PSBB, Mayoritas Warga Bandung Keluar Rumah karena Takut Kehilangan Pekerjaan

Rabu, 6 Mei 2020 | 09:47 WIB
AM
SL
Penulis: Adi Marsiela | Editor: LES
Polisi memberhentikan pengendara sepeda motor yang berboncengan di Bundaran Cibiru, Kota Bandung, Kamis (23/4/2020). Pemeriksaan dilakukan pihak kepolisian dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Polisi memberhentikan pengendara sepeda motor yang berboncengan di Bundaran Cibiru, Kota Bandung, Kamis (23/4/2020). Pemeriksaan dilakukan pihak kepolisian dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). (Antara/Bagus Ahmad Rizaldi)

Bandung, Beritasatu.com - Mayoritas besar masyarakat yang bepergian semasa pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Bandung, karena takut kehilangan pekerjaannya. Hasil ini didapat dari survei terhadap 310 responden pada delapan titik pemeriksaan masuk Kota Bandung.

Kepala Bidang Manajemen Transportasi dan Parkir, Dinas Perhubungan Kota Bandung, Khairul Rizal memaparkan, survei dengan metode road side interview ini mewawancarai responden saat kendaraannya dihentikan di titik pemeriksaan. Selain menjawab pertanyaan lisan, para pengemudi kendaraan juga diminta mengisi lembar pertanyaan yang sudah disusun Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Bandung.

Rizal menuturkan, sekitar 62 persen responden khawatir kehilangan pekerjaan makanya melakukan perjalanan keluar rumah saat PSBB. Sedangkan 26 persen responden keluar rumah karena khawatir penghasilannya berkurang. Hanya ada 10 persen yang khawatir tertular virus dan 2 persen yang khawatir meninggal.

Dari setiap titik pemeriksaan, petugas bertanya pada sekitar 30-40 responden. Profil pekerjaan responden itu sebanyak 37 persen wirausahawan, 32 persen karyawan, 13 persen buruh lepas, 7 persen bekerja sebagai anggota TNI atau polisi, dan sisanya merupakan gabungan dari profesi lainnya.

"Durasi keluar rumah dari responden yang kami survei itu lebih dari enam jam ada 75 persen, sisanya di bawah dua jam," kata Rizal dalam pernyataan tertulisnya yang diterima, Selasa (5/5/2020).

Tujuan perjalanan, ungkap Rizal, didominasi oleh orang yang hendak bekerja yaitu sebanyak 46 persen. Sedangkan belanja sebanyak 18 persen, pulang ke rumahnya seusai mengunjungi tempat lain sebesar 16 persen, dan sisanya dengan alasan berbeda-beda.

Para responden ini juga mayoritas sudah mengetahui apa itu dan bagaimana PSBB. Sebanyak 81 persen mengaku paham tentang aturan PSBB. Sementara sisanya mengaku belum mengetahuinya.

Terkait pendataan jumlah kendaraan yang masuk ke Kota Bandung, petugas juga mencatat selama PSBB Kota Bandung sejak 22 April 2020 lalu terjadi penurunan rata-rata jumlah kendaraan sebesar 13 persen. Namun pasca hari ke-6 dan 8 PSBB, terjadi kenaikan jumlah kendaraan dengan rata-rata 42 persen. Dominasinya berupa sepeda motor.

Penurunan juga terjadi pada kendaraan yang keluar dari Kota Bandung. Penurunan terbesar terjadi di gerbang tol Pasirkoja.. Sebelum PSBB kendaraan yang keluar sebanyak 7.974 unit, sedangkan setelah PSBB menjadi sekitar tiga ribuan unit. Sedangkan dari gerbang tol Pasteur, jika sebelum PSBB kendaraan keluar Bandung, rata-rata sebanyak 22 ribuan per hari menjadi 17 ribuan.

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial tidak memperpanjang PSBB berdasarkan skala kota yang berakhir 5 Mei 2020 ini. Namun, dia akan mengikuti PSBB untuk wilayah Jawa Barat yang akan berlaku hingga 20 Mei 2020 mendatang.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandung mencatat sejak hari pertama PSBB pada 22 April hingga 3 Mei 2020 ada penambahan 80 kasus positif virus corona, 7 orang meninggal, dan 5 orang sembuh. Merujuk pada pencatatan pada 17 Maret-3 Mei 2020, penambahan kasus positif terbanyak terjadi pada 26 April 2020 sebanyak 36 kasus.

Berdasarkan hasil perhitungan secara matematika, laju pertumbuhan kasus positif Covid-19 mengalami perlambatan sebesar 0,03 persen. Demikian pula dengan angka kematian sebesar 0,03 persen, serta laju angka kesembuhan sebesar 0,04 persen dibandingkan dengan hari pertama PSBB.

Secara kumulatif, jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Bandung mencapai 235 orang hingga 5 Mei 2020 dengan 35 orang diantaranya meninggal dunia dan 22 orang sembuh.

Koordinator Bidang Perencanaan, Data, Kajian, dan Analisa Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung, Ahyani Raksanagara memaparkan, perhitungan dari akademisi yang bekerjasama dengan pemerintah kota memperlihatkan angka reproduksi kasus pada 22-28 April 2020 sebesar 1,06.

"Angka reproduksi yaitu kemampuan orang menularkan dalam populasi, kalau angka itu di atas 1 itu kecil masih bisa dikendalikan. Kalau di bawah 1 berarti berhenti," ujar Ahyani.

Penurunan angka reproduksi kasus itu, ungkap Ahyani, tidak lepas dari pemberlakukan PSBB yang ditopang kinerja tenaga medis dalam melacak, memeriksa, dan mengisolasi orang yang dicurigai terpapar Covid-19. Angka reproduksi ini jadi indikator pengendalian dan penekakan risiko jangkauan penularan virus.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon