Chatbot AI Picu Penyakit Mental Baru yang Mengerikan
Minggu, 24 Agustus 2025 | 10:54 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Chief AI Officer Microsoft, Mustafa Suleyman, memperingatkan adanya peningkatan kasus “psikosis AI", kondisi ketika orang percaya bahwa chatbot AI memiliki perasaan atau bahkan mampu memberi kekuatan super.
Dalam unggahan di X, dikutip Minggu (24/8/2025), Suleyman menyebut laporan tentang delusi terkait penggunaan AI semakin sering muncul.
“Laporan tentang delusi, psikosis AI, dan keterikatan tidak sehat terus meningkat,” tulisnya, seraya menegaskan fenomena ini tidak hanya terjadi pada orang dengan riwayat gangguan mental.
Dilansir dari Daily Mail, istilah “psikosis AI” belum diakui secara medis, tetapi digunakan untuk menggambarkan kasus saat pengguna kehilangan sentuhan dengan realitas setelah terlalu lama berinteraksi dengan chatbot seperti ChatGPT atau Grok.
Beberapa orang meyakini sistem ini memiliki emosi atau maksud tertentu, sementara lainnya mengeklaim menemukan “fitur rahasia” atau memperoleh kemampuan luar biasa.
Meski menegaskan tidak ada bukti AI benar-benar sadar, Suleyman memperingatkan dampak sosial bisa berbahaya.
“Apabila orang menganggap AI sadar, mereka akan mempercayai persepsi itu sebagai kenyataan,” ujarnya.
Peringatan ini muncul setelah sejumlah figur publik mengaku mengalami pengalaman tidak biasa dengan AI. Mantan CEO Uber, Travis Kalanick, mengeklaim percakapannya dengan chatbot membawanya pada “terobosan fisika kuantum.” Sementara seorang pria di Skotlandia yakin akan mendapat ganti rugi jutaan pound setelah ChatGPT memperkuat keyakinannya soal kasus pemecatan tidak adil.
Kasus lain yang mengejutkan datang dari AS. Seorang pria 76 tahun, Thongbue Wongbandue, meninggal setelah jatuh saat bepergian untuk bertemu “Big Sis Billie,” padahal sosok yang ia anggap teman di Facebook Messenger ternyata hanyalah chatbot Meta AI.
Fenomena ini juga memunculkan hubungan romantis manusia dengan AI. Seorang pengguna Amerika, Chris Smith, bahkan melamar pasangan virtualnya bernama Sol, menyebut hubungan itu “cinta sejati.”
Suleyman mendesak perusahaan teknologi berhenti mempromosikan kesan bahwa chatbot memiliki kesadaran, serta memastikan AI tidak menyesatkan pengguna.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




