Antrean Truk dari Pelabuhan Merak Capai Gerbang Tol Cilegon Timur
Sabtu, 12 Januari 2013 | 10:34 WIB
Angin kencang dan gelombang tinggi di Perairan Selat Sunda menyebabkan kapal roll on roll off (roro) mengalami kesulitan untuk sandar di dermaga.
Antrean ribuan kendaraan truk ekspedisi yang akan melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung, semakin panjang hingga mencapai 9 kilometer (km). Ekor antrean pada Sabtu (12/1) pagi sudah mencapai gerbang tol Cilegon Timur.
Antrean truk ini disebabkan angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi di Perairan Selat Sunda. Akibatnya, kapal roll on roll off (roro) mengalami kesulitan untuk sandar di dermaga.
Selain itu, saat berlayar kapal harus melewati gelombang yang tinggi, sehingga waktu berlayar dari Merak menuju Bakauheni yang biasanya hanya 2 jam, kini menjadi 4 jam.
Manajer Pelayanan Pelabuhan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, Nana Sutisna mengatakan, antrean truk ini dikarenakan juga minimnya operasi kapal di Pelabuhan Merak.
"Jumlah kapal yang beroperasi baru 16 kapal. Dengan kondisi cuaca seperti ini, maksimal kapal yang beroperasi hanya 22 kapal," jelas Nana, Sabtu (12/1).
Nana juga mengaku, serbuan truk yang tertahan akibat banjir di jalan tol Tangerang-Merak, tepatnya di Km 57 sampai Km 59, menyebabkan antrean bertambah panjang.
"Kami hanya berharap cuaca di Perairan Selat Sunda cepat normal kembali, sehingga kapal roro yang dioperasikan bisa bertambah," jelasnya.
Di bagian lain, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Christine Hutabarat mengatakan, cuaca buruk telah mengganggu arus penyeberangan di beberapa lintasan di Indonesia, termasuk penyeberangan Merak-Bakauheni.
"Berdasarkan informasi yang kami terima dari BMKG, tinggi gelombang mencapai 3,5 hingga 4 meter, yang menyebabkan penyeberangan di beberapa lintasan terganggu, termasuk di Pelabuhan Merak," kata Christine.
Menurut Christine, sejak Rabu (9/1), PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak telah menutup Dermaga 4 dan 5. Hal itu karena ketinggian gelombang di dua dermaga tersebut mencapai 4 meter, dengan kecepatan angin mencapai 40 knot.
"Penutupan tersebut kami lakukan demi keselamatan penyeberangan," katanya.
Christine juga mengakui, penutupan dua dermaga itu akan berdampak pada timbulnya penumpukan kendaraan maupun penumpang. Untuk itu, dia mengharapkan para pengusaha kapal untuk mempersiapkan armada yang dibutuhkan, sesuai dengan rencana pola operasi saat cuaca buruk.
Antrean ribuan kendaraan truk ekspedisi yang akan melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung, semakin panjang hingga mencapai 9 kilometer (km). Ekor antrean pada Sabtu (12/1) pagi sudah mencapai gerbang tol Cilegon Timur.
Antrean truk ini disebabkan angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi di Perairan Selat Sunda. Akibatnya, kapal roll on roll off (roro) mengalami kesulitan untuk sandar di dermaga.
Selain itu, saat berlayar kapal harus melewati gelombang yang tinggi, sehingga waktu berlayar dari Merak menuju Bakauheni yang biasanya hanya 2 jam, kini menjadi 4 jam.
Manajer Pelayanan Pelabuhan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, Nana Sutisna mengatakan, antrean truk ini dikarenakan juga minimnya operasi kapal di Pelabuhan Merak.
"Jumlah kapal yang beroperasi baru 16 kapal. Dengan kondisi cuaca seperti ini, maksimal kapal yang beroperasi hanya 22 kapal," jelas Nana, Sabtu (12/1).
Nana juga mengaku, serbuan truk yang tertahan akibat banjir di jalan tol Tangerang-Merak, tepatnya di Km 57 sampai Km 59, menyebabkan antrean bertambah panjang.
"Kami hanya berharap cuaca di Perairan Selat Sunda cepat normal kembali, sehingga kapal roro yang dioperasikan bisa bertambah," jelasnya.
Di bagian lain, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Christine Hutabarat mengatakan, cuaca buruk telah mengganggu arus penyeberangan di beberapa lintasan di Indonesia, termasuk penyeberangan Merak-Bakauheni.
"Berdasarkan informasi yang kami terima dari BMKG, tinggi gelombang mencapai 3,5 hingga 4 meter, yang menyebabkan penyeberangan di beberapa lintasan terganggu, termasuk di Pelabuhan Merak," kata Christine.
Menurut Christine, sejak Rabu (9/1), PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak telah menutup Dermaga 4 dan 5. Hal itu karena ketinggian gelombang di dua dermaga tersebut mencapai 4 meter, dengan kecepatan angin mencapai 40 knot.
"Penutupan tersebut kami lakukan demi keselamatan penyeberangan," katanya.
Christine juga mengakui, penutupan dua dermaga itu akan berdampak pada timbulnya penumpukan kendaraan maupun penumpang. Untuk itu, dia mengharapkan para pengusaha kapal untuk mempersiapkan armada yang dibutuhkan, sesuai dengan rencana pola operasi saat cuaca buruk.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




