Banyak Remaja Curhat ke Chatbot AI, Orang Tua Harus Bagaimana?
Kamis, 24 Juli 2025 | 11:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Semakin banyak remaja yang kini menggunakan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai teman curhat dan tempat mencari dukungan emosional.
Namun, para pakar memperingatkan bahwa penggunaan AI companion atau teman digital secara berlebihan bisa berdampak buruk pada kesehatan mental remaja. Mereka khawatir teknologi ini menggantikan interaksi sosial yang nyata, apalagi belum ada regulasi yang cukup untuk melindungi penggunanya, terutama anak-anak.
Dilansir dari AP, Kamis (24/7/2025), berikut langkah yang bisa dilakukan orang tua agar interaksi anak dengan teknologi AI tidak sampai kebablasan:
Mulai percakapan dengan anak tanpa menghakimi
Coba tanya dengan santai, misalnya, ‘Kamu pernah dengar AI companion?’ atau ‘Kamu pakai aplikasi ngobrol seperti teman?’” kata Michael Robb, peneliti di Common Sense Media. Menurutnya, penting untuk mendengarkan dahulu alasan anak, sebelum menyampaikan kekhawatiran.
Jelaskan perbedaan antara hubungan nyata dan AI
Chatbot memang selalu setuju dan mendukung, tetapi persahabatan sejati melibatkan pendapat berbeda yang membantu kita berkembang.
“Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya apa yang ada di layar, tetapi waktu yang hilang dari hubungan nyata. Kita harus ajarkan bahwa AI hanya hiburan, bukan kenyataan," ujar Kepala Psikologi di American Psychological Association (APA), Mitch Prinstein.
Waspadai tanda keterikatan berlebihan
Apabila anak lebih memilih ngobrol dengan AI ketimbang teman nyata, menghabiskan waktu berjam-jam, atau stres saat tidak bisa mengakses AI, ini bisa jadi sinyal bahaya.
“Itu artinya AI sudah menggantikan, bukan lagi melengkapi hubungan manusia,” jelas Robb.
Buat aturan penggunaan AI di rumah
Seperti aturan screen time atau media sosial, orang tua perlu menetapkan kapan dan bagaimana anak boleh menggunakan AI. Apalagi banyak chatbot AI dirancang untuk dewasa dan bisa meniru interaksi romantis atau skenario sensitif lainnya.
Ingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan bantuan nyata
Anak perlu tahu bahwa chatbot tidak dirancang untuk menangani krisis seperti depresi, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lainnya. Dukungan nyata dari keluarga, teman, atau profesional tetap yang utama.
Perluas pengetahuan tentang teknologi AI
Banyak orang tua menyerah dan berkata, "Saya enggak paham teknologi ini". Sikap seperti itu bisa membuat anak enggan curhat karena takut disepelekan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




