Investasi Rp 680 Triliun, Mercedes Benz Siap Saingi Tesla Kembangkan Mobil Listrik
Minggu, 25 Juli 2021 | 06:11 WIB
London, Beritasatu.com - Mercedes Benz berencana menginvestasikan lebih 40 miliar euro (US$ 47 miliar) atau setara Rp 680 triliun hingga 2030 untuk menghadapi Tesla dalam pengembangan mobil listrik. Namun perusahaan memperingatkan pergeseran teknologi akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Perusahaan akan menggendeng mitra membangun delapan pabrik baterai saat meningkatkan produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV). "Mulai tahun 2025, semua platform kendaraan baru hanya akan membuat EV," kata mobil mewah Jerman tersebut Jumat (23/7/2021).
"Kami benar-benar ingin melakukannya dan menjadi dominan, pada akhir dekade ini semua produk Mercedes akan listrik," kata Chief Executive Ola Källenius kepada Reuters, menambahkan bahwa pengeluaran untuk teknologi mesin pembakaran tradisional akan mendekati nol pada tahun 2025.
Namun, Daimler yang akan berganti nama menjadi Mercedes-Benz sebagai bagian dari rencana untuk melepaskan divisi truknya akhir tahun ini, tidak memberikan tenggat waktu untuk mengakhiri penjualan mobil berbahan bakar fosil.
Beberapa produsen mobil seperti Volvo Cars milik Geely telah berkomitmen membuat semua produk listrik pada tahun 2030. Sementara General Motors Co bercita-cita mewujudkan semua produk sepenuhnya listrik pada 2035. Upaya pada produsen mobil ini berupaya untuk menutup kesenjangan dengan pemimpin industri, Tesla.
"Kita perlu menjauhkan perdebatan dari saat Anda membangun mesin pembakaran terakhir, karena itu tidak relevan," kata Källenius. “Pertanyaannya adalah seberapa cepat Anda dapat meningkatkan hingga mendekati 100% listrik dan itulah yang kami fokuskan.”
Uni Eropa mengusulkan larangan penjualan mobil bensin dan diesel mulai 2035 sebagai bagian langkah memerangi pemanasan global. Menjelang pengumuman Uni Eropa, produsen mobil telah mengumumkan serangkaian investasi besar mobil listrik. Awal bulan ini, Stellantis mengatakan akan menginvestasikan lebih 30 miliar euro pada tahun 2025 untuk pengembangan line up kendaraan listriknya.
Pangkas Pekerja
Di Mercedes-Benz, pergeseran 80% investasi dari mesin pembakaran konvensional ke teknologi plug-in hybrid pada 2019 dan 2026, akan berdampak langsung pada pekerjaan. EV memiliki komponen lebih sedikit sehingga tidak banyak membutuhkan pekerja daripada kendaraan bermesin pembakaran.
"Transformasi tenaga kerja kami merupakan keputusan sulit. Ya, secara keseluruhan kami harus mengurangi biaya (tenaga kerja)," kata Anggota Dewan Manajemen Mercedes-Benz dan Kepala Sumber Daya Manusia, Sabine Kohleisen.
Daimler mengatakan bahwa pada 2025 mobil listrik dan hibrida listrik akan mencapai 50% dari total penjualan. Adapun semua produk menjadi listrik diperkirakan terjadi pada tahun 2030.
Produsen mobil ini akan mengungkap tiga platform listrik andalannya yakni satu untuk jajaran mobil penumpang dan SUV, satu untuk van dan satu untuk kendaraan berperforma tinggi, yang akan diluncurkan pada tahun 2025.
Daimler juga mengakuisisi perusahaan Inggris YASA Limited untuk membantu mengembangkan motor listrik berkinerja tinggi.
Perusahaan mengatakan akan membangun 200 gigawatt jam (GWh) kapasitas sel baterai. Empat dari pabrik baterai barunya akan berada di Eropa dan satu di Amerika Serikat. Daimler mengatakan akan segera mengumumkan mitra Eropa baru untuk rencana produksi baterainya.
Daimler mengatakan sebagai bagian strategi elektrifikasinya, pihaknya akan membangun pabrik daur ulang baterai di Kuppenheim, Jerman, yang mulai beroperasi pada 2023.
Uni Eropa telah berupaya membangun kapasitas baterai untuk melawan dominasi produksi baterai Tiongkok. Pesaingannya Volkswagen AG berencana membangun setengah lusin pabrik sel baterai di Eropa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




