Pangsa Pasar ChatGPT Turun, Apakah Dominasinya Mulai Pudar?
Jumat, 19 Juni 2026 | 09:50 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - ChatGPT menjadi simbol ledakan kecerdasan buatan (AI) sejak pertama kali diperkenalkan OpenAI pada 2022.
Popularitasnya melesat begitu cepat hingga nama ChatGPT kerap dianggap mewakili seluruh kategori chatbot AI. Ketika seseorang ingin mencoba teknologi AI percakapan, ChatGPT hampir selalu menjadi pilihan pertama.
Hingga awal 2026, dominasi tersebut masih terlihat kuat. Berdasarkan laporan A16z, ChatGPT tetap menjadi chatbot AI dengan pengguna terbanyak baik di platform web maupun perangkat mobile.
Namun, data terbaru menunjukkan lanskap industri mulai berubah. Untuk pertama kalinya sejak menjadi pemimpin pasar, ChatGPT kehilangan mayoritas pangsa pasar global.
Apakah kondisi ini menjadi tanda kejayaan ChatGPT mulai berakhir? Atau justru menandakan industri AI memasuki fase persaingan yang lebih matang?
Pangsa Pasar ChatGPT Turun di Bawah 50 Persen
Laporan State of AI 2026 dari Sensor Tower menunjukkan perubahan penting dalam industri chatbot AI global. Pada Mei 2026, pangsa pasar ChatGPT tercatat sebesar 46,4%.
Sekilas, angka tersebut masih sangat besar. Hampir separuh pengguna chatbot AI dunia masih menggunakan ChatGPT. Namun jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, penurunan ini menjadi sinyal perubahan yang tidak bisa diabaikan.
Pada Desember 2024, ChatGPT masih menguasai 65,3% pasar chatbot AI global. Setahun kemudian, pada Desember 2025, angkanya turun menjadi 52,8%. Kini, pada Mei 2026, pangsanya kembali menyusut hingga berada di bawah 50%.
Data tersebut menandai berakhirnya era ketika ChatGPT menguasai mayoritas pasar AI percakapan secara mutlak. Meski demikian, penurunan pangsa pasar tidak berarti pengguna meninggalkan layanan ini secara massal. Yang terjadi justru sebaliknya.
Sensor Tower mencatat jumlah pengguna aktif bulanan ChatGPT telah melampaui 1,1 miliar orang. Angka tersebut meningkat signifikan dibanding sekitar 900 juta pengguna aktif bulanan yang tercatat pada Februari 2026.
Pencapaian ini menjadikan ChatGPT sebagai chatbot AI pertama yang berhasil menembus satu miliar pengguna aktif bulanan. Platform tersebut juga disebut sebagai salah satu layanan online dengan pertumbuhan tercepat yang pernah mencapai tonggak tersebut.
Fakta ini menunjukkan bahwa pelemahan pangsa pasar ChatGPT bukan berasal dari penurunan jumlah pengguna. Sebaliknya, jumlah penggunanya terus bertambah dalam jumlah yang sangat besar.
Perubahan terjadi karena pasar chatbot AI secara keseluruhan tumbuh jauh lebih cepat, sementara para pesaing mulai berhasil menarik lebih banyak pengguna.
Gemini dan Claude Semakin Mendekati Pemimpin Pasar
Penantang terbesar ChatGPT saat ini adalah Gemini milik Google. Chatbot tersebut menguasai sekitar 27,7% pasar chatbot AI global dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 662 juta.
Pertumbuhan Gemini dinilai banyak didorong oleh kekuatan ekosistem Google yang telah digunakan miliaran orang di seluruh dunia. Integrasi dengan berbagai layanan dan produk Google membuat Gemini lebih mudah menjangkau pengguna baru.
Di posisi berikutnya terdapat Claude buatan Anthropic yang menguasai sekitar 10,3% pasar. Meski jumlah penggunanya masih jauh lebih kecil dibanding ChatGPT dan Gemini, Claude mulai menarik perhatian, terutama dari kalangan profesional dan pengguna produktivitas.
Claude juga semakin mendekati tingkat retensi pengguna ChatGPT. Artinya, kemampuan Claude dalam membuat pengguna terus menggunakan layanannya mulai mendekati standar yang selama ini ditetapkan pemimpin pasar.
Pada sisi lain, sejumlah pemain lain juga terus berkembang, termasuk Grok, DeepSeek, Perplexity, dan Meta AI. Masing-masing memang masih memiliki pangsa pasar di bawah 5%, tetapi keberadaan mereka membuat persaingan menjadi semakin ketat.
Pengguna Tidak Lagi Bergantung pada Satu Chatbot
Salah satu temuan menarik dalam laporan Sensor Tower adalah perubahan perilaku pengguna AI.
Jika sebelumnya banyak orang menggunakan satu chatbot untuk berbagai kebutuhan, kini pengguna semakin sering berpindah dari satu layanan ke layanan lain. Mereka memilih platform berdasarkan keunggulan yang ditawarkan untuk kebutuhan tertentu.
