PSSI Dipersalahkan, Djohar Keheranan
Selasa, 11 Desember 2012 | 23:44 WIB
Ketum PSSI Djohar Arifin Husin mengaku kalau ancaman sanksi dari FIFA terjadi karena ada pihak-pihak yang tidak mematuhi MoU yang sudah disepakati sebelumnya.
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin merasa heran pihaknya disalahkan atas ancaman sanksi FIFA yang kemungkinan akan segera dijatuhkan kepada persepakbolaan Indonesia.
"Kenapa kami dihukum? Kami sebagai anggota FIFA resmi tidak dalam posisi yang salah. Karena yang mengacaukan persepakbolaan Indonesia itu adalah suatu kelompok," tanya Djohar.
Lebih lanjut Djohar mempertanyakan logika orang-orang yang selama ini menyalahkan PSSI.
"Logikanya di mana? Mestinya kami dibantu untuk menyelesaikan masalah, bukan seharusnya dihukum," ujarnya.
PSSI merasa telah berniat baik untuk mematuhi nota kesepahaman (MoU) dengan menyelenggarakan kongres di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Namun kongres itu justru tidak dianggap sah oleh pemerintah karena dianggap menyalahi MoU Kuala Lumpur dengan tidak menyertakan anggota Kongres Luar Biasa (KLB) Solo dari pihak KPSI.
Organisasi sepak bola pimpinan Djohar itu menyalahkan KPSI sebagai awal mula ancaman sanksi FIFA.
"KPSI itu dalam posisi yang salah. Mereka tetap menjalankan kompetisi tandingan. Selain itu mereka melarang pemainnya bergabung dengan Timnas Indonesia. Parahnya mereka membuat timnas versi mereka sendiri," jelas Djohar.
Maka dari itu, KPSI dianggap bersalah oleh PSSI.
Sebelumnya, telah dibentuk Komite bersama (JC) yang diisi PSSI dan KPSI untuk menyelesaikan kisruh dualisme. Tapi kubu PSSI menilainya sebagai suatu komite yang semakin membuat permasalahan semakin rumit.
"JC merupakan gabungan PSSI dan KPSI, tapi justru pada akhirnya komite itu memang dirancang mengeluarkan keputusan deadlock (buntu) oleh salah satu kelompok," beber Djohar.
Dalam beberapa keputusan kongres PSSI di Palangkaraya, PSSI membatalkan JC dan MoU Kuala Lumpur. Alasannya KPSI dianggap tidak berniat mematuhi MoU yang sudah disepakati.
Dengan hasil itu, maka sanksi FIFA semakin dekat kepada Indonesia.
Alasannya Indonesia dianggap tidak menjalankan kongres dengan memasukkan peserta KLB Solo.
Mengetahui hal itu, PSSI tengah melobi FIFA agar Indonesia terhindar dari sanksi.
"Saya bersama tiga anggota PSSI akan datang ke Jepang untuk melakukan konsultasi dengan FIFA sekaligus menjelaskan duduk masalah di Indonesia," kata Djohar.
Kedatangan mereka sebenarnya merupakan suatu agenda tahunan untuk menghadiri babak semifinal dan final Piala Konfederasi. Tapi Djohar mengaku akan memanfaatkan kesempatan itu untuk melobi FIFA.
"Kami akan memanfaatkan situasi itu untuk melaporkan situasi persepakbolaan Indonesia," jelas Djohar.
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin merasa heran pihaknya disalahkan atas ancaman sanksi FIFA yang kemungkinan akan segera dijatuhkan kepada persepakbolaan Indonesia.
"Kenapa kami dihukum? Kami sebagai anggota FIFA resmi tidak dalam posisi yang salah. Karena yang mengacaukan persepakbolaan Indonesia itu adalah suatu kelompok," tanya Djohar.
Lebih lanjut Djohar mempertanyakan logika orang-orang yang selama ini menyalahkan PSSI.
"Logikanya di mana? Mestinya kami dibantu untuk menyelesaikan masalah, bukan seharusnya dihukum," ujarnya.
PSSI merasa telah berniat baik untuk mematuhi nota kesepahaman (MoU) dengan menyelenggarakan kongres di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Namun kongres itu justru tidak dianggap sah oleh pemerintah karena dianggap menyalahi MoU Kuala Lumpur dengan tidak menyertakan anggota Kongres Luar Biasa (KLB) Solo dari pihak KPSI.
Organisasi sepak bola pimpinan Djohar itu menyalahkan KPSI sebagai awal mula ancaman sanksi FIFA.
"KPSI itu dalam posisi yang salah. Mereka tetap menjalankan kompetisi tandingan. Selain itu mereka melarang pemainnya bergabung dengan Timnas Indonesia. Parahnya mereka membuat timnas versi mereka sendiri," jelas Djohar.
Maka dari itu, KPSI dianggap bersalah oleh PSSI.
Sebelumnya, telah dibentuk Komite bersama (JC) yang diisi PSSI dan KPSI untuk menyelesaikan kisruh dualisme. Tapi kubu PSSI menilainya sebagai suatu komite yang semakin membuat permasalahan semakin rumit.
"JC merupakan gabungan PSSI dan KPSI, tapi justru pada akhirnya komite itu memang dirancang mengeluarkan keputusan deadlock (buntu) oleh salah satu kelompok," beber Djohar.
Dalam beberapa keputusan kongres PSSI di Palangkaraya, PSSI membatalkan JC dan MoU Kuala Lumpur. Alasannya KPSI dianggap tidak berniat mematuhi MoU yang sudah disepakati.
Dengan hasil itu, maka sanksi FIFA semakin dekat kepada Indonesia.
Alasannya Indonesia dianggap tidak menjalankan kongres dengan memasukkan peserta KLB Solo.
Mengetahui hal itu, PSSI tengah melobi FIFA agar Indonesia terhindar dari sanksi.
"Saya bersama tiga anggota PSSI akan datang ke Jepang untuk melakukan konsultasi dengan FIFA sekaligus menjelaskan duduk masalah di Indonesia," kata Djohar.
Kedatangan mereka sebenarnya merupakan suatu agenda tahunan untuk menghadiri babak semifinal dan final Piala Konfederasi. Tapi Djohar mengaku akan memanfaatkan kesempatan itu untuk melobi FIFA.
"Kami akan memanfaatkan situasi itu untuk melaporkan situasi persepakbolaan Indonesia," jelas Djohar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




