Mahasiswa Yogyakarta Ciptakan Beton Antikorosi dari Kaleng dan Baterai
Rabu, 20 Agustus 2025 | 10:42 WIB
Bantul, Beritasatu.com – Inti keawetan sebuah bangunan terletak pada kekuatan tulangan baja di dalam beton. Namun, banyak bangunan rapuh akibat korosi pada tulangan baja. Menyadari hal itu, sekelompok mahasiswa Teknik Sipil dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan solusi inovatif. Dengan bermodal limbah kaleng dan baterai, mereka mampu menciptakan beton antikorosi yang ramah lingkungan.
Menurut Muhammad Fauzan Abdillah, salah satu anggota tim peneliti, korosi pada beton merupakan masalah klasik akibat reaksi baja dengan lingkungan. “Kaleng dan baterai menjadi pilihan karena keduanya mengandung logam yang bisa melindungi baja dari korosi, yaitu aluminium dan zinc,” jelas Fauzan, Rabu (20/8/2025).
Bersama empat rekannya, yakni Naftali Zahra Athira, Monika Ayu Nelly Kusumawati, Satya Putra Ramadhan, dan Sausan Jilan Muthi'ah Izma, mereka menemukan bahwa logam pada kaleng dan baterai terbukti mampu melindungi baja.
Aluminium pada kaleng minuman bekas mengandung 70–80 persen logam, sementara zinc dari baterai lazim digunakan pada kapal laut untuk mencegah korosi.
Naftali menambahkan, ketika kedua limbah ini digabungkan, perlindungan terhadap korosi menjadi lebih optimal. “Selain itu, pemanfaatan limbah logam juga berdampak positif bagi lingkungan karena logam termasuk limbah yang sulit terurai,” ujarnya.
Dalam pengolahan, tim menggunakan metode SACP atau sacrificial anode cathodic protection. Proses dimulai dari pencucian kaleng dan baterai, dilanjutkan dengan penghancuran dan peleburan menggunakan boraks. Setelah menjadi logam murni, hasil peleburan dicetak rapi agar mudah dipasang di sudut-sudut beton.
Di bawah bimbingan dosen prodi teknik sipil UMY Pinta Astuti, tim yang menamakan diri AIZinix ini sedang menyiapkan benda uji untuk pengujian ketahanan antikorosi.
Pengujian dilakukan dengan metode pembacaan potensial untuk menentukan tingkat korosi, mulai dari kondisi terkorosi hingga bebas korosi.
“Riset kami berbeda dari sebelumnya karena menambahkan proses pemurnian. Hipotesisnya, jika anoda berasal dari kaleng dan baterai hasil pemurnian, maka grafik pembacaan potensial mendekati kondisi baja bebas korosi. Hasil penelitian nantinya akan dipublikasikan dalam artikel ilmiah,” terang Pinta.
Berkat ketekunan dan keseriusan dalam mengatasi masalah publik, inovasi ini berhasil lolos Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025 bidang Riset Eksakta dan mendapat dukungan dana Rp 7,5 juta dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Bagi pihak kampus, penelitian ini bukan hanya sekadar riset, tetapi juga edukasi bahwa limbah bisa diolah menjadi produk bermanfaat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




