Merawat Indonesia Ibarat Memasak di Hotel Mewah

Jumat, 4 Oktober 2019 | 15:06 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Dari kiri ke kanan, Wakil Direktur I Poltekpar Medan Femmy Indriany Dalimunthe, Direktur Poltekpar Medan Anwari Masatip, alumnus PPSA XXI Lemhannas AM Putut Prabantoro, dan Wakil Direktur II Poltekpar Medan Mustafa Kamal, di Poltekpar Medan, Sumatera Utara, Kamis, 3 Oktober 2019.
Dari kiri ke kanan, Wakil Direktur I Poltekpar Medan Femmy Indriany Dalimunthe, Direktur Poltekpar Medan Anwari Masatip, alumnus PPSA XXI Lemhannas AM Putut Prabantoro, dan Wakil Direktur II Poltekpar Medan Mustafa Kamal, di Poltekpar Medan, Sumatera Utara, Kamis, 3 Oktober 2019. (Istimewa)

Medan, Beritasatu.com - Merawat Indonesia yang beragam budaya, agama, suku, ras, kelompok, dan bahasa ibarat memasak serta meramu makanan dengan berbagai bumbu di dapur sebuah hotel besar dan mewah. Ketidaktahuan akan kegunaan dan fungsi bumbu yang beranekaragam itu akan menjadikan sebuah masakan mahal menjadi tak berharga karena tidak ada yang mau menyantapnya.

Kekeliruan memberikan bumbu yang sesuai dengan takaran juga menjadikan sebuah makanan favorit menjadi tanpa harmoni rasa. Demikian ditegaskan alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lembaga Ketahanan Nasisonal (Lemhannas), AM Putut Prabantoro saat memberikan pembekalan kepada 200 mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan, Sumatera Utara, Kamis (3/10/2019).

Tema pembekalan "Kampus dan Masa Depan Indonesia" itu mengambil judul "The Spirit Of Indonesia" dengan menitikberatkan pada apa yang bisa dipelajari dari industri perhotelan.

Menurut Putut Prabantoro, industri perhotelan mengajarkan para mahasiswa, yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan Indonesia, untuk menghargai perbedaan, keberagaman, dan sekaligus persatuan. Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) itu menandaskan, para mahasiswa harus belajar dari seorang chef, barista, dan juga ahli tata graha (houskeeping).

"Sebuah masakan yang enak disantap pada dasarnya sebuah budaya menghargai berbagai perbedaan yang berasal dari masing-masing bahan dasar dan juga bumbunya, yang menjadi satu kesatuan. Justru, karena berbagai perbedaan yang menjadi satu itu sebuah masakan menjadi sebuah cita rasa. Oleh karena itu, karena kepandaian masing-masing pemasak atau chef, bahan yang sama dapat menjadi berbagai jenis masakan yang diminati," ujar Putut Prabantoro.

Para calon pemimpin Indonesia di masa datang itu diminta Putut Prabantoro untuk melihat dan memahami betapa kekayaan berupa budaya, suku, agama, bahasa, dan juga kekayaan alam merupakan bahan material "masakan" yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Dari kekayaan itulah kemudian dapat dijadikan berbagai masakan lezat yang tiada duanya di dunia.

Namun, jika kekayaan yang begitu banyak tersebut tidak dikelola dengan baik, tidak dipahami dengan bijaksana, akhirnya menjadi barang yang mubasir dan tidak berguna.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Putut Prabantoro, para mahasiswa harus percaya terhadap "resep" masakan para master chef dulu, yakni para leluhur, para bapak bangsa, ataupun pendiri negara. Resep masakan dan makanan tradisional itu dibuat karena seluruh bahan material dan bumbunya ada di Indonesia dan tidak ada dari negara asing. Bahkan, karena kekayaan bumbu yang ada di Indonesia, bangsa asing menjajah Indonesia.

"Dalam konteks itu, resep yang dibuat para leluhur sifatnya tidak mengada-ada. Masakan yang dihasilkan bercita rasa Indonesia dan bukan masakan Indonesia dengan cita rasa asing. Hal yang sama juga dengan Pancasila, yang merupakan nilai-nilai luhur yang ada di Indonesia. Jika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ibarat sebuah masakan, maka bumbu-bumbu yang digunakan adalah nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang terwujud dalam Pancasila. Jika NKRI menjadi masakan yang tidak enak dimakan, itu pasti bumbunya bukan Pancasila. Oleh karena itu jangan salah bumbu," tegas Putut Prabantoro, yang juga Ketua Presidium Ikatan Sarjana Katolik (Iska) bidang Komunikasi Politik.

Hal yang sama juga terjadi pada profesi barista, sebutan untuk seseorang yang pekerjaannya memilih, membuat, dan menyajikan kopi kepada pelanggan. Betapa bangsa Indonesia harus bangga dengan berbagai jenis kopi yang lahir di tanah Nusantara ini. Tumbuhan kopi terbentang dari Aceh hingga Papua dan memiliki kekhasan sendiri. Nama kopi itu menjelaskan asal dari tumbuhan itu ditanam atau berasal, seperti kopi Gayo, Sidikalang, Sinabung, kopi NTT, Kopi Toraja, kopi Bajawa, dll.

"Namun, yang terjadi saat ini sebagian anak muda menyukai kopi asing yang dianggap lebih modern dan bergaya hidup. Padahal, kopi asing itu bahannya dari Indonesia dan diolah di negara tujuan dan kemudian dikonsumsi oleh anak muda Indonesia. Seharusnya, bangsa Indonesia dapat membuat kopi-kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Para mahasiswa dapat membuat kopi jenis baru yang merupakan hasil campuran dari berbagai kopi di Indonesia dan kemudian dinamakan kopi NKRI," ujar Putut

Seperti halnya kopi, diurai lebih dalam, di Indonesia terdapat berbagai suku. Semua suku memiliki kekhasan, keunikan dan kehebatannya. Suku-suku ini menjadi berharga dan bernilai ketika hidup berdampingan menjadi satu karena di situlah substansinya. Semua suku dalam ikatan NKRI sama berharganya dan di tangan "barista" masa depan, semua suku di Indonesia akan semakin menjadi kekuatan yang tiada tandingnya. Dan Indonesia membutuhkan banyak "barista" kebangsaan agar kekayaan keberagaman itu menjadi kekuatan yang tak terpecahkan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon