Diet Modernisasi Demi Anak
Senin, 23 Juli 2012 | 17:07 WIB
Hal itu dilakukan agar anak terhindar dari rasa malas yang timbul dan bisa berujung pada masalah akademik.
Sementara itu perilaku agresif juga dapat muncul karena terlalu sering memainkan game yang banyak dihiasi adegan kekerasan.
Saat ini, bisa dikatakan teknologi telah masuk dan menjajah kehidupan kita dari berbagai sisi. Imbas yang bisa dirasakan dan direfleksikan secara instan adalah mulai terkikisnya permainan tradisional seperti petak umpet dan gobak sodor.
Sebaliknya, berbagai hardware dengan aplikasi canggih berhasil mengalihkan dunia anak dengan begitu efektif.
Bagaimana cara kita menyikapinya dengan bijak tanpa harus melawan perkembangan zaman?
Psikolog anak, Irma Gustiana mengatakan bahwa orangtua memiliki peran penting untuk memilah mana yang baik dan buruk untuk sang buah hati.
“Anak generasi sekarang memang lebih banyak dikenal sebagai anak 'gadget' atau anak yang melek teknologi. Anak yang orangtuanya lebih update terhadap gadget lebih memungkinkan anak-anak mereka mengenal dan terpapar teknologi dibandingkan dengan orangtua yang tidak mengenalkan anak dengan teknologi sejak dini. Dibutuhkan kepekaan orangtua untuk bisa memilah dan memilih mainan yang sesuai dengan perkembangan usia dan psikologis anak sehingga tidak memberikan efek negatif,” tutur Irma.
Memang, tidak selamanya kepesatan perkembangan teknologi berimbas buruk bagi anak. Irma menjelaskan, ada berbagai hal positif pula yang bisa didapatkan anak, seperti meningkatnya kecermatan, kecepatan, kemampuan berbahasa, kepercayaan diri dan motivasi, serta kemudahan mencari informasi. Hal itu bisa tercapai berkat tingginya tingkat variasi dan jenis game yang menjadi pilihan anak.
Namun, efek negatif yang bisa didapat tidak kalah besarnya. Anak yang bermain game elektronik dengan frekuensi di atas empat jam dalam sehari berpotensi mendatangkan penyakit obesitas.
Anak juga menjadi kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya atau keluarganya. Lalu anak yang kecanduan bermain game elektronik pun memiliki sedikit waktu untuk merangsang perkembangan motorik kasar (seperti berlari dan meloncat) serta halusnya. Hal ini tentu berbahaya bagi keseimbangan motorik anak.
Melihat hal ini, psikolog anak lainnya, Rose Mini, mengatakan bahwa kita tidak perlu menolak modernisasi.
“Modernisasi jangan ditolak, tapi jangan sampai keblinger juga. Ada dampak positif dan negatifnya. Positifnya, anak jadi tahu tentang teknologi, tapi di sisi lain sosialisasi sang anak pun menjadi kurang. Menurut saya, segala sesuatu bisa diterima, tapi harus dibatasi. Oleh karena itu saya menyarankan orangtua melakukan ‘diet' internet atau ‘diet' menonton TV. Nggak usah dihapus sama sekali, tapi diberikan dengan porsi tertentu,” jelas Rose pada Beritasatu.com, Senin (23/7).
Lalu, masih menurut Rose, orangtua memiliki peran krusial dalam proses tumbuh-kembang anak. Dalam memberi edukasi, orangtua harus bisa membuat mereka bahagia. Salah satunya dengan cara menumbuhkan minat, sehingga sang anak tidak merasa terpaksa atau tertekan dalam menjalankan aktivitasnya. Setelah itu, tugas perkembangannya dapat tercapai dengan sendirinya.
Sementara itu perilaku agresif juga dapat muncul karena terlalu sering memainkan game yang banyak dihiasi adegan kekerasan.
Saat ini, bisa dikatakan teknologi telah masuk dan menjajah kehidupan kita dari berbagai sisi. Imbas yang bisa dirasakan dan direfleksikan secara instan adalah mulai terkikisnya permainan tradisional seperti petak umpet dan gobak sodor.
Sebaliknya, berbagai hardware dengan aplikasi canggih berhasil mengalihkan dunia anak dengan begitu efektif.
Bagaimana cara kita menyikapinya dengan bijak tanpa harus melawan perkembangan zaman?
Psikolog anak, Irma Gustiana mengatakan bahwa orangtua memiliki peran penting untuk memilah mana yang baik dan buruk untuk sang buah hati.
“Anak generasi sekarang memang lebih banyak dikenal sebagai anak 'gadget' atau anak yang melek teknologi. Anak yang orangtuanya lebih update terhadap gadget lebih memungkinkan anak-anak mereka mengenal dan terpapar teknologi dibandingkan dengan orangtua yang tidak mengenalkan anak dengan teknologi sejak dini. Dibutuhkan kepekaan orangtua untuk bisa memilah dan memilih mainan yang sesuai dengan perkembangan usia dan psikologis anak sehingga tidak memberikan efek negatif,” tutur Irma.
Memang, tidak selamanya kepesatan perkembangan teknologi berimbas buruk bagi anak. Irma menjelaskan, ada berbagai hal positif pula yang bisa didapatkan anak, seperti meningkatnya kecermatan, kecepatan, kemampuan berbahasa, kepercayaan diri dan motivasi, serta kemudahan mencari informasi. Hal itu bisa tercapai berkat tingginya tingkat variasi dan jenis game yang menjadi pilihan anak.
Namun, efek negatif yang bisa didapat tidak kalah besarnya. Anak yang bermain game elektronik dengan frekuensi di atas empat jam dalam sehari berpotensi mendatangkan penyakit obesitas.
Anak juga menjadi kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya atau keluarganya. Lalu anak yang kecanduan bermain game elektronik pun memiliki sedikit waktu untuk merangsang perkembangan motorik kasar (seperti berlari dan meloncat) serta halusnya. Hal ini tentu berbahaya bagi keseimbangan motorik anak.
Melihat hal ini, psikolog anak lainnya, Rose Mini, mengatakan bahwa kita tidak perlu menolak modernisasi.
“Modernisasi jangan ditolak, tapi jangan sampai keblinger juga. Ada dampak positif dan negatifnya. Positifnya, anak jadi tahu tentang teknologi, tapi di sisi lain sosialisasi sang anak pun menjadi kurang. Menurut saya, segala sesuatu bisa diterima, tapi harus dibatasi. Oleh karena itu saya menyarankan orangtua melakukan ‘diet' internet atau ‘diet' menonton TV. Nggak usah dihapus sama sekali, tapi diberikan dengan porsi tertentu,” jelas Rose pada Beritasatu.com, Senin (23/7).
Lalu, masih menurut Rose, orangtua memiliki peran krusial dalam proses tumbuh-kembang anak. Dalam memberi edukasi, orangtua harus bisa membuat mereka bahagia. Salah satunya dengan cara menumbuhkan minat, sehingga sang anak tidak merasa terpaksa atau tertekan dalam menjalankan aktivitasnya. Setelah itu, tugas perkembangannya dapat tercapai dengan sendirinya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