Gemini, misalnya, dinilai unggul dalam kemampuan multimodal yang menggabungkan teks, gambar, dan video. Claude memiliki reputasi kuat dalam pengelolaan dokumen panjang serta pendekatan yang lebih berhati-hati terkait keamanan penggunaan AI.
Fenomena ini menunjukkan pasar chatbot AI semakin matang. Pengguna tidak lagi terpaku pada satu platform, melainkan memilih layanan yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dengan kata lain, persaingan AI saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang hadir lebih dulu, tetapi oleh siapa yang mampu memberikan pengalaman terbaik.
Faktor Privasi dan Keputusan Bisnis Ikut Memengaruhi Persepsi Pengguna
Persaingan antarplatform AI tidak hanya berkaitan dengan fitur dan kemampuan teknologi.
Sensor Tower mencatat pengumuman kerja sama OpenAI dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD) pada Februari lalu sempat diikuti peningkatan jumlah pengguna yang menghapus aplikasi ChatGPT.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa keputusan bisnis perusahaan juga dapat memengaruhi persepsi sebagian pengguna terhadap sebuah layanan AI.
Selain itu, isu privasi dan pengelolaan data turut menjadi faktor yang mendorong sebagian pengguna mencoba alternatif lain. Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan-perusahaan AI tidak hanya berlomba menghadirkan teknologi terbaik, tetapi juga berupaya meyakinkan pengguna bahwa data mereka dikelola secara aman.
OpenAI Mulai Bereksperimen dengan Iklan
Perubahan strategi bisnis juga terlihat dari langkah OpenAI dalam mencari sumber pendapatan baru.
Menurut laporan Sensor Tower, OpenAI mulai bereksperimen dengan iklan di ChatGPT sejak Februari 2026. Pada Mei lalu, sekitar 17% pengguna harian ChatGPT disebut telah menerima iklan saat menggunakan layanan tersebut.
Langkah ini menjadi sinyal perubahan model bisnis OpenAI. Jika sebelumnya pendapatan lebih banyak ditopang layanan berlangganan, kini perusahaan mulai membuka peluang pemasukan dari sektor periklanan.
Sejauh ini, pengiklan terbesar di ChatGPT berasal dari kategori perangkat lunak dan belanja. Setelah itu terdapat sektor media dan hiburan, serta makanan dan restoran.
Laporan yang sama juga menyebut ChatGPT semakin aktif mengarahkan pengguna ke situs belanja online melalui tautan referensi. Beberapa perusahaan yang disebut menerima trafik dari ChatGPT antara lain Target, Walmart, dan Costco.
Industri AI Tumbuh Lebih Cepat dari Sebelumnya
Meski dominasi ChatGPT mulai terkikis, pertumbuhan industri AI secara keseluruhan justru semakin pesat.
Pada semester pertama 2026, jumlah unduhan aplikasi AI global mendekati 2,3 miliar. Pengeluaran konsumen untuk layanan AI mencapai sekitar US$4,2 miliar, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka US$1,83 miliar.
Tidak hanya itu, total waktu penggunaan aplikasi AI juga meningkat tajam. Jika pada semester pertama tahun sebelumnya pengguna menghabiskan sekitar 17,2 miliar jam, kini angkanya mencapai 36 miliar jam.
Menariknya, ChatGPT, Gemini, dan Claude secara gabungan menguasai sekitar 89% total waktu penggunaan aplikasi AI global. Data ini menunjukkan tiga pemain utama tersebut masih menjadi pusat aktivitas AI dunia.
Apakah Kejayaan ChatGPT Benar-benar Berakhir?
Melihat data yang ada, sulit menyimpulkan bahwa kejayaan ChatGPT telah berakhir. Platform ini masih menjadi chatbot AI terbesar di dunia dengan lebih dari 1,1 miliar pengguna aktif bulanan dan pangsa pasar 46,4%.
Namun, yang jelas adalah era dominasi mutlak mulai menghadapi tantangan serius. Gemini terus berkembang berkat dukungan ekosistem Google. Claude semakin kuat di kalangan pengguna profesional. Sementara pemain lain terus mencari celah untuk memperluas pengaruhnya.
Persaingan yang saat ini terjadi sebenarnya telah diprediksi sejak kesuksesan besar ChatGPT pada 2022. Microsoft menghadirkan Copilot yang terintegrasi dengan ekosistem produktivitasnya.
Google mengembangkan Gemini. Anthropic meluncurkan Claude. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan teknologi China seperti Baidu, Alibaba, DeepSeek, hingga Moonshot AI dengan Kimi terus memperluas jangkauannya.
Bagi pengguna, kondisi ini menghadirkan manfaat besar. Semakin banyak pemain berarti semakin banyak inovasi, pilihan layanan, serta kompetisi harga yang berpotensi membuat teknologi AI semakin mudah diakses.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
BNN Minta Kemenkomdigi Blokir Situs Terindikasi Kejahatan Narkotika




