Disanksi FIFA atau Tidak, yang Penting Tak Ada Lagi Dualisme di Sepakbola

Kamis, 13 Desember 2012 | 21:37 WIB
AS
B
Penulis: Ami Afriatni/ Didit Sidarta | Editor: B1
Rita Subowo
Rita Subowo (GA Photo)
Kami terus mengupayakan agar ada rekonsiliasi cepat dengan kedua belah pihak untuk mengantisipasi hasil apapun dalam rapat exco (komite eksekutif) besok. Kami ingin ini cepat selesai."

Jelang keputusan FIFA atas nasib sepakbola tanah air, Jumat besok, pemerintah terus mengupayakan segala cara untuk menangani kisruh yang telah menghantui cabang olahraga ini selama beberapa tahun terakhir.

"Sebagai federasi internasional, FIFA punya kekhawatiran akan adanya sanksi. Karena itu FIFA berkirim surat kepada Indonesia  terkait kemungkinan sanksi dalam rapat komite eksekutif FIFA besok. Ada atau tidaknya sanksi, kami berharap kisruh sepakbola nasional bisa  segera selesai. Masyarakat juga pasti ingin segera selesai. Karena  akibat kisruh ini sangat buruk terhadap prestasi sepakbola kita," kata Rita Subowo, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dalam jumpa pers yang digelar di kantor Kementerian Negara Pemuda  dan Olahraga, hari ini.

Rita adalah juga ketua gugus tugas yang mengemban misi mengantisipasi kemungkinan  diberlakukannya sanksi terhadap sepakbola Indonesia. Gugus tugas ini disebutnya terus berkomunikasi dengan FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia dan AFC sebagai induk organisasi sepakbola Asia.

Menurut Rita, Acting Presiden AFC, Zhang Jilong, bahkan berencana berkunjung ke Indonesia untuk bertemu langsung dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait demi membahas permasalahan ini. Tak hanya itu, Presiden FIFA, Sepp Blatter, juga mengusahakan penyelesaian masalah sepakbola Indonesia.

"Yang penting tidak ada lagi dualisme. Kami terus mengupayakan agar ada rekonsiliasi cepat dengan kedua belah pihak untuk mengantisipasi hasil apapun dalam rapat exco (komite eksekutif) besok. Kami ingin ini cepat selesai," kata Rita.

Netral
Sementara itu, Anggota gugus tugas yang juga bekas Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, mengatakan pihaknya tengah  menyusun formula khusus untuk mencari win-win solution.

"Kalau masih ada dualisme, akan makin banyak kerugian yang diderita. Kami ingin cepat selesai demi bangsa," kata Agum.

Agum juga mengingatkan kepada semua pihak, terutama media, untuk tidak memperkeruh suasana.

"Kami harus menekankan di sini kami netral. Jangan ada kecurigaan terhadap task force," lanjutnya.

Tak  hanya Agum, Plt. Menteri Pemuda dan Olahraga, Agung Laksono, juga kembali menekankan bahwa gugus tugas yang dibentuk 11 Desember lalu merupakan  bentuk kehati-hatian pemerintah dalam penyelesaian masalah sepakbola yang sifatnya tidak intervensi.

"Ini juga bentuk perlindungan pemerintah terhadap aset nasional, yaitu sepakbola yang menjadi milik masyarakat," kata Agung.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon