BSSN: Indonesia Harus Siaga Hadapi Serangan Siber
Sabtu, 12 Desember 2020 | 18:04 WIB
Bali, Beritasatu.com - Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, menyebabkan keamanan siber menjadi isu strategis di berbagai negara. Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian mengatakan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam instruksinya dalam peringatan HUT RI ke 75 tahun 2020 menyampaikan bahwa Indonesia harus siaga menghadapi ancaman kejahatan siber, termasuk kejahatan penyalahgunaan data.
Hal tersebut disampaikan Hinsa Siburian dalam Simposium strategi keamanan siber nasional (SKSN) dalam rangka mendukung penyusunan kerangka regulasi literasi media dan literasi keamanan siber yang digelar di Nusa Dua Bali.
"Data adalah jenis kekayaan baru bangsa Indonesia, kini data lebih berharga dari minyak. Sehingga, dalam bidang pertahanan keamanan, Indonesia juga harus tanggap dan siap menghadapi perang siber," ungkap Hinsa Siburian dalam keterangan pers, Sabtu (12/12/2020).
Simpisum yang digelar secara daring itu diharapkan akan meningkatkan kewaspadaan Indonesia dalam menghadapi ancaman kejahatan siber, termasuk kejahatan penyalahgunaan data.
Ditambahkannya, terjadinya pandemi Covid-19 saat ini turut mengakselerasi transformasi digital di seluruh dunia. Indikasinya adalah terjadinya peningkatan yang signifikan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di kehidupan masyarakat.
"Peningkatan traffic internet dan maraknya penggunaan aplikasi daring turut dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melancarkan serangan siber, seperti malware, phising, SQL injection, hijacking, dan distributed denial of service (DDOS). Oleh sebab itu, strategi keamanan siber nasional (SKSN) perlu diarahkan pada kebijakan nasional yang memuat visi, misi, landasan pelaksanaan, peran pemangku kepentingan, dan fokus area kerja dalam rangka menciptakan lingkungan strategis yang menguntungkan. Hal ini guna mempertahankan dan memajukan kepentingan nasional di tingkat global melalui perwujudan keamanan siber nasional," lanjutnya.
Berdasarkan data BSSN dalam periode Januari-November 2020, BSSN mendeteksi telah terjadi serangan siber sebanyak lebih dari 423 juta serangan. Jumlah ini lebih banyak hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan jumlah serangan di periode yang sama pada tahun 2019.
"Adapun serangan menjadi tren dalam masa pandemi Covid-19 ini adalah pencurian data melalui malware. Hal ini menjadi perhatian karena serangan yang terjadi di dunia maya dapat menyebabkan kerusakan dan terganggunya stabilitas di dunia nyata sehingga peran dan tanggung jawab keamanan siber berada pada seluruh lapisan masyarakat. Kolaborasi keamanan siber nasional menjadi kunci utama dalam membangun ruang siber yang aman dan kondusif," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




