Klub Berhutang Gaji Pemain, Kerap Terjadi di Indonesia
Selasa, 4 Desember 2012 | 17:22 WIB
Kasus gaji yang belum dibayarkan klub kepada pemain ternyata sering dilakukan klub Indonesia.
Gaji para pemain yang tak juga dibayarkan klub ternyata tak hanya menimpa Diego Mendieta. Baik klub yang bernaung di bawah PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia) maupun KPSI (Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia) ternyata melakukan hal yang sama.
Mantan penyerang Persis Solo itu akhirnya meninggal dunia, Selasa (4/12) karena tak memiliki biaya menyembuhkan penyakitnya, akibat gaji yang ditahan pihak klub.
Tapi tak hanya Diego yang mengalami hal itu, menurut rekan satu tim almarhum di Persis Solo, Taji Prasetyo, ada banyak pemain yang mengalami hal tersebut.
Pemain muda lainnya pun mengaku kondisi krisis sepakbola Indonesia saat ini memang memprihatinkan dan kejadian meninggalnya pemain juga bukan yang pertama kalinya terjadi.
"Kalau masalah Diego ini bukan cerita baru. Sudah banyak kejadian kaya begini, sebelumnya ada Bruno pemain Persikota," kata Fikhi Ramadhan, mantan pemain Pemuda Jaya, Divisi II Liga Indonesia.
Fikhi mengaku prihatin dengan kejadian ini, terlebih almarhum tinggal sendiri di Indonesia dan meninggal sebelum mendapat hasil apa-apa.
"Hampir semua klub di Indonesia begitu, bahkan ada yang belum dibayar dari tahun lalu sampai sekarang, yang saya dengar kaya Persitara ISL. Abang saya juga begitu," kata Fikhi.
Diketahui, sang kakak sempat bermain di tim Persiwa Wamena musim lalu dan kini bergabung dengan Persepam Madura United dengan alasan yang sama.
"Saya rasa telat sebulan dua bulan itu wajar, tapi yang jadi pertanyaan kalau ada yang sampai empat bulan dan seterusnya, itu kemana uangnya gitu?," tanyanya.
Dirinya sebagai mantan pemain Divisi II Liga Indonesia juga mengaku sering mengalami keterlambatan turunnya gaji. Kendati begitu ia terus mencoba menerimanya dengan satu tujuan, yaitu menjadi pemain yang semakin baik dan dapat membela nama Indonesia pada nantinya.
Namun, sejak terjadinya dualisme yang terjadi pada asosiasi sepak bola yang kini terpecah pada kubu PSSI dengan KPSI, saat ini kurang ada perhatian untuk divisi-divisi yang ada dibawah.
Imbasnya setelah sempat terombang-ambing, tim Pemuda Jaya yang dibela Fikhi akhirnya harus dibubarkan.
Gaji para pemain yang tak juga dibayarkan klub ternyata tak hanya menimpa Diego Mendieta. Baik klub yang bernaung di bawah PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia) maupun KPSI (Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia) ternyata melakukan hal yang sama.
Mantan penyerang Persis Solo itu akhirnya meninggal dunia, Selasa (4/12) karena tak memiliki biaya menyembuhkan penyakitnya, akibat gaji yang ditahan pihak klub.
Tapi tak hanya Diego yang mengalami hal itu, menurut rekan satu tim almarhum di Persis Solo, Taji Prasetyo, ada banyak pemain yang mengalami hal tersebut.
Pemain muda lainnya pun mengaku kondisi krisis sepakbola Indonesia saat ini memang memprihatinkan dan kejadian meninggalnya pemain juga bukan yang pertama kalinya terjadi.
"Kalau masalah Diego ini bukan cerita baru. Sudah banyak kejadian kaya begini, sebelumnya ada Bruno pemain Persikota," kata Fikhi Ramadhan, mantan pemain Pemuda Jaya, Divisi II Liga Indonesia.
Fikhi mengaku prihatin dengan kejadian ini, terlebih almarhum tinggal sendiri di Indonesia dan meninggal sebelum mendapat hasil apa-apa.
"Hampir semua klub di Indonesia begitu, bahkan ada yang belum dibayar dari tahun lalu sampai sekarang, yang saya dengar kaya Persitara ISL. Abang saya juga begitu," kata Fikhi.
Diketahui, sang kakak sempat bermain di tim Persiwa Wamena musim lalu dan kini bergabung dengan Persepam Madura United dengan alasan yang sama.
"Saya rasa telat sebulan dua bulan itu wajar, tapi yang jadi pertanyaan kalau ada yang sampai empat bulan dan seterusnya, itu kemana uangnya gitu?," tanyanya.
Dirinya sebagai mantan pemain Divisi II Liga Indonesia juga mengaku sering mengalami keterlambatan turunnya gaji. Kendati begitu ia terus mencoba menerimanya dengan satu tujuan, yaitu menjadi pemain yang semakin baik dan dapat membela nama Indonesia pada nantinya.
Namun, sejak terjadinya dualisme yang terjadi pada asosiasi sepak bola yang kini terpecah pada kubu PSSI dengan KPSI, saat ini kurang ada perhatian untuk divisi-divisi yang ada dibawah.
Imbasnya setelah sempat terombang-ambing, tim Pemuda Jaya yang dibela Fikhi akhirnya harus dibubarkan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




