Hubungan Indonesia-China Perlu Diperluas

Senin, 3 September 2012 | 21:58 WIB
AS
B
Penulis: Antara/ Didit Sidarta | Editor: B1
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dipersilahkan oleh Presiden china Hu Jintao, untuk melakukan inspeksi pasukan kehormatan, dalam kunjungan di Beijing (23/3). Presiden Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan selama sepekan ke China dan Korea Selatan untuk mendiskusikan hubungan ekonomi dan keamanan nuklir
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dipersilahkan oleh Presiden china Hu Jintao, untuk melakukan inspeksi pasukan kehormatan, dalam kunjungan di Beijing (23/3). Presiden Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan selama sepekan ke China dan Korea Selatan untuk mendiskusikan hubungan ekonomi dan keamanan nuklir (DPA)
"Masing-masing pihak dari yang melakukan kerja sama, pasti memfokuskan pada kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, kerap tidak fokus pada kepentingan nasionalnya."

Tenaga ahli Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Wardiyono Suwaryo, mengatakan hubungan bilateral Indonesia dan China masih perlu diperluas, terutama menyangkut kepentingan politik Indonesia untuk mendukung ketahanan nasional.

"China kini menjadi salah satu negara yang maju di berbagai bidang baik ekonomi, politik maupun pertahanannya," kata Wardiyono, di Beijing, saat memimpin peserta pendidikan reguler angkatan ke-47 Lemhannas melakukan kunjungan kerja ke China, Senin (3/9).
 
Kemajuan China di berbagai bidang tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya alam, sumber daya manusia yang banyak, dan kemampuan untuk membeli sumber daya dari negara lain yang tidak dimilikinya, antara lain dari Indonesia.

"Indonesia memiliki bahan tambang yang banyak. China sangat membutuhkan untuk mendorong roda industrinya. secara politik dan ekonomi Indonesia juga harus memikirkan ketersediaan bahan tambangnya untuk alam negeri. Karena ketahanan energi, ketahanan pangan di dalam negeri juga penting untuk menjaga ketahanan nasional," katanya.

Wardiyono menekankan dalam setiap kerja sama internasional yang dilakukan kepentingan nasional menjadi sangat penting.

"Masing-masing pihak dari yang melakukan kerja sama, pasti memfokuskan pada kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, kerap tidak fokus pada kepentingan nasionalnya," kata Wardiyono.

Diplomasi, militer, dan ekonomi disebutnya saling mendukung satu sama lain. Jika ketiganya bisa dibangun secara integral, maka kepentingan nasional, ketahanan nasional dapat diwujudkan maksimal. Menurut Wardiyono,  hal itulah yang dilakukan China, sehingga kini menjadi negara yang diperhitungkan.

Peserta didik PPRA ke-47 Lemhannas melakukan studi banding industri pertahanan dan sosial kemasyarakatan China di Beijing dan Shanghai, serta mengkaji bagaimana hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin baik dapat mendukung kepentingan serta ketahanan nasional secara maksimal.

Selain China untuk 2012 Lemhannas juga mengirimkan peserta didiknya ke Filipina, Thailand dan Selandia Baru.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon