Sebagian Besar Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Mengalami Asfiksia
Kamis, 6 Oktober 2022 | 23:03 WIB
Malang, Beritasatu.com - Sebagian besar korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan mengalami asfiksia atau kondisi ketika kadar oksigen dalam tubuh berkurang. Korban luka maupun meninggal juga rata-rata mengalami patah tulang maupun trauma di kepala maupun toraks.
Hal itu diungkapkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam jumpa pers di Malang, Jawa Timur, Kamis (6/10/2022), terkait tragedi Kanjuruan.
Seperti diberitakan, kericuhan terjadi seusai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022).
Penonton yang terdiri dari para suporter Arema FC turun ke lapangan sehingga aparat kepolisian dan TNI berusaha menghalau. Namun, polisi justru menembakkan gas air mata ke arah di tribun sehingga penonton yang terdiri dari orang dewasa pria dan wanita juga anak-anak, berhamburan mencari jalan keluar.

Pemain Arema FC menangis saat melakukan tabur bunga.
Pada saat yang sama pintu stadion masih belum dibuka sehingga terjadi saling berdesakan dan ada yang terinjak. Hingga Kamis (6/10/2022) dilaporkan terdapat 131 korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan ini. Tragedi ini tercatat sebagai insiden olahraga paling mematikan kedua di dunia.
Pada jumpa pers tersebut Kapolri memaparkan kronologi tragedi Kanjuruhan. Awalnya, beberapa penonton masuk ke lapangan setelah peluit akhir laga yang dimenangkan Persebaya 3-2 tersebut.
Tim keamanan kemudian melakukan pengamanan, khususnya kepada pemain dan ofisial Persebaya, dengan menggunakan empat kendaraan taktis baracuda.
Proses evakuasi berjalan cukup lama hampir sejam karena sempat terjadi kendala, yakni pengadangan. Namun evakuasi yang dipimpin langsung Kapolres Malang bisa berjalan lancar.
Sementara itu, di dalam stadion penonton banyak yang turun ke lapangan. Beberapa anggota kemudian mulai melakukan kegiatan-kegiatan penggunaaan kekuatan.

Sejumlah pemain dan official Arema FC menaburkan bunga di depan patung Singa Tegar kawasan Stadion Kanjuruhan.
"Seperti yang kita lihat ada yang menggunakan tameng, termasuk ketika mengamankan kiper Arema FC, Adilson Maringa," Kapolri menembahkan.
Dengan semakin bertambahnya penonton yang turun ke lapangan, 11 personel keamanan menembakkan gas air mata. Tujuannya untuk menghalau penonton dan mencegah penonton lain turun ke lapangan. Namun hanya tiga gas air mata yang ditembakkan di lapangan. Sebanyak delapan tembakan lainnya justru mengarah ke tribun penonton.
"Tembakan inilah yang kemudian mengakibatkan para penonton terutama dari tribun kemudian panik, rasa pedih, dan kemudian berusaha meninggalkan tribun," ungkap Kapolri.

Presiden Jokowi menjenguk korban.
Penonton yang terdiri dari orang dewasa dan anak ini berhamburan mencari jalan keluar khususnya di pintu 3, 11, 12, 13, dan 14. Mereka mengalami kendala. Pintu stadion belum dibuka sehingga terjadi saling berdesakan dan ada yang terinjak.
Menurut Kapolri, berdasarkan aturan terdapat 14 pintu yang seharusnya lima menit sebelum pertandingan berakhir seluruh pintu tersebut dibuka. Namun saat itu pintu tidak sepenuhnya dibuka, yakni hanya terbuka 1,5 meter dan para penjaga tidak berada di tempat.
"Seharusnya lima menit sebelum pertandingan usai, pintu stadion sudah dibuka. Selain itu penjaga atau steward tidak berada di tempat pada saat kejadian. Berdasarkan Pasal 21 Regulasi Keselamatan dan Keamanan PSSI, penjaga seharusnya berada di tempat selama penonoton belum meninggalkan stadion," kata Jenderal Listyo Sigit.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




