BNPT: Jumlah Masyarakat Berpaham Radikal Capai 20.000

Selasa, 27 Oktober 2020 | 15:56 WIB
FA
IC
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: CAH
Direktur Pencegahan BNPT RI, Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid
Direktur Pencegahan BNPT RI, Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid (Beritasatu.com)

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) mengingatkan jika jumlah masyarakat yang terpapar paham radikal di Indonesia sudah akut dan tinggi. Menurut hitungan BNPT mereka yang radikal dan masuk dalam jaringan teror baik itu JI ataupun JAD, dan lain-lain, termasuk keluarganya di estimasi sekitar 17.000-20.000-an termasuk keluarganya.

Hal ini dikatakan Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwahid dalam webinar Sumpah Pemuda dengan tema Mengatasi Bahaya Laten yang diselenggarakan oleh Beritasatu, Selasa (27/10/2020).

"(Tapi) dengan kekuatan Polri, dalam hal ini Densus sekitar personil 2.424, Insyaallah kita bisa mengcover dengan segala peralatan dan sebagainya. Tetapi ketika kita berbicara secara hulu, maka di sini ada (banyak) mereka yang belum terpapar yang merupakan mayoritas atau silent majority (ini yang harus diperhatikan)," kata Ahmad.

Karena yang perlu digaris bawahi adalah akar dari radikalisme-terorisme itu ideologinya. Setiap manusia punya potensi terpapar radikal-terorisme karena radikal yang mengatasnamakan agama itu bukan monopoli salah satu agama, tetapi ada di seluruh agama dan diseluruh sekte. Juga ada di seluruh kelompok.

"Potensial ada di seluruh individu manusia. Saya mencoba menjelaskan mumpung ada guru saya (pembicara lain) yang sangat paham akan teori atau ilmu kriminologi. Jadi kalau kita bicara radikal terorisme itu kan sebagai extra ordinary crime atau sebagai crime atau sebagai kriminal. Lebih tepatnya kami pendekatannya ilmu kriminologi supaya bisa menjelaskan secara komprehensif," urainya.

Setiap manusia punya potensi untuk terpapar radikal karena memang akar masalah radikalisme-terorisme adalah ideologi. Potensi radikal tadi akan menjadi niat atau motif radikal kalau dipicu atau didorong oleh faktor korelatif. Faktor-faktor itu apa yang pertama, yang paling dominan adalah politisasi agama.

Yang kedua adalah pemahaman agama yang menyimpang atau tidak kaffah atau bertentangan dengan nilai-nilai rahmatan lil alamin. Kemudian faktor kemiskinan. sangat potensial untuk pemicunya munculnya radikalisme dan terorisme tetapi itu bukan akar masalah pemicu.

"Sehingga dikatakan (meski ada) 20 -27 Juta orang miskin di Indonesia tapi tidak semua menjadi teroris atau radikalisme. Karena itu hanya pemicu bukan akar permasalahan. Masalah ketidakpuasan, masalah kebencian, dendam kemudian juga sistem politik ataupun sistem hukum yang masih lemah (juga jadi pemicu, tapi) masalah utama radikal terorisme bukan diterorisme nya tapi diradikalismenya," tambahnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon