ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pakar: Varian Delta Berbahaya untuk Keselamatan Masyarakat

Sabtu, 19 Juni 2021 | 20:35 WIB
MB
B
Penulis: Maria Fatima Bona | Editor: B1
Seorang pejalan kaki yang mengenakan penutup wajah berjalan melewati tanda untuk walk-in pusat pengujian Covid-19 di Blackburn, barat laut Inggris pada Rabu 16 Juni 2021. Pemerintah Inggris pada Senin mengumumkan penundaan empat minggu untuk pencabutan pembatasan virus corona di Inggris karena lonjakan infeksi yang disebabkan oleh Delta.
Seorang pejalan kaki yang mengenakan penutup wajah berjalan melewati tanda untuk walk-in pusat pengujian Covid-19 di Blackburn, barat laut Inggris pada Rabu 16 Juni 2021. Pemerintah Inggris pada Senin mengumumkan penundaan empat minggu untuk pencabutan pembatasan virus corona di Inggris karena lonjakan infeksi yang disebabkan oleh Delta. (AFP/Oli SCARFF)

Jakarta, Beritasatu.com - Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan,  varian B1617 atau varian Delta asal India memang tidak berdampak pada keparahan kasus. Namun, varian baru itu sangat berdampak pada kecepatan penularan.

Ini tentunya akan berisiko bagi orang-orang yang bergejala berat yang bisa menyebabkan kematian.

"Jadi varian ini mengkhawatirkan karena cukup berbahaya dengan situasi surveilans kita lemah. Orang semakin cepat terpapar virus dan semakin cepat menularkan," kata Hermawan saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (19/6/2021).

Hermawan menambahkan, selain varian Delta yang menyebabkan penularan sangat cepat, ada juga varian lain yang masih dalam tahap penelitian untuk memastikan apakah ada yang menyebabkan keparahan kasus atau hanya pada kecepatan penularan.

ADVERTISEMENT

"Keparahan kasus dan kecepatan penularan ini dua hal yang berbeda. Tetapi yang pasti untuk saat ini mutasi virus ini meningkatkan kecepatan penularan. Itulah yang menyebabkan di India kolaps," ucapnya.

Hermawan menyebutkan, peningkatan kasus yang sangat tinggi pada situasi 3T yakni testing, tracing, dan treatment masih lemah, tentu akan banyak kasus yang tidak tertangani dan menyebabkan tingginya angka kematian.

"Jadi namanya 3T itu lemah sekali, testing lemah, tracing lemah, dan treatment lemah. Apalagi sekarang hampir semua wilayah di Pulau Jawa sudah diatas 80% keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19. Berarti menunggu saja bisa jadi banyak pasien tidak terawat dan kematian bisa juga bertambah signifikan," pungkasnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Varian Covid-19 Cicada Muncul di Banyak Negara, Ini Gejalanya

Varian Covid-19 Cicada Muncul di Banyak Negara, Ini Gejalanya

LIFESTYLE
Varian Baru Covid-19 Stratus Muncul, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai

Varian Baru Covid-19 Stratus Muncul, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai

LIFESTYLE
Dokter Paru Minta Pemerintah Modifikasi Vaksin Covid-19

Dokter Paru Minta Pemerintah Modifikasi Vaksin Covid-19

LIFESTYLE
Kasus Covid-19 Naik Lagi, Pakar UGM: Jangan Anggap Remeh Varian Baru

Kasus Covid-19 Naik Lagi, Pakar UGM: Jangan Anggap Remeh Varian Baru

NASIONAL
Waspada Covid-19 Naik Lagi, Wali Kota Malang Ingatkan Pakai Masker

Waspada Covid-19 Naik Lagi, Wali Kota Malang Ingatkan Pakai Masker

JAWA TIMUR

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon