Habibie: tirulah Singapura

Selasa, 7 Juni 2011 | 06:10 WIB
AT
B
Penulis: Agus Triyono | Editor: B1

Sekarang ini zaman produktivitas, bukan zaman nasionalisme.

Mantan presiden RI, Bacharuddin Jusuf Habibie mengajak pemuda Indonesia untuk meniru Singapura karena walaupun sebagai negara kecil, Singapura memiliki kultur kemajuan luar biasa.

"Saya memang selalu memberi contoh Singapura, meskipun kecil di peta dunia tapi memiliki kultur kemajuan luar biasa. Oleh karena itu tirulah dia," kata Habibie dalam ceramahnya di Gedung Konferensi Al Azhar, Kairo, yang dihadiri sekitar 1.500 mahasiswa Indonesia, Senin petang waktu Kairo.

Dipandu Duta Besar RI untuk Mesir Abdurrahman Muhammad Fachir, Habibie menjelaskan bahwa pujiannya kepada Singapura itu pernah disalahtafsirkan sehingga seolah-olah saya melecehkan Singapura.

"Saya sama sekali tidak pernah melecehkan Singapura, tapi pernyataan saya disalahtafsirkan," katanya.
 
Habibie pernah mengemukakan istilah "little red dot" [titik merah kecil] di peta dunia, dan ucapannya sempat menimbulkan "perang dingin" antara Singapura dan Jakarta, ketika Habibie menjabat presiden RI.

Dampak pernyataan Habibie, Singapura kemudian terlambat menyampaikan selamat kepada Habibie saat dia dilantik sebagai presiden RI 21 Mei 1998.
 
Habibie berkunjung ke Mesir atas undangan Program Pembangunan PBB [UNDP] untuk berbicara dalam soal demokrasi bersama sejumlah tokoh reformasi dari berbagai negara termasuk mantan ketua MPR, Amien Rais.

Nasionalisme adalah masa lalu
Dalam ceramahnya selama lebih kurang dua jam, Habibie mengetengahkan beragam persoalan dan visinya mengenai masa depan Indonesia.

Habibie, yang menyebut dirinya "eyang" atau kakek di depan para mahasiswa itu, mengisahkan pengalamannya ketika ditanya seorang pemuda Indonesia tentang nasionalisme.

"Bung, sekarang ini zamannya produktivitas bukan lagi mempersoalkan nasionalisme, itu bagian dari masa lalu di tahun 1928," kata Habibie mengulang jawabannya kepada mahasiswa itu.

"Saya ini meskipun bersekolah dan pernah berkarir di Jerman, tapi darah daging saya tetap orang Indonesia, saya ke mana-mana, paspor saya tetap paspor Indonesia," katanya.

Menurut Habibie, Indonesia dapat disegani dunia internasional bila mampu bersaing dengan negara maju lewat keunggulan produktivitas dan bukan karena nasionalismenya.
Globalisasi adalah VOC ganti baju
Dia karena itu mengingatkan pemuda Indonesia agar berhati-hati terhadap gelombang globalisasi.

Habibie berpendapat, globalisasi hanya menguntungkan negara maju yang berhasil memasarkan produk-produk mereka di pasar internasional, sehingga membuat negara Dunia Ketiga tetap miskin dan hanya menjadi konsumen, bukan produsen.

"Globalisasi itu tak ubahnya seperti VOC yang berganti baju," ujar Habibie, merujuk pada kompeni monopoli Belanda di masa penjajahan.

Dia mengemukakan, bila Indonesia ingin maju, maka harus menguasai industri strategis, terutama menyangkut dirgantara dan maritim.

Oleh karena itu, Habibie merasa terpanggil untuk kembali membangun PT Dirgantara Indonesia dan PT PAL.

Habibie juga mengungkapkan keprihatinannya atas visi beberapa kalangan yang hanya sekadar mencari keuntungan sesaat, dan bukan kemandirian.

"Visi dan misi utama industri strategis adalah kemandirian bangsa, jadi tidak sekadar mencari keuntungan sesaat seperti VOC," paparnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon