Cap Go Meh di Manado Penuh Warna dan Toleransi
Rabu, 4 Maret 2026 | 05:03 WIB
Manado, Beritasatu.com — Perayaan Cap Go Meh di Sulawesi Utara menghadirkan suasana berbeda yang sarat nuansa budaya. Tidak hanya menjadi momen ibadah bagi umat Tionghoa, peringatan rangkaian Imlek 2577 ini juga menampilkan perpaduan harmonis antara tradisi Tionghoa dan kearifan lokal Minahasa, Selasa (3/3/2026).
Kawasan Kampung Cina Manado dipenuhi dominasi warna merah dan hitam. Di pelataran klenteng, aroma hio yang mengepul berpadu dengan hentakan langkah para penari Kabasaran, prajurit adat Minahasa, yang tampil gagah dengan busana merah dan senjata tradisional. Tarian perang tersebut dipentaskan sebagai simbol penjagaan sekaligus penolak energi negatif.
Kehadiran Kabasaran di depan gerbang klenteng menjadi penanda kuatnya toleransi dan penghormatan lintas budaya. Atraksi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan lambang perlindungan bagi umat yang menjalankan ibadah.
Suasana makin semarak dengan alunan musik bambu khas Minahasa. Kelompok musik tiup itu membawakan lagu-lagu bernuansa Imlek dalam balutan aransemen tradisional, menciptakan atmosfer hangat di tengah keramaian. Kolaborasi barongsai yang atraktif dengan musik bambu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Semangat “Sitou Timou Tumou Tou” yang berarti manusia hidup untuk memanusiakan sesama terasa nyata dalam perayaan ini. Perbedaan budaya justru menjadi perekat persaudaraan di Tanah Nyiur Melambai.
Ketua Klenteng Ban Hing Kiong, Jemmy Binsar, menjelaskan hari ke-15 setelah Imlek atau Cap Go Meh merupakan momentum sakral bagi umat Tridharma untuk memanjatkan doa.
“Hari ini umat Tridarma diberi kesempatan untuk bermohon doa kepada Tuhan untuk keberkatan dan keselamatan umat manusia,” ujar Jemmy di sela prosesi.
Ia meyakini pada puncak perayaan tersebut terdapat makna penyelarasan alam agar kehidupan kembali tertib dan seimbang.
“Kami sangat yakin pada hari ini Tuhan mengutus para malaikat turun ke dunia dalam rangka penyelarasan alam, agar rakyat sejahtera, sandang pangan tercukupi, dan negara aman damai,” tambahnya.
Rangkaian Cap Go Meh juga diramaikan ritual Tangsin, prosesi yang dinantikan masyarakat. Para Tangsin mendatangi titik-titik sembahyang untuk memberikan pemberkatan dan diyakini mampu membersihkan lingkungan dari pengaruh buruk.
“Maksud kunjungan itu adalah agar hawa-hawa negatif dan gangguan halus yang berpikiran negatif itu bisa diusir,” tegas Jemmy.
Kemeriahan ini turut menarik perhatian wisatawan asing. Dua turis asal Belanda, Murielle dan Nils, mengaku tak menyangka bisa menyaksikan langsung penutupan Imlek di Manado. Sebelumnya, keduanya menikmati keindahan bawah laut Bunaken sebelum diajak pemandu wisata menuju pusat perayaan.
“Kami baru saja tiba dari Bunaken dan sebenarnya tidak tahu tentang acara ini. Pemandu kami yang mengajak ke sini karena ingin menunjukkan apa yang sedang terjadi di Manado saat penutupan Tahun Baru Imlek,” kata Murielle.
Ia menggambarkan suasana Cap Go Meh di Manado sebagai momen yang penuh warna dan kebahagiaan.
“Sangat indah! Semuanya penuh warna dan saya melihat semua orang berada dalam suasana hati yang bahagia,” ungkapnya.
Setelah singgah sehari di Manado, keduanya berencana melanjutkan perjalanan ke Cagar Alam Tangkoko di Bitung. Mereka dijadwalkan menjelajahi Sulawesi selama enam minggu. “Kami benar-benar menikmati perjalanan ini,” tutup Murielle.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus bersama jajaran pemerintah daerah juga hadir menyaksikan Parade Cap Go Meh 2577 yang berlangsung meriah dan penuh makna tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




