Jadi Pengangguran Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung
Selasa, 20 November 2012 | 22:27 WIB
Kehilangan pekerjaan membuat orang stres yang bisa memicu serangan jantung.
Sebuah penelitian terkini menemukan, bahwa menjadi pengangguran di usia 50-an dan awal 60-an dapat meningkatkan risiko serangan jantung dengan besaran yang sama seperti merokok.
Penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 13.000 orang di AS ini menunjukkan, bahwa risiko serangan jantung naik sebesar seperempat pada tahun pertama setelah kehilangan pekerjaan, dan meningkat secara bertahap dengan pemecatan lanjut.
Namun risiko tersebut tidak terlihat pada orang yang mengundurkan diri secara sukarela. Para ahli menduga itu terjadi, karena stres yang dialami oleh mereka yang kehilangan pekerjaan.
Untuk mengeksplorasi keterkaitan ini, para peneliti mengatakan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
The British Heart Foundation berpendapat, bahwa stres itu sendiri bukanlah penyebab langsung dari penyakit jantung, meskipun mungkin berkontribusi terhadap tingkat risiko.
Dalam studi terbaru yang berlangsung hampir 20 tahun, ada serangan jantung yang dialami lebih dari 1.000 orang di antara 13.451 peserta.
Ketika para peneliti khusus mengamati siapa saja yang mengalami hal ini, para peneliti menemukan sejumlah tren.
Lelaki dan perempuan dalam studi yang merokok, kelebihan berat badan dan jarang atau tidak melakukan latihan fisik ringan, lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung.
Demikian juga orang-orang yang lebih tua dan mereka yang memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes.
Selain memperhitungkan berbagai faktor tersebut, para peneliti juga menemukan, bahwa kehilangan pekerjaan juga secara independen terkait risiko serangan jantung.
Serangan jantung, lanjut mereka, secara signifikan (27 persen) lebih umum terjadi di antara orang-orang yang baru menganggur, terlepas dari jenis pekerjaan.
Dan efeknya kumulatifnya adalah kemungkinan risiko serangan jantung bisa naik dua pertiga (63 persen) pada orang-orang yang telah kehilangan empat atau lebih pekerjaan.
Untuk mereka yang merokok, lanjut para peneliti, kemungkinan serangan jantung naik sebesar hampir setengah (44 persen).
Bila Anda mengalami hal ini, Dr Donna Arnett dari American Heart Association menyarankan untuk melakukan beberapa latihan fisik demi mengurangi tingkat stres. Dengan begitu dampak buruknya pun bisa diminimalkan.
Sebuah penelitian terkini menemukan, bahwa menjadi pengangguran di usia 50-an dan awal 60-an dapat meningkatkan risiko serangan jantung dengan besaran yang sama seperti merokok.
Penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 13.000 orang di AS ini menunjukkan, bahwa risiko serangan jantung naik sebesar seperempat pada tahun pertama setelah kehilangan pekerjaan, dan meningkat secara bertahap dengan pemecatan lanjut.
Namun risiko tersebut tidak terlihat pada orang yang mengundurkan diri secara sukarela. Para ahli menduga itu terjadi, karena stres yang dialami oleh mereka yang kehilangan pekerjaan.
Untuk mengeksplorasi keterkaitan ini, para peneliti mengatakan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
The British Heart Foundation berpendapat, bahwa stres itu sendiri bukanlah penyebab langsung dari penyakit jantung, meskipun mungkin berkontribusi terhadap tingkat risiko.
Dalam studi terbaru yang berlangsung hampir 20 tahun, ada serangan jantung yang dialami lebih dari 1.000 orang di antara 13.451 peserta.
Ketika para peneliti khusus mengamati siapa saja yang mengalami hal ini, para peneliti menemukan sejumlah tren.
Lelaki dan perempuan dalam studi yang merokok, kelebihan berat badan dan jarang atau tidak melakukan latihan fisik ringan, lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung.
Demikian juga orang-orang yang lebih tua dan mereka yang memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes.
Selain memperhitungkan berbagai faktor tersebut, para peneliti juga menemukan, bahwa kehilangan pekerjaan juga secara independen terkait risiko serangan jantung.
Serangan jantung, lanjut mereka, secara signifikan (27 persen) lebih umum terjadi di antara orang-orang yang baru menganggur, terlepas dari jenis pekerjaan.
Dan efeknya kumulatifnya adalah kemungkinan risiko serangan jantung bisa naik dua pertiga (63 persen) pada orang-orang yang telah kehilangan empat atau lebih pekerjaan.
Untuk mereka yang merokok, lanjut para peneliti, kemungkinan serangan jantung naik sebesar hampir setengah (44 persen).
Bila Anda mengalami hal ini, Dr Donna Arnett dari American Heart Association menyarankan untuk melakukan beberapa latihan fisik demi mengurangi tingkat stres. Dengan begitu dampak buruknya pun bisa diminimalkan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




