprov Jatim, mereka kemudian mendapatkan pengecekan kesehatan dan uang saku untuk kemudian diantar pulang dengan bus menuju kampung halaman di Kabupaten Sampang, Madura, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lumajang,
"Sesuai informasi dari Papua, warga Jatim yang terpaksa eksodus dari Wamena pascaaksi kerusuhan sebanyak 120 jiwa, terdiri dari 105 orang dewasa dan 15 orang anak-anak," ujar Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Abd Saleh, Malang, Letkol Sus Dodo Agusprio, menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (1/10/2019) sore. Ketika dikonfirmasi ulang, Rabu (2/10) tadi pagi, tidak ada perubahan jadwal maupun jumlah pengungsi yang diangkut Hercules C-130 hari itu dari Papua menuju Malang.
Sementara itu menurut keterangan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Pemprov Jatim, Jonathan Judianto, pengungsi asal Jatim yang berjumlah lebih dari 100 orang itu diberangkatkan dari Sentani, Kabupaten Jayapura, setelah bermalam di Biak. Mereka diturunkan di Bandara Abd Saleh Malang. Jonathan mengaku belum tahu, kota asal atau kampung halaman ke-120 pengungsi Wamena itu. Ia membenarkan para pengungsi perantau asal Jatim itu dilanda ketakutan dan sangat ingin kembali ke Jatim yang tenang dan tenteram.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kemarin mengungkapkan, pihaknya sudah berbicara dengan Danlanud Abd Saleh, di Malang, terkait penyediaan transportasi bagi warga Jatim yang bakal tiba dengan pesawat Hercules dari Papua. Dari lima pesawat Hercules yang dimiliki, hanya tiga pesawat yang bisa diberangkatkan ke Papua dan sisanya dipergunakan untuk persiapan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI pada 5 Oktober mendatang.
"Ya, mereka (para pengungsi asal Jatim) itu sebelumnya diangkut Hercules dari Wamena ke Sentani dan dari Sentani ke Malang," ujar Khofifah yang mantan Menteri Sosial RI itu sambil membenarkan, warga Jatim itu mengaku ketakutan melihat aksi kerusuhan di Wamena, Senin, 23 September baru lalu. Ribuan warga mengungsi dan meminta pemerintah dipulangkan ke daerah asal. Saat ini, sudah ada 40 warga Sampang, Mojokerto dan Lumajang yang tiba pada kloter pertama dan mereka kini sudah berada di kampung halamannya.
Khofifah mengaku segera berkoordinasi dengan kepala daerah kabupaten tempat asal para pengungsi Wamena untuk dicaikan solusi penanganan warganya yang kehilangan mata pencaharian di daerah perantauan.
Tertahan
Sementara itu Camat Nguling, Kabupaten Pasuruan Bunardi secara terpisah semalam mengungkapkan bahwa, ada sekitar 185 jiwa warganya yang merantau ke Wamena, mengadu via telepon masih tertahan di Papua. "Mereka, Selasa (1/10/2019) siang menyatakan belum bisa pulang dan terpaksa tinggal di posko pengungsian," ujar Bunardi. Dari laporan warganya yang sering kontak dengan petugas kecamatan, sebenarnya total warga dari Nguling ada 189 orang. Namun, dua di antaranya tewas dalam kerusuhan. Sementara dua lainnya sudah berhasil pulang ke kampung halamannya di Pasuruan.
"Saat ini masih ada 185 orang yang tertahan di sana. Mereka berada di posko pengingsian. Di Markas TNI di Jaya Pura. Mudah-mudahan mereka termasuk 120 orang yang dipulang dengan pesawat Hercules, Rabu siang," kata dia.
Dari 185 warganya yang nekad merantau ke Wanema sejak beberapa tahun lalu terdiri 155 jiwa berasal dari Desa Kedawang dan sisanya sebanyak 20 jiwa lainnya berasal dari Desa Mlaten, Sudimulyo, Randuati, Watu Prapat, Sumberanyar serta Desa Panunggul, Kecamatan Nguling. Dari infomasi terakhir yang diterimanya warganya yang selamat kini sudah dalam keadaan aman, kendati beberapa di antara mereka terluka akibat kerusuhan.
"Sesuai imbauan Kapolda Papua yang baru, maka mudah-mudahan warga kami tetap tinggal di tempat perantauan dan tidak pulang ke Pasuruan. Mereka itu pejuang keluarga," kata Camat Bunardi.
Dia menambahkan, kondisi sosial ekonomi mereka di daerah asal bisa dikategorikan minimalis karena tanah ladangnya sangat gersang. Mereka merantau ada yang 10 tahun dan ada pula yang baru lima tahun di Wamena. Mereka bisa pulang dua tahun sekali naik kapal.
"Mudah-mudahan mereka sudah tenang. Terpenting, ada jaminan keamanan dari kepolisian dan TNI untuk keselamatan mereka hingga tetap dapat bekerja membangun keluarga sejahtera dan sekaligus ikut memajukan Wamena," kata dia.
Bunardi menambahkan, warganya pada umumnya membuka toko kelontong, tukang ojek dan tukang batu atau kayu. Selama ini mereka rutin pulang dan kalaupun tidak pulang, mereka mengirimkan uang ke keluarganya di Pasuruan untuk dibelikan aset. "Mereka ulet dan cukup berhasil. Karena itu, banyak warga yang tertarik dan ikut merantau ke sana," katanya.
Pada bagian lain Camat Bunardi membenarkan, dua orang warga Jatim tewas saat kerusuhan di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu adalah Untung Edy Cahyono (45) dan Syaiful Mukmin (47), warga Desa Kedawang, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




